Tam Boen An
Tuhan Yesus, datang lah……
Tam Boen An : Yesus segera datang, itu pasti
Edy Prayitno : datang = kiamat kan pak ? Yesus gak tahu lo pak kapan kiamat datang ? betul pak
Tam Boen An : namun Anak Manusia akan datang menjemput orang2 pilihanNYA.
Edy Prayitno : siapa yg jemput pak , siapa jemput siapa ? Yesus turun karena diutus . yang mengutus masih ada di tahta ALLAH . jadi apakah Yesus juga ALLAH ??
Tam Boen An Anak Manusia datang di awan-awan, Dia ( ANAK MANUSIA = YESUS ) menyuruh malaikatNYA meniup sangkakala, dan menjemput anak-anak manusia. ingat: YESUS menyuruh malaikat. hanya ada di seluruh semesta alam dan surga yg bisa menyuruh malaikat yaitu Tuhan,
Edy Prayitno : Yesus menyuruh malaikatNya meniup sangkakala ?Nya disini siapa pak Yesus atau ALLAH ? he he ayatnya saya lupa mungkin bapak berkenan kasih ayatnya .
Tam Boen An : kata NYA adalah YESUS. ANAK MANUSIA adalah Yesus. anak-anak manusia adalah manusia kita adanya. coba baca matius 24 ayat 30 ,
Tam Boen An : coba kita berpikir, kalau ada malaikat disuruh, berarti, ada yg lebih berkuasa atas malaikat. malaikat itu adalah makhluk Surga, dan yg bisa menyuruh malaikat hanya Tuhan. coba berpikir sedikit sobat.
Edy Prayitno : mat 24:30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya…..kok ayat yg menyatakan Yesus menyuruh malaikat meniup sangkakala …gak ada pak ? Yesus turun sebagai yg diutus .
Tam Boen An : coba ayat 31, alkitab online ku ga bisa ku buka.
Edy Prayitno : 24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain…..IA disini belum jelas pak Yesus atau ALLAH ?
Tam Boen An begini saudaraku. Malaikat itu penghuni surga. disurga itu banyak malaikat. dan yang bisa menyuruh malaikat hanya Tuhan. nah, kalau Anak Manusia bisa menyuruh malaikat, lantas, sebagai apa itu YESUS namanya?????
Edy Prayitno Yg menyuruh Tuhan ALLAH atau Yesus ? ini yg belum jelas pak .
Tam Boen An : begini pak, sudah jelas disitu, Anak Manusia menyuruh keluar malaikatNYA. NYA adalah Anak Manusia. ANAK MANUSIA menyuruh MALAIKAT. ada kata milik” NYA”. malaikat itu milik ANAK MANUSIA. nah, posisi ANAK MANUSIA itu sebagai apa??? coba posting dulu ayat 29, alkitab online ku lagi bermasalah, ga bisa ku buka
Edy Prayitno : karena diayat selanjutnya Yesus mempertegas jika soal itu Yesus sama sekali tidak tahu yg tahu hanya ALLAH BAPA ….jadi kalau Yesus tahu kapan kiamat tiba dan memerintah malaikat meniup terompet ini akan bertentangan dengan ayat ke 36 ……
24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”…….bagaimana pak ?
Tam Boen An : satu-satu kita pelajari pak. ayat 29-31 dulu
Edy Prayitno : baik pak ….karena itu juga kelanjutan ayat 31 ….Ia disini siapa Yesus atau ALLAh …dan setelah kita baca ayat ke 36 ,akan menjadi jelas . bukan begitu pak >
Tam Boen An : nanti, ayat 36, saya jelaskan.
Edy Prayitno : baik pak ..silahkan bapak kupas ayat 31
Tam Boen An : nah, kalau yang memiliki malaikat itu Tuhan atau manusia??? dan yg berhak menyuruh malaikat itu Tuhan atau manusia. ???
Edy Prayitno : yang berhak memerintah malaikat itu Tuhan pak , betul itu
Tam Boen An : nah, YESUS menyuruh malaikat, dan pemilik malaikat itu adalah ANAK MANUSIA ( YESUS ). lantas itu apa pak kesimpulannya. baca ada kata milik “NYA”.
Edy Prayitno : sebentar pak ,kita kaji dulu …..coba saya munculkan lagi ayatnya : 24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain….nah Ia ini yg saya katakan belum jelas siapa ? apakah ALLAH atau Yesus . ini saya katakan bahwa Ia ini bukan Yesus tetapi ALLAH BAPA . kalau bapak baca kisah ini dari awal , yg bercerita siapa pak ? kan Yesus ….nah kalau Yesus berkata …..IA akan …..dst ….maka siapa yg dimaksud Ia oleh Yesus ini >?????apakah dirinya sendiri > atau Yesus menyebut Ia ini adalah ALLAH BAPA ? begitu pak ……
Tam Boen An : ANAK MANUSIA adalah Yesus. YESUS bercerita ttg diriNYA. baca kembali kata IA ( YESUS / ANAK MANUSIA )menyuruh. ada kata perintah. “suruh”. berarti yg menyuruh adalah Yang memerintah atas yg diperintah. lantas ada kata milik yaitu NYA. supaya apa malaikat disuruh??? I. Meniup Sangkakala, dan kedua: Menjemput umat pilihanNYA. jadi ada 2 tugas. meniup dan menjemput disuruh ANAK MANUSIA kepada malaikat. sekarang, HAK MENYURUH DAN PEMILIK MALAIKAT ITU SIAPA PAK???
Edy Prayitno : he he he saya agak mumet baca tulisan anda diatas …..bisa di perjelas dikit pak .
sekitar sejam yang lalu · Suka
Tam Boen An : sudah berulang kali saya jelaskan pak. masa mumet sih??
Tam Boen An : ok , alon2
ANAK MANUSIA itu sebutan utk YESUS. TUHAN lah yg menyuruh malaikat dan pemilik malaikat hanya TUHAN. benar ga???
Tam Boen An : baca ayat 31 tsb.
Edy Prayitno : he he he sekarang anda berkata Yesus = ALLAH ? betulkah
Tam Boen An : Edy Prayitno: aku mau anda yg menjawab dulu baik2 dari pertanyaanku diatas. siapa kah yg memerintah atas malaikat?? dan pemilik malaikat itu siapakah??? Tuhan kah??? atau siapa???
Edy Prayitno : kalau itu kan sudah saya jawab pak …itu betul Tuhan .
nah siapa yg memerintah malaikat meniup ? ini yg anda belum jelas jawabnya pak
Tam Boen An : nah, kalau ANAK MANUSIA yang menyuruh malaikat, dan pemilik malaikat adalah ANAK MANUSIA. Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya==ada kata milik, artinya: malaikat itu milik ANAK MANUSIA. nah, lantas itu disebut apakah ANAK MANUSIA itu pak?
Edy Prayitno : ini maksud anda ? coba anda perhatikan sekali lagi ayat ini
24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain…..Ia disini bukan Yesus menyebut dirinya sendiri pak …..tetapi Ia disini yg dimaksud Yesus adalah ALLAH BAPA …….karena dari kisah awal Yesus bercerita pada orang lain ,maka kalau Yesus berkata ………..Ia akan ……..dst ,maka Ia ini bukan Yesus pak …..bagaimana pak ?
Tam Boen An : Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya ===IA=ANAK MANUSIA. DAN malaikat itu milik Anak Manusia. dan ANAK MANUSIA menyuruh malaikat. lantas, ANAK MANUSIA disebut apa pak?
Edy Prayitno : anak tetap anak pak …Yesus tetap Yesus …tidak bisa menjadi ALLAH karena dasar nya gak ada .
Tam Boen An : Edy Prayitno: pak, jangan ngelantur menjawabnya. yg saya tanya, ANAK MANUSIA menyuruh malaikat, ANAK manusia pemilik malaikat. itu disebut apa pak??? apakah ANAK MANUSIA sebagai SETAN atau apa?? jujur pak, jangan kita tanya dasar nya apa, kita bicara matius 24:29-31 dan sampai 36, belum sampai kesimpulan akhir
Tam Boen An : IA itu ANAK MANUSIA.
Tam Boen An : kita belum ke kesimpulan. pelan2 kita bahas. kita bicara ANAK MANUSIA. itu dulu. pembahasan matius 24-29-31, dan sampai 36
nanti kita bicarakan siapa ANAK MANUSIA itu. kita membahas, bahwa ANAK MANUSIA menyuruh malaikat, dan ANAK manusia adalah pemilik malaikat. pernyataan kita diatas sepakat, kalau pemilik malaikat adalah TUHAN, dan menyuruh malaikat adalah Tuhan. benar ga?
Tam Boen An : nah, berarti anda setuju kalau ANAK MANUSIA yg menyuruh malaikat dan memiliki malaikat itu adalah TUHAN. benar bukan???
Edy Prayitno : he he he anda menggiring ke tempat yg salah pak , karena anda masih mengabaikan siapa ” Ia ” ini Yesus atau ALLAH …ini anda juga belum tegas menjawb. dan sekarang anda membuat pertanyaan seakan2 Ia ini adalah Yesus …..nah ini yg perlu di pertegas lagi pak
Tam Boen An : disitu tak ada kata Tuhan. Ia yg menyuruh malaikat , dan malaikat itu milik si IA yg menyuruh malaikat itu’
Edy Prayitno : nah siapa ” Ia ” ini ?
Tam Boen An : Edy Prayitno: kita bicara ANAK MANUSIA. belum kesimpulan, sebab ayat 36 aja belum sampai. pernyataan ANAK MANUSIA menyuruh malaikat, dan Malaikat itu milik si ANAK MANUSIA, dengan pernyataan: Tuhanla yang memiliki malaikat dan Tuhan lah yg memiliki malaikat.
Tam Boen An : Edy Prayitno: IA itu ANAK MANUSIA, baca ayat 29
ayat 30 maksudku
kita tak ada bicara kata “YESUS”. dan “TUHAN”. kata itu, sementara kita buat sebagai bahan analogi berpikir.
Edy Prayitno : ayat 30 juga tidak menyebutkan ” Ia ” ini siapa ?
Tam Boen An : Pada waktu itu ……TANDA ANAK MANUSIA………mereka melihat ANAK MANUSIA…….dengan segala kekuasaanNYA…( ANAK MANUSIA)
Edy Prayitno : sudahlah pak dari pada anda berputar2 itu itu saja …langsung saja ke ayat 36 …….karena sudah hampir jam 1 malam ,biar cepat kita selesaikan ini .
Tam Boen An : Edy Prayitno:Pada waktu itu ……TANDA ANAK MANUSIA………mereka melihat ANAK MANUSIA…….dengan segala kekuasaanNYA…( ANAK MANUSIA)====ayat 30 bicara ANAK MANUSIA. nah, IA itu adalah ANAK MANUSIA.
Edy Prayitno : kalau anda sedang berbicara dengan orang lain ………kemudian anda berkata : Ia akan datang , ia akan memerintah , dst ……….apakah Ia ini orang yg sedang berbicara atau orang lain ?
Tam Boen An : Edy Prayitno: jawab dengan jujur: Tuhan yg menyuruh malaikat, Tuhan yg memerintah malaikat. ANAK manusia menyuruh malaikat, Tuhan yg memerintah malaikat. pertanyaannya: ANAK manusia itu sebagai apa pak?
Edy Prayitno : anak manusia menyuruh malaikat ini yg tidak ada dalam kitab anda pak ?
Tam Boen An : itu ayat 36, menjelaskan bahwa Yesus berbicara hubungan Anak Manusia dan BAPA. anda menjawab sendiri siapa itu ANAK MANUSIA.
Tam Boen An : Edy Prayitno:Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya ===IA= ANAK MANUSIA, baca di ayat 30,
Edy Prayitno : anda memaksakan diri …menyamakan antara ayat 31 dengan ayat 30.
Ok saya ikuti ….katakan Ia ini adalah Yesus maka akan bertentangan dengan ayat 36 pak
Tam Boen An : Edy Prayitno: anda mengakui, kata IA=YESUS= Yang menyuruh malaikat=yang memerintah malaikat. Tuhan menyuruh malaikat, Tuhan memerintah malaikat. konklusinya: Yesus=ANAK MANUSIA = TUHAN.
Edy Prayitno
Orang menyuruh = berarti tahu kapan waktunya terjadi . tetapi jika Yesus menyuruh malaikat meniup …..maka ini bertentangan dengan ayat 24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”…………lihat Yesus tidak tahu , yang tahu hanya ALLAH BAPA ,jadi siapa yg memerintah malaikat meniup saat akan datangnya hari kiamat ? apakah Yesus ………….? tolong anda jawab pertanyaan saya inisesuai kitab anda .
Edy Prayitno : APakah Yesus tahu kapan saatnya terompet itu ditiup ?
anda gak perlu muter2 itu2 aja pak ….coba anda jawab pertanyaan saya diatas
Tam Boen An : Edy Prayitno:Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala ===YESUS menyuruh malaikat meniup sangakakala.
Edy Prayitno :Apakah Yesus tahu kapan saatnya terompet itu ditiup?
Yesus tahu tidak ?kapan meniup terompet ? jika Yesus yg menyuruh ?
Tam Boen : An kalau YESUS menyuruh meniup, apakah YESUS sadar atau tidak pak???
Edy Prayitno : ha ha ha …………..anda kebingungan pak
Tam Boen An : aku bertanya kembali pak, YESUS menyuruh, lantas apakah YESUS tau atau tidak, sedangkan DIA sendiri yg menyuruh, anda bisa menjawab sendiri.
saya tak kebingungan, cara menjawab saya aja yg bapak tak pahami
Tam Boen An : bukankah Yesus pernah juga berkata: apa yg keluar dari mulut Yesus itu adalah ucapan BAPA.
Edy Prayitno : oh sebentar kita selesaikan dulu ini ….bagaimana pak ? dengan ayat 36 …? masih mampu jawab pertanyaan saya ? karena anda belum menjawab dengan jelas .
Tam Boen An: saya sudah jawab pak, hubungan ayat 30 dan 36 itu ada pak. ANAK tak tau akan hari itu, namun, ANAK itu menyuruh malaikat meniup sangkakala, pertanyaan saya: kalau ANAK MANUSIA menyuruh malaikat, itu sadar atau tidak ??? dan bukankah apa yg keluar dari mulut ANAK itu yg keluar dari mulut BAPA.
Edy Prayitno : lho secara logika saja pak ….jika seorang tidak tahu kapan terompet itu akan ditiup …..apakah orang tersebuit bisa memerintah orang lain kapan saatnya terompet itu ditiup ?
Tam Boen An : kenyataan nya: ANAK menyuruh malaikat meniup sangkakala. sebagai Tugas sebagai ANAK, Yesus itu tak tau kapan hari itu, namun, Yesus sebagai BAPA, DIA tau akan hari itu. karena BAPA dan ANAK itu SATU.
Tam Boen An : tp, kesimpulan kita diatas tadi, kita sudah sepakat bahwa ANAK MANUSIA adalah TUHAN.
Edy Prayitno : Yesus sebagai Bapa ? kapan itu …ayat berapa ? kitab apa ?
Tam Boen An : sekarng kita bahas ayat 36, sebenarnya masih ada perlu dibahas ayat 29
Edy Prayitno : kenyataannya Yesus dan ALLAH BAPA itu beda pak …..Yesus gak tahu tetapi ALLAH BAPA Maha Tahu .
Tam Boen An : hanya sebagai fungsi saja pak. kalau dikaitkan dengan kitab YESAYA, YESUS itu ALLAH YANG PERKASA, BAPA YANG KEKAL.
14 menit yang lalu · Suka
Edy Prayitno ayat 36 sdh kita bahas pak ,dan bapak belum jawab pertanyaan saya dengan jelas
Tam Boen An : saya sudah jawab pak, anda bingung??? karena anda tak memahami cara orang israel menyebut Tuhan mereka itu adalah BAPA.
Tam Boen An : Edy Prayitno: Bapa, sebagai fungsi kedekatan antara anak dan bapak, kalau ANAK, sebagai fungsi penebusan dan penyelamatan. namun, Pribadi YANG ada adalah SATU.
Edy Prayitno : Apakah Yesus tahu kapan saatnya terompet itu ditiup?…mohon dijawab …?
Tam Boen An : besok disambung lagi pak, gw mau makan hokben dulu nih, baru dipesan tuh.
Edy Prayitno : anda juga belum mampu tunjukan ayatnya jika Yesus itu sebagai BAPA ? kapan , diayat berapa , kitab apa
Tam Boen An : Edy Prayitno: kan sudah saya katakan, Yesus sebagai Bapa, DIA tau, sebagai ANAK ( Penebus ) DIA tak tau.
Edy Prayitno : ayatnya ? jika Yesus sebagai BApa
Tam Boen An : Edy Prayitno: baca Yesaya 9:5, bahwa YESUS itu adalah Allah Yang perkasas dan BAPA yang kekal
Edy Prayitno : ayatnya …..gak ada pak !
Tam Boen An : Bapa itu sebutan Israel utk Tuhan. ANAK itu Tuhan yg sebagai Penebus.
Edy Prayitno : Jaman Yesaya Yesus belum ada pak …..kenapa kita harus membaca nubuatan ? sementara Yesus sudah ada dengan ajaran2 nya .
Tam Boen An : besok dilanjut pak.ok…..aku mau makan dan isitirahat, thx atas diskusinya. nanti kita bahas yg ayat 29 juga, sebab tadi tertinggal
Edy Prayitno : terima kasih waktunya pak
senang bisa sharing dengan anda ,maafkan jika ada kalimat yg kurang enak dari saya
Edy Prayitno : Selamat malam …
wah iya sudah setengah dua pagi yah ………selamat pagi kalau begitu













</a

196 tanggapan kepada “Dialog dengan ” Tam Boen An ” Apakah Yesus Yang Memerintah Malaikat Meniup Terompet Sangkakala…?”
Mandra
Oktober 12th, 2011 pukul 13:12
@Trans Ind
Anda : codex SANA yang ditemukan oleh para pakar mengindikasikan alquran tertua….tetapi bertentangan dengan codex usman….menurut islam mengapa kok bisa ada perbedaan?katanya usman itu standar….berarti semua alquran akan sama isinya dengan usman….tetapi jika islam mau jujur…tnyt hasil penelitian mengatakan codex Usman tidak sama dengan SANA codex[CODEX tertua alquran]….berarti versi usman yang ada sekarang tidak asli bro…jika asli seharusnya sama dong……mana mungkin katanya usman bentuk yang baku…kok bisa beda???
===> He he he… Bung Trans. Mushaf Al-Qur’an sebagai buku yang tertulis, bukan merupakan hal yang pokok dalam sistem ajaran Islam, Al-Qur’an bisa ‘hidup’ dan eksis dengan ada atau tanpa mushaf. Mushaf seperti yang anda lihat sekarang adalah buatan manusia, bentuk hurufnya sudah baku sejak abad 6H/9M, ketika Abu Aswad ad-Dualli menciptakan baris atas, bawah dan waw untuk mengindikasikan huruf hidup, sebelumnya tidak ada baris, namun sebagai kitab yang telah tersusun ayat dan suratnya, sudah dibakukan sejak jaman Khalifah Usman bin Affan, sekitar 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Susunan surat dan ayatnya juga tidak mengikuti kronologis turunnya ayat, Nabi Muhammad SAW sendirilah yang memerintahkannya, bahwa surat ini diletakkan setelah surat itu, ayat ini diletakkan diantara ayat itu.
===> Anda tahu, tahun berapa mushaf San’a dibuat? Apakah ada Alqur’an sebelum mushaf Utsmani? He he he…. Hanya untuk menguji anda bung… Anda faham tidak tentang kodifikasi Alqur’an… He he he… Jangan asal copas, tanpa tahu maksudnya…..
Anda : BUKTIKAN CODEX USMAN BENTUK BAKU ALQURAN!!
JIKA BENTUK BAKU ALQURAN ARTINYA SEMUA MUSSAF AKAN SAMA DENGAN ISI MUSSAF USMAN….
TETAPI SMUA DALIL YANG DITULIS OLEH NETTER ISLAM…RONTOK DENGAN CODEX SANA…..DIMANA CODEX SANA DIAKUI SEBAGAI ALQURAN TERTUA….YANG BARU-BARU INI DITEMUKAN…DAN MEMBUKTIKAN STANDAR MUSSAF USMAN JAUH BERBEDA DENGAN CODEX TERSEBUT…
KESIMPULAN=>JACK EN MANDRA..NGAPAIN ANDA TULIS TULISAN SEABREK TULISAN GA BERMUTU…BUKTIKAN CODEX USMAN STANDAR!SAMAKAH DENGAN CODEX SANA????
RONTOK DEH TULISAN JACK…..
===> He he he… Barusan saya tulis di atas. Memangnya ada Mushaf Alqur’an yang lebih tua dari Mushaf Utsmani? Mau belajar tentang Islam jangan lewat Robert Morey bung. Belajar sama Mas Edy atau Ibu Irene Handono yang sudah menemukan keganjilan agama anda. Makanya mereka jadi mualaf. He he he…
Bunga
Oktober 12th, 2011 pukul 13:13
@ Bung Edy : Apakah situs ini adalah tandingannya situs yang didirikan oleh Ali Sinna???..klo memang benar, seharusnya anda juga koment di situsnya Ali Sinna tuh, krn banyak tulisan Ali Sinna yang mempertanyakan Muhammad, Islam dan Alluohnya… defends your faith in there sis….
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:14
JIKA ANDA MERAGUKAN KETERANGAN PARA PAKAR….SEHARUSNYA ANDA TUNJUKAN TULISAN SEMUA MUSSAF DAN TOLONG TUNJUKKAN BAHWA TIDAK ADA PERBEDAAN ANTARA MUSSAF USMAN DENGAN MUSSAF TERDAHULU….BISAKAH???TLG TUNJUKIN SECARA DIGITAL…..ARTINYA SECARA ONLINE….BISAKAH????YA UDAH LHA ANDA TIDAK MAU JUJUR…TERSERAH ANDA BOS…..YANG JELAS ALASAN PEMBAKARAN HANYA 1….AGAR MUSSAF YANG ADA TIDAK ADA PERBEDAAN……YANG JELAS BANYAK SAHABAT NABI MENENTANG VERSI USMAN….APALAGI HADIS DIMASUKKAN DI ALQURAN …Q 9:128 & 129=>BERASAL DARI HADIS….
==========>>>>
hehehe kan sudah saya berikan nama bukunya, kalau linknya saya tidak punya
tapi apakah anda bisa membuktikan bahwa mushaf usmani berbeda dengan mushaf yang lainnya, tapi anehnya anda malah jauh lebih percaya dengan kitab yang pengarangnya saja tidak jelas dan isinya jauh dari bisa dibuktikan
dan lagi tingkat bahasa yang dipakai hadis dan al quran saja sudah beda jadi ya mustahil bercampur ibarat buku bhs indonesia mau dicampur buku bhs inggris, mau dicampur macam apapun ya tetap akan ketahuan. dan saya ragu apakah anda tahu siapa Ali Bin Abi Thalib, Ali pernah berkata
“Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan” dan kami menyatakan “sebagai usulan yang sangat baik).”
Kemudian ‘Uthntan mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. “Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.” Hafsa lalu mengirimkannya kepada ‘Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-’As, dan ‘AbdurRahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, “Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur’an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AIQur’an telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa…
( Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 282)
dan tulisan latin kalau saya tidak salah dulunya juga tidak ada sapasi alias gandeng begitu juga tulisan jawa
________________________________________________________________
SHOHIH BUKHARI 6 no 510
Ketika Uthman ibn Affan berkuasa di bertemu dengan Khuzaimah ibn Thabit Al Anshori; Khuzaimah ibn Thabitt Al Anshari menceritakan perkataan Rasulullah (hadith) kepada Uthman ibn Affan. Uthman ibn Affan tertarik kepada Hadith tersebut dan memutuskan hadith tersebut dimasukan ke dalam Mushaf Abu Bakr.
Uthman ibn Affan mengirimkan utusan untuk mengambil ke dua Mushaf Abu Bakr dari Aisyah dan Hafsa; Uthman ibn Affan memasukan hadith tersebut ke dalam Mushah Abu Bakr yaitu Q 9:128 & 129 dan kemudian menamakan Mushaf Uthman ibn Affan.
============>>>>
beberapa hadis yang anda berikan sudah terbukti lemah kalau tidak ingin dikatakan palsu
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:20
@Mandra
wekekekekekeke betul2, orang liberal itu ibarat mau belajar bikin bakso tapi sama tukang sate
Bunga
Oktober 12th, 2011 pukul 13:22
@ Bang Jack : kok Bang jack gak koment di situsnya Ali Sinna?? koment dong bosss
@ Bang Mandra :..idem..kapan muncul di webnya Ali Sinna??
Ali Sinna menganjurkan agar para muslim untuk murtad lho, dengan menyampaikan kebenaran versi ali sinna…klo sdh koment aku dikasih tau ya, komentnya dimana… DEFENDS YOUR FAITH IN THERE BRO…
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:24
menurut mandra en jack….
CODEX USMAN ITU STANDAR…ARTINYA SEMUA CODEX AKAN SAMA DENGAN USMAN….LALU GMN NIH….CODEX SANA…KOK BISA ISINYA BERBEDA DENGAN USMAN???MANA YANG BENER NIH???
===========>>>>
hehehe kenapa juga kitab protestan dan katholik bisa beda jumlah dan kenapa juga anda menolak injil barnabas??
dan hal itu sudah saya bahas dengan teman anda M Jibril yang sekarang tidak tahu rimbanya
___________________________________________________________________
JK ALQURAN ITU ASLI…SEHARUSNYA SEMUA MUSSAF ITU SAMA STANDAR ISINYA…DAN SAAT USMAN MENYUSUN CODEX YANG KATANYA STANDAR DAN ASLI…KOK BISA ISINYA BEDA DENGAN CODEX SANA??MANA YANG BENER???JWB DEH……
===========>>>
apakah anda tahu apa itu codex sana?
hehehe jangan2 anda tidak tahu
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:27
TETAPI ALLAH YANG ESA YANG TAK NAMPAK ITU NUZUL…MENJADI ISA….DATANG SEBAGAI JURUSELAMAT….
Yud. 1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya.
=========>>>
lantas siapa yang dilihat dan didengar yesus ketika selesai dibaptis
dijawab dong sdr trans, minimal copasan juga tidak apa2
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:30
SATU DALAM HAL HAKEKAT DAN ESENSI……BUKTI TANTANGAN GUE BLM DIJAWAB TUH….ADA 5 TANTANGAN GUE BLM TERJAWAB BOS….
============>>>
hehehehehe lantas siapa yang didengar dan dilihat yesus ketika selesai dibaptis??
satu tantangan dari saya saja belum anda jawab dan sepertinya sampai ayam beranak sekalipun anda tidak aka mampu menjawabnya
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:38
@ Bang Jack : kok Bang jack gak koment di situsnya Ali Sinna?? koment dong bosss
@ Bang Mandra :..idem..kapan muncul di webnya Ali Sinna??
Ali Sinna menganjurkan agar para muslim untuk murtad lho, dengan menyampaikan kebenaran versi ali sinna…klo sdh koment aku dikasih tau ya, komentnya dimana… DEFENDS YOUR FAITH IN THERE BRO…
==========>>>>
berarti anda bukan murid ali zina yang baik, la wong ali zina sendiri ngakunya netral kok dan lagi bilangin dulu dunk kalau komeng itu jangan nunggu moderasi dari admin dulu, ntar yang nggak bisa dikontwer admin nggak dimunculin lagih n yang penting udah banyak blog lulusan FFI yang sudah almarhum
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:45
TETAPI SMUA DALIL YANG DITULIS OLEH NETTER ISLAM…RONTOK DENGAN CODEX SANA…..DIMANA CODEX SANA DIAKUI SEBAGAI ALQURAN TERTUA….YANG BARU-BARU INI DITEMUKAN…DAN MEMBUKTIKAN STANDAR MUSSAF USMAN JAUH BERBEDA DENGAN CODEX TERSEBUT…
=========>>>>
ayo deh sekarang juga kita adu keindahan bahasa dan kandungan isi codex sana dengan mushaf utsmani, berani tidak?
dan lagi ya atas dasar apa penetapan codex sana sebagai kitab tertua?
C14?? kuno bung trans, makhluk hidup yang masih hidup saja bisa berumur ribuan tahun dengan metode C14
_________________________________________________________________
KESIMPULAN=>JACK EN MANDRA..NGAPAIN ANDA TULIS TULISAN SEABREK TULISAN GA BERMUTU…BUKTIKAN CODEX USMAN STANDAR!SAMAKAH DENGAN CODEX SANA????
RONTOK DEH TULISAN JACK…..
===========>>>
ya dan ternyata hanya kata2 diatas saja yang bisa anda keluarkan
Jack
Oktober 12th, 2011 pukul 13:57
codex SANA yang ditemukan oleh para pakar mengindikasikan alquran tertua….tetapi bertentangan dengan codex usman….menurut islam mengapa kok bisa ada perbedaan?katanya usman itu standar….berarti semua alquran akan sama isinya dengan usman….tetapi jika islam mau jujur…tnyt hasil penelitian mengatakan codex Usman tidak sama dengan SANA codex[CODEX tertua alquran]….berarti versi usman yang ada sekarang tidak asli bro…jika asli seharusnya sama dong……mana mungkin katanya usman bentuk yang baku…kok bisa beda???
=========>>>
hehehehehe yang asli malah tidak tertulis sdr trans yang budiman
apakah anda akan terus beranggapan bahwa Al Quran jatuh dari langit??
dan apa dasar para pakar ( sejak kapan ilmuan barat menjadi ahli agama) menetapkan bahwa codex sana adalah benar
Mandra
Oktober 12th, 2011 pukul 14:16
@Trans Ind
Anda : SATU DALAM HAL HAKEKAT DAN ESENSI……BUKTI TANTANGAN GUE BLM DIJAWAB TUH….ADA 5 TANTANGAN GUE BLM TERJAWAB BOS….
===> Kalau anda katakan satu hakekat dan satu esensi, bagaimana dengan yang ini :
Yoh. 14:20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.
===> Ayat itu juga satu hakekat dan satu esensi bung Trans? Tuhan anda jadi bertambah dong. Dan juga yang ini :
1Yoh. 4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
Rm. 12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
===> He he he… Ternyata Tuhan anda bukan hanya Yesus dan Bapa, tapi manusia lain juga Tuhan anda bung…
Mandra
Oktober 12th, 2011 pukul 14:25
@Jack
He he he… Iya Mas….Si Trans lagi keblinger dia. Gak beda jauh dari si M. jibril. Mereka gak ngerti apa isi postingan yang di munculkan. Begitu ditanya balik gelagapan… HI hi hi…….
Mandra
Oktober 12th, 2011 pukul 14:28
@Bunga
@ Bang Jack : kok Bang jack gak koment di situsnya Ali Sinna?? koment dong bosss
@ Bang Mandra :..idem..kapan muncul di webnya Ali Sinna??
Ali Sinna menganjurkan agar para muslim untuk murtad lho, dengan menyampaikan kebenaran versi ali sinna…klo sdh koment aku dikasih tau ya, komentnya dimana… DEFENDS YOUR FAITH IN THERE BRO…
===> He he he trima kasih dech Mbakyu….Saya betah di sini. Buat apa masuk situs pecundang. Enak di sini gak ada moderasi….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 03:17
penduduk Kufah;iraq yang menganggap mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud sebagai al-Quran edisi
mereka (their recension of the Quran),[Mushaf Ibn Mas’ud misalnya tercatat tidak memuat surat-surat ke 1, 113, dan 114.]
Urutan surat juga berbeda, dimana surat pertama adalah al-Baqarah (surat Quran ke-2),
diikuti surat al-Nisa’ (surat ke-4), baru Ali Imran (surat-3), Al-A’raf (surat-7) dll.
Juga banyak ayat dalam Quran (yang sekarang ini) yang ternyata berbeda teksualnya,
misalnya dalam surat al-Baqarah saja tercatat tidak kurang dari 101 perbedaan
teks terhadap apa yang dihimpun Ibnu Mas’ud dari mulut Muhammad! Semua basmalah
dikeluarkan karena tidak dianggap wahyu. Sekalipun praktis tidak ada orang Muslim
yang mau mengambil resiko melawan arus dengan mengadopsi jejak-jejak mushafnya
Ibn Mas’ud (karena semua fragmen dan mushaf tandingan sebagai bukti kebenaran itu
sendiri telah termusnahkan akibat dari dekrit Utsman), namun integritas dan otoritas
keilmuan Ibn Mas’ud tidaklah bercacat sebagaimana yang terjadi pada diri Utsman.
Ia diakui sebagai fakih dan hafiz, guru dan qadi bagi penduduk Kufah. Ia senantiasa
menyertai Nabi dalam bepergian dan tidak absen dalam banyak peristiwa yang kritis.
Ia turut dalam sejumlah peperangan bersama-sama dengan Nabi (perang Badr, Uhud, Khandaq),
dan ikut sumpah setia Baiat ar-Ridwan di lembah Hudaibiyah, tahun 6 H. Dengan demikian
ketika wahyu-wahyu turun kepada Nabi yang memang tidak mengenal tempat dan waktu khusus,
maka Ibn Mas’ud-lah orang yang paling sempat dan mampu mencatatnya secara benar. Itu sebabnya beliau berani
bersumpah: “Demi Allah, tidak ada satu ayat pun dari Al-Quran tanpa kuketahui latar
belakang diturunkannya ayat tersebut. Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui
tentang Kitabullah dibanding aku. Meskipun begitu, aku bukanlah orang yang terbaik
diantara kalian.” (HR.Ahmad bin Hanbal)
Dia mengklaim mengetahui semua latar belakang diturunkan setiap ayat yang dicatatnya! Itu sebabnya dia berani menolak surat 113 dan 114 sebagai wahyu, karena latar belakang kedua surat tersebut diketahuinya sebagai sebentuk doa yang dipanjatkan Nabi untuk mendapatkan perlindungan Ilahi bagi kedua cucunya, Hasan dan Husen. Tidak berkata sembarangan, Ibn Mas’ud dan memang hanya dia yang sudah membuktikan otoritasnya dalam satu acara khusus dimana ia mendemontrasikan mengaji (tekstual) hingga lebih dari 70 Surat, dimana Nabi sendiri hadir, dan tidak ada seorang pun diantara hadirin yang menyalahkan pengajiannya (Sahih Muslim, vol 4, p.1312 ). Itu sedikitnya berarti bahwa kumpulan 70 surat tersebut adalah kanonik, shahih dihadapan Nabi dan proven bacaannya dihadapan publik! Dialah, dan bukan Zayd, Utsman, dll yang berani berkata apa seadanya:
Saya mendapatkan langsung dari Rasulullah 70 surat ketika Zayd masih remaja kanak-kanak. Apakah kini saya harus membuang apa yang saya peroleh langsung dari Rasulullah? (Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.15)
Jadi kenapa kelak Zayd dan Utsman tidak sedikitpun merujukkan ke-70 Surat kanonik tersebut ketika mereka berusaha membukukan Quran? Atau sedikitnya menyertakan pemiliknya duduk dalam Panitia Pembukuan Quran? Atau paling tidak menjadikannya “tempat berkonsultasi”, jikalau Muhammad sendiri pun sempat diperintahkan Allah untuk berkonsultasi kepada pembaca pembaca kitab Taurat dan Injil ketika beliau ada keraguan atau ketidak tahuan? (Qs.10:94;16:43).
Mengingat kapasitas Ibn Mas’ud ini, dan fakta bahwa jumlah surat dan ayat yang diturunkan di Mekah – dengan volume hampir 70 % dari total wahyu – adalah jauh lebih besar dari pada yang diturunkan di Medinah, jelaslah bahwa keabsahan mushaf Ibnu Mas’ud menjadi paling berwibawa. Tidak ada orang yang bisa membantah (kecuali menyembunyikan saja) bahwa dialah salah satu otoritas terbesar dalam al-Quran, dan tanpa tandingan untuk surat-surat Makkiyah!
Khalifah Umar bin al-Khattab dalam suratnya kepada penduduk Kufa secara konsekwen mengkonfirmasikan keteladanan dan ilmunya:
Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku mengutamakan Abdullah bin Mas’ud atas diriku. Maka tuntutlah ilmu darinya.
Ibnu Mas’ud ini bukan hanya di-qualified oleh Nabi, melainkan juga oleh Jibril menurut tradisi. Ia dikatakan turut hadir ketika Muhammad sedang me-review Al-Quran dengan Jibril setiap tahun; dan bahwa dialah yang telah berhasil mengumpulkan 90 Surat (Ibnu Sa’d, Kitab al-Tabaqat al-Kabir, vol.2, p 441, 457). Maka ketika ia masih menyaksikan kedua surat 113 dan 114 hadir sebagai bagian mushaf Utsmani, iapun berkata:
Jangan menulis ke dalam Quran apa yang bukan bagiannya!
SURAT Al-Fatihah =>TIDAK ADA DALAM MUSSAF INI…KARENA ADA KEJANGGALAN SBB:
-mengapa tuhan memuji dirinya sendiri????
_mengapa tuhan berdoa kepada dirinya sendiri,memohon perlindungan dan jalan yg lurus?????
JADI KESIMPULAN YANG ADA SEKARANG VERSI USMAN JAUH DARI ASLI BOS…..
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 03:21
MANAKAH YANG BENAR mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ATAU MUSSAF USMAN???
JELAS SEKALI SURAH 1;113;114 DITOLAK DALAM mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ….GMN TANGGAPAN UMAT ISLAM??ASLIKAH ALQURAN???JAUH DARI ASLI BOS…..JUJURLAH PADA DIRI SENDIRI….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 03:26
hehehehehe lantas siapa yang didengar dan dilihat yesus ketika selesai dibaptis??
___________
TUHAN TIDAK DAPAT DIBATASI DIMENSI BOS….PADA SAAT BERSAMAAN TUHAN DAPAT HADIR DALAM DIMENSI SECARA BERSAMA-SAMA….BAPA DAN ROH KUDUS YANG ADA DIDALAM DIRI ISA DAPAT HADIR SECARA BERSAMAAN……ITULAH BEDANYA MANUSIA DENGAN TUHAN….MANUSIA TIDAK BISA MENGHADIRKAN TUBUH,JIWA,ROH SECARA BERSAMAAN….UDAH GUE JAWAB NIH BOS….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 03:31
Belajar sama Mas Edy atau Ibu Irene Handono yang sudah menemukan keganjilan agama anda. Makanya mereka jadi mualaf. =>MEREKA JADI MUALLAF KARENA MEREKA TIDAK TAHU ISLAM BOS….BELAJAR TUH AMA ALI SINNA….TAHU PERSIS SEJARAH ALQURAN SPT APA…..DAN MEREKA TIDAK MENGENAL TUHAN YESUS SECARA PRIBADI….UDAH PANTASLAH MEREKA DIOMBANG-AMBINGKAN PENGAJARAN…..DAN MEREKA MURTAD DARI KRISTEN…..ITU WAJAR….KRN FIRMAN ITU TIDAK BERAKAR….
Mat. 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera MURTAD.
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 03:46
The History of The Qur’anic Text hal 215 – 230
APA YANG DISEBUT MUSHAF IBN MAS’UD DAN
TUDUHAN RAGAM BACAAN YG ADA DI DALAMNYA
Seperti dikatakan sebelumnya, Arthur Jeffery telah meneliti 170 jilid buku dalam mengumpulkan daftar ragam bacaan yang menghabiskan sebanyak sekitar 300 halaman dalam bentuk cetakan, memuat apa yang disebut mushaf milik sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Dari jumlah ini ia mencadangkan 88 halaman guna mengupas ragam bacaan yang, menurutnya, bermula dari Mushaf Ibn Mas’ud, sedang 65 halaman yang lain dari Mushaf Ubayy. Sedang selebihnya (140 halaman) khusus membahas dua puluh delapan ilmuwan yang lain. Adanya ragam bacaan dengan urutan tinggi yang ditudingkan terhadap Ibn Mas’ud secara tidak wajar, membuat Mushaf itu menarik untuk diteliti dengan lebih mendalam; beberapa anggapan Jeffery mengenai mushaf itu sebagai berikut.
Berbeda dengan Mushaf Uthmani dari sisi susunan surah,
Mengalami perbedaan teks,
Dan tidak memasukkan tiga surah.
la melempar semua tuduhan walau tak ada seorang manusia, termasuk sumber-sumbernya, yang pernah menyaksikan “Mushaf’ tersebut dengan semua ragam bacaan yang la katakan. Pada hakikatnya, tidak satu pun referensi yang dipakai menyebut keberadaan “Mushaf Ibn Mas’ud”; sebaliknya mereka menggunakan perkataan qara’a (membaca), dalam konteks bacaan “Ibn Mas’ud terhadap ayat tertentu”. Jika kita lihat secara sepintas terhadap sumber itu, maka akan dapat memunculkan dua bantahan secara spontan. Pertama, karena mereka tidak pernah menyatakan bahwa Ibn Mas’ud membaca dari naskah tertulis, maka kita dengan mudah menganggap bahwa ia membaca melalui hafalannya, dan bagaimana mungkin dapat kita menyimpulkan bahwa bacaan yang salah itu bukan disebabkan oleh ingatan yang meleset? Kedua, (hal ini pernah saya sampaikan sebelumnya), kebanyakan referensi Jeffery sama sekali tidak memiliki isnad yang menyulitkan untuk dapat diterima karena sumber itu tidak menawarkan sesuatu kecuali fitnah.
Membandingkan sebuah Mushaf yang dikaitkan dengan ilmuwan tertentu dengan Mushaf `Uthmani akan tak membawa faedah, kecuali dapat menunjukkan bahwa keduanya memiliki status yang sama, membuktikan kebenaran yang pertama dengan keyakinan yang kita miliki. lsi kandungan sebuah Mushaf, sama seperti hadith atau qira’at, yang hanya dapat diriwayatkan melalui cara yang ditentukan oleh para ilmuwan:
Sahih dengan keyakinan Sepenuhnya, atau
Meragukan, atau
Sama sekali palsu (baik karena kesalahan disengaja ataupun tidak di sengaja).
Katakanlah kebanyakan para murid Ibn Mas’ud (seperli al-Aswad, Masruy, ash-Shaibani, Abti Wa’il, al-Hamadani, ‘Alqamah, Zirr, dan lainnya) melaporkan satu pemyataan secara sepakat, maka jika dikaitkan dengan Ibn Mas’ud akan dianggap sah dan diterima. Jika sebagian besar dapat menyepakati, sementara satu atau dua orang murid yang terkenal meriwayatkan sesuatu yang berlainan, maka anggapan yang minoritas ini disebut “meragukan”. Jika yang minoritas terdiri dari para murid yang bernilai pas-pasan serta tak dikenal, tetapi pernyataan mereka menyalahi kesepakatan para murid yang ngetop, maka akan dimasukkan ke dalam kelompok ke tiga yang benar-benar palsu.
Guna menyatukan manuskrip, “kesamaan status” menjadi konsep yang sangat penting. Jika kita temukan dokumen tulisan tangan pengarang pertama, kedudukannya secara ilmiah dari naskah salinan yang dimiliki oleh para murid yang terkenal (apa lagi murid bayangan) akan secara otomatis hilang nilainya. Melakukan sebaliknya, atau menyamakan yang asli dengan duplikat dianggap sangat tidak ilmiah.1 Dengan memahami masalah ini, marilah kita hadapi tuduhan-tuduhan Jeffery.
1. Susunan Mushaf Ibn Mas’ud
Tak ada satu dari mereka yang hidup sezaman dengan Ibn Mas’ud menyebut Mushaf yang dimilikinya memuat susunan surah yang berlainan, isu itu muncul ke permukaan setelah beliau wafat. An-Nadim mengutip al-Fadl bin Shadhan, “Saya melihat susunan surah dalam Mushaf Ibn Mas’ud sebagai berikut: al-Baqarah, an-Nisa’, `Ali `Imran…[yaitu, tanpa al-Fatihah].”2 Seterusnya melalui komentar, an-Nadim menyebut bahwa secara pribadi, ia pemah melihat berbagai Mushaf yang dikaitkan kepada Ibn Mas’ud, akan tetapi ia tidak pemah melihat dua naskah yang mirip satu sama lain, ditambah lagi ia juga menemukan satu naskah di abad kedua Hijrah yang memuat surah al-Fatihah. Karena al-Fadl bin Shadhan terhitung memiliki wewenang keilmuan yang cukup terpandang dalam bidang ini, an-Nadim memutuskan lebih baik mengutip daripada mengutamakan observasi sendiri.3Komentar an-Nadim membuktikan bahwa mereka yang menganggap adanya kelainan pada Mushaf Ibn Mas’ud tidak dnp;u menyatakan secara pasti susunan surah yang sebenarnya, walau pada tahapan keyakinan yang paling minim.
Terdapat jumlah signifikan dari murid-murid yang terkenal yang belajar Shari’ah (hukum Islam dan fiqih) di bawah bimbingan Ibn Mas’ud dan meriwayatkan AI-Qur’an darinya. Mengenai Mushafnya, kita menemukan dua riwayat silang: yang pertama menyebutkan bahwa susunan surah berlainan dengan yang kita miliki, sementara yang lain mengatakan sama. Yang pertama gagal mencapai kesepakatan mengenai urutan surah, dan ternyata riwayat ke dua jauh lebih meyakinkan. Tentunya versi yang lebih konkret akan lebih menarik perhatian kita. AI-Qur’an memperjelas apa yang pernah ia lihat tentang Mushaf Ibn Mas’ud, Ubayy, dan Zaid bin Thabit, dan melihatnya tidak terdapat perbedaan.4
Melalui kesepakatan para qari profesional, mereka mengikuti nada bacaan salah satu dari tujuh qari yang memiliki urutan teratas: misalnya `Uthman, ‘All, Zaid bin Thabit, Ubayy, Abu Musa al-Ash’ari, Abu ad-Darda’, dan Ibn Mas’ud. Jaringan mata rantai riwayat bacaan mereka langsung sampai pada Nabi Muhammad , dan susunan surah pada tiap-tiap bacaan persis sama dengan AI-Qur’an yang ada sekarang. Kita juga mesti ingat, kalaupun kita memberi penilaian pada riwayat yang sumbang, perbedaan susunan surah tidak akan berpengaruh pada isi kandungan AI-Qur’an .5
Karena setelah menghafal sebagian besar dari AI-Qur’an secara langsung dari Nabi Muhammad, Ibn Mas’ud ternyata sangat kritis dan bahkan pernah berang saat tidak diikutsertakan dalam kepanitiaan penyiapan Mushaf ‘Uthmani, dengan melempar kecaman pedas yang membuat para Sahabat merasa gerah. Kemudian saat kemarahan mereda, bisa jadi juga ia telah menyatakan penyesalan atas komentarnya yang tergesa-gesa, dan lalu menyusun surah-surah dalam Mushaf pribadinya mengikuti urutan Mushaf ‘Uthmani. Barangkali inilah pemicu munculnya dua riwayat yang berseberangan, urutannya sama, namun berbeda dengan milik `Uthman, kendati yang tahu persis penyebabnya hanya Allah swt.. Penyimpangan yang mungkin terjadi pada kebanyakan “Mushaf Ibn Mas’ud” yang muncul setelah wafatnya, di mana satu sama lain tidak sama, menunjukkan bahwa seluruh Mushaf yang dikaitkan kepadanya dianggap satu kekeliruan, dan para ilmuwan yang melakukan hal itu tampaknya juga lalai dalam meneliti sumber-sumber yang ada. Sayangnya, para penjual barang-barang kuno itu, lebih suka melihat dari sisi keuntungan, gara-gara mementingkan kepingan fulus perak, berani membuat taruhan menamhah Mushaf palsu Ibn Mas’ud atau Ubayy ke atas barang dagangan mereka.6
2. Teks yang Berbeda dengan Mushaf Kita
Di atas, tadi sudah saya sebut perlunya kepastian tentang Mushaf Ibn Mas’ud. Ketika meneliti berbagai ragam bacaan, Abu Hayyan an-Nahawi menemukan kebaayakan riwayat dikaitkan dengan Ibn Mas’ud, mengambil sumber dari kelompok Syiah. Sementara para ilmuwan Sunni di sisi lain menyatakan bahwa bacaan Ibn Mas’ud senada dengan bacaan seluruh umat Islam.7Oleh karena itu, pengaruh dari sumber itu tidak dapat mengubah keyakinan dan pengetahuan kita. Pada halaman 57-73 Kitab al-Masahif (yang disunting oleh Jeffery), dalam bab “Mushaf `Abdullah bin Mas’ud,” kita mendapat koleksi ragam bacaan yang panjang itu, semuanya bersumber dari alA’mash (w. 148 H.). AI-A’mash bukan saja tidak memberi referensi untuk hal itu – dan yang lebih mengejutkan, kesukaannya melakukan tadlis (menggelapkan sumber infotmasi) – ia juga dianggap memiliki kecenderungan terhadap Syiah.8 Banyak contoh yang dapat menguatkan kesimpulan Abu Hayyan mengenai hubungan Syiah itu. Dalam bukunya, Jeffery mengaitkan bacaan berikut terhadap Ubayy dan Ibn Mas`ud (walaupun tanpa referensi):9
“Dan mereka yang paling dulu percaya terhadap Nabi Muhammad, alaihis salam, adalah ‘Ali dan keturunannya yang Allah telah pilih dari kalangan para Sahabat dan dijadikannya mereka sebagai pemimpin atas yang lain. Mereka itulah orang-orang yang menang dan yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal selama-lamanya.”
Sementara yang disebut dalam AI-Qur’an
(‘Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu [masuk surga]. Mereka itulah orang yang didekatkan [kepada Allah.])10 Penghormatan yang berlebihan pada keturunan ‘Ali, tanpa diragukan, menyimpan perasaan membela Syiah.11
Melibatkan diri dalam penelitian, memerlukan dasar pijakan yang kuat. Namun dalam hal ini, kita menemukan mereka tenggelam dalam arus kabar angin yang hampir sama sekali tidak punya jaringan mata rantai transmisi, dan gagal dalam menyajikan pendapat logis mengenai apa yang dikatakan sebagai ‘Mushhaf Ibn Mas’ud’ itu. Dalam keadaan seperti ini, pendekatan dan penemuan Jeffery, seperti yang dapat kita lihat, pada intinya sangat naif.
3. Tiga Surah yang Dihilangkan
Surah pertama dan dua surah yang terakhir (Surah al-Fatihah, al-Falaq dan an-Nas), menurut beberapa riwayat, tidak terdapat dalam Mushaf Ibn Mas’ud.12 Tampaknya seluruh masalah yang ada sangat meragukan. Jeffery mengawali tulisannya dengan melempar tudingan ragam bacaan dari Surah alFatihah: arshidna dan bukan ihdina, dan juga man, bukan alladhina.13 Di mana dia berkilah bahwa surah ini tidak pemah ada, jadi dari mana dia mendapat ragam bacaan ini? Para pembaca tentu masih ingat komentar an-Nadim sebelum ini bahwa ia pernah menemukan sebuah Mushaf yang dikaitkan dengan Ibn Mas’ ud yang memuat surah al-Fatihah. Ingat bahwa surah al-Fatihah itu tak perlu dipertanyakan lagi, merupakan surah yang paling sering dibaca dalam AIQur’ an, dan juga bagian yang tidak terpisahkan dari setiap rakaat dalam shalat. Dalam shalat berjamaah, surah itu menggema dari tiap menara masjid sebanyak enam kali dalam sehari, dan delapan kali pada tiap hari Jumat. Oleh sebab itu, tudingan adanya ragam bacaan al-Fatihah tidak perlu dianggap serius, dan secara logika bacaan surah ini diperdengarkan pada telinga setiap Muslim bermula sejak zaman Nabi Muhammad . 14
Seorang yang cenderung ingin menyalin beberapa surah Tertentu, kurang begitu suka dengan yang lain, ia behas melakukannya, bahkan membual tambahan pada sisi halaman juga dibenarkan selama hal itu dipisahkan dari Kitab Suci. Kejadian seperti itu tidak bisa dipakai untuk berkilah menentang keutuhan AI-Qur’an. Mushaf’ Uthmani yang memuat Kalam Allah yang tidak pernah temodai dan dibagi ke dalam 114 surah, sudah jadi kepercayaan yang tak mungkin terusik bagi kaum Muslimin; siapa yang mengelak menerima pandangan ini, ia akan jadi buangan. Kalaulah Ibn Mas’ud menolak tiga surah ini, maka nasibnya juga sama.
Al-Baqillani sampai pada argumentasi yang menyeluruh dan meyakinkan dalam menafikan laporan miring seperti tersebut di alas. la menyatakan bahwa siapa yang menolak surah tertentu yang merupakan bagian dari Al-Qur an, maka ia dianggap murtad atau fasik. Jadi salah satu sifat ini akan terkena pada Ibn Mas’ud kalau riwayat itu benar adanya. Dalam banyak hadith, Nabi Muhammad memuji kesalehannya dan tidak mungkin berbuat macam macam. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Ibn Mas’ud juga berkewajiban, kalau mereka melihat sesuatu yang mencemarkan kepercayaannya, mengungkapkannya sebagai penyeleweng atau murtad, jika tidak, berarti mereka mencemarkan din sendiri Namun kenyataannya, mereka yang hidup sezaman dengannya sepakat dalam memuji keilmuan yang dimiliki tanpa satu orang pun yang berseberangan. Dalam pandangan al-Baqillani, keadaan itu hanya mempunyai dua implikasi: kemungkinan Ibn Mas’ud tidak pernah menolak status sebenarnya mengenai surah itu, atau para ilmuwan yang mengenalnya kurang tepat dalam menghadapi fitnah yang semestinya perlu diganyang ketika itu.15
i. Analisis Isi Kandungan Mushaf Ibn Mas’ud
Asal usul munculnya penghapusan surah-surah ini, urutannya dapat dibuat sebagai berikut; dalam hal ini jaringan mata rantai transmisi mendahului setiap riwayat.
‘Asim-Zirr (salah seorang murid Ibn Mas’ud)-Ibn Mas’ud: riwayat membuat tudingan bahwa ia tidak menuliskan dua surah (no. 113 dan 114) dalam Mushafnya.16
AI-A’mash-Abu Islury-’Ahdur-Rahman bin Yazid: Ibn Mas’ud mcnghapus suruh Mu’awwidluuain (surah 113 and 114) dari Must afnya dan mcngatakan bahwa keduanya bukan bagian dart Al-Qur’an .17
Ibn ‘Uyaynah-`Abdah dan `Asim-Zirr: “Saya berkata pada Ubayy, ‘Saudaramu menghapus surah 113 dan 114 dari Mushafnya’, yang mana ia tidak menolaknya. Ketika ditanya apakah yang dimaksudkan itu adalah Ibn Mas’ud, Ibn `Uyaynah menjawab dengan nada pasti dan menambah bahwa kedua surah itu tidak ada dalam Mushafnya karena ia menganggap sebagai doa perlindungan Ilahi yang digunakan oleh Nabi Muhammad untuk cucunya al-Hasan dan al-Husain. Ibn Mas’ud tetap tidak mengubah pendiriannya, sementara yang lain yakin dan memasukkannya ke dalam AI-Qur’an.18
Jadi, dalam riwayat kedua dan ketiga, Ibn Mas’ud menghapus surahsurah yang sempat masuk dalam Mushafnya, jika demikian mengapa dia menulisnya saat pertama kali? Hal ini tentu tidak masuk akal. Kalau dikatakan Mushaf itu telah ditulis dan memuat dua surah terakhir, sudah tentu keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh dari Mushaf yang beredar pada saat itu. Kalau terdapat keraguan, maka menjadi kewajiban Ibn Mas’ud memastikan masalah yang ada dengan para ilmuwan lain sewaktu di Madinah maupun tempat lain. Dalam satu fatwanya, ia pemah menyatakan bahwa lelaki yang mengawini wanita lalu menceraikan sebelum jima’, maka ia boleh mengawini ibu wanita itu. Ketika in berkunjung ke Madinah dan membahas isu itu selanjutnya, ia mengakui telah bersalah clan kemudian membatalkan fatwanya. Misi pertama saat kembali ke Kufah adalah menemui orang yang pernah minta fatwa dan mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Demikianlah sikapnya dalam bidang ilmiah, maka lebih-lebih lagi dalam isu yang jauh lebih penting mengenai AI-Qur’an. Semua bukti yang lebih masuk akal menunjukkan semua cerita yang tidak wajar mengenai dirinya adalah palsu, dan para ilmuwan zaman dulu seperti an-Nawawi dan Ibn Hazm menyatakan bahwa yang ditimpakan pada Ibn Mas’ud itu bohong.19
Ibn Hajar, salah satu muhaddithun terkemuka, menolak kesimpulan itu. Selagi Ibn Hanbal, Bazzar, at-Tabarani dan lainnya mengutip kejadian itu melalui jaringan mata rantai riwayat yang sahih, maka ia memberi alasan bahwa tudingam itu tidak dapat dinafikan sesederhana itu; melakukan hal itu berarti menafikan hadith sahih tanpa dukungan sewajarnya. Ibn Hajar berusaha membuat kompromi pada kedua riwayat yang berseberangan dengan berpijak pada penafsiran Ibn as-Sabbagh: dalam ulasan pertama Ibn Mas’ud tetap enggan mengakui kedudukan keduanya sebagai surah AI-Qur’ an, tetapi setelah diketahui tidak dipersoalkan oleh umat dan merupakan bagian dari AI-Qur’an, sikap keraguannya semakin mencair dan akhimya percaya seperti yang lain.20
Argumentasi di atas merupakan yang terkuat yang saya pernah lihat dalam memberi dukungan terhadap tudingan itu. Untuk mengupas persoalan lebih lanjut, saya akan berpijak pada metode muhaddithun lain guna menyingkap kekeliruan pendirian Ibn Hajar itu.
ii. Keyakinan Ibn Mas’ud
Telah saya tegaskan sebelumnya bahwa al-Fatihah, tujuh ayat yang paling sering dibaca di masjid dan rumah-rumah semenjak zaman Nabi Muhammad secara logika tak mungkin ditolak oleh Ibn Mas’ud. Persoalannya, menyangkut surah 113 dan I l4. Dalam jaringan cerita ke tiga, kita temukan bahwa Ubayy tidak menolak Ibn Mas’ud, dengan mendengar bahwa ia telah menghapus surah pungkasan itu, ia tidak bermaksud menolak. Apa artinya? Itu berarti ia setuju, ataupun tidak setuju tapi bertahan setelah melihat ada perbedaan. Karena kita tahu Mushaf Ubayy memuat kedua stirah tersebut, maka kita tidak bisa menerima persetujuannya. Begitu juga kita mesti menolak ketidaksetujuannya karena sikap tidak peduli sama dengan mengatakan bahwa masyarakat bebas memilih bagian AI-Qur’an apa saja yang mungkin dianggap menarik. Dalam hal ini, tidak seorang pun dapat mendominasi sikap yang demikian dan masih tetap dianggap sebagai Muslim. Oleh sebab itu, riwayat mengenai diamnya Ubayy merupakan kepalsuan yang nyata.21
Sekarang kita hendak melihat penyesuaian yang dilakukan oleh ibn asSabbagh. Banyak dari kalangan para Sahabat seperti Fatimah, A’ishah, Abu Harairah, Ibn `Abbas dan Ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad selalu membaca AI-Qur’an dengan Malaikat Jibril tiap Ramadhan satu kali dalam setahun, dan dua kali dalam tahun sebelum beliau wafat. Bahkan dalam tahun terakhir, Ibn Mas’ud juga ikut serta. Dia juga membaca Kitab itu dua kali bersama Nabi Muhammad yang kemudian memujinya dengan ucapan laqad ahsanta (bacaan Anda hagus). berdasarkan kejadian itu pula Ibn ‘Abbas menganggap bacaan Ibn Mas’ud sebagai yang jelas dan tepat.22 Pujian tersebut mcnunjukkan bahwa AI-Qur’an terekam dalam ingatan yang penuh kepastian; murid-muridnya yang cemerlang, seperti `Alqamah, al-Aswad, Masruq, asSulami, Abu Wa’il, ash-Shaibani, al-Hamadani, dan Zirr, semuanya meriwayatkan AI-Qur’an yang mereka terima dari padanya berjumlah sebanyak 114 surah. Hanya salah satu murid Zirr, `Asim, satu-satunya yang memberi pernyataan konyol kendati ia mengajarkan seluruh isi kandungan Kitab Suci atas wewenang Ibn Mas’ud.23
Salah satu karya Ibn Hajar, yaitu sebuah risalah ringkas mengenai hadith yang berjudul Nuzhat an-Nazar, memberitahukan kita bahwa jika seorang perawi yang tepercaya (katakanlah seorang ilmuwan betahap B) membelakangi pendapat perawi lain yang lebih tinggi kedudukannya (yaitu ilmuwan bertahap A), ataupun bila terdapat ilmuwan lebih banyak (yang sama derajatnya) mendukung satu versi cerita dari yang lain, maka penjelasan yang dikemukakan oleh yang lebih rendah disebut shadh (nyleneh dan loyo). Dalam berita di atas kita dihadapkan pada satu pernyataan laksana seorang atlet renang yang coba-coba hendak melawan arus raksasa, yang menjadikan hal ini dapat dipandang sebagai satu kebatilan.24 Ini tentunya berlandaskan pada metode yang dipakai oleh para muhaddithun, yang walaupun Ibn Hajar mengutip ketentuan-ketentuan itu, namun barangkali saat itu mental beliau dalam keadaan tidak begitu prima atau, dalam hal ini, dimana seorang yang intelijen pun boleh jadi mengalami hal yang sama. Mungkin ada pendapat yang menyebut, guna mengangkat permasalahan shadh dan batil memerlukan dua pernyataan silang, sementara apa yang kita hadapi adalah hanya berkaitan dengan penghapusan surah 113 dan 114, tanpa ada oposisi. Alasannya sederhana, dalam suasana yang normal hanya ketidaknormalan yang biasanya diangkat menjadi bahan cerita. Contohnya, darah yang mengucur keluar dari urat kita berwama merah adalah sesuatu yang biasa, tetapi darah berwarna biru (sejenis kepiting) adalah sesuatu yang luar biasa dan akan mendapat liputan lebih banyak. Hal yang serupa, kita tidak akan mempersoalkan murid-murid Ibn Mas’ud yang gagal memberitahukan kita apakah guru mereka meyakini 114 surah, karena itu sudah jadi masalah yang lumrah. Hanya mereka yang percaya sedikit atau lebih, akan menjadi objek pemberitaan.
Komentar yang saya kemukakan terhadap Mushaf Ibn Mas’ud dapat juga diterapkan pada Ubayy bin Ka’b, atau siapa saja dalam masalah tersebut.
4. Kapan Suatu Tulisan itu Dapat Diterima Sebagai Bagian dari AI-Quran?
Hammad bin Salamah meriwayatkan bahwa Mushaf Ubayy mcmuat dua surah lebih, yang disebut al-Hafad dan al-Khala’.25 Berita ini betul-hetul palsu karena terdapat cacat besar dalam jaringan mata rantai perawinya, karena jarak waktu yang tak terhitung, sekurang-kurangnya, dua atau tiga generasi antara kematian Ubayy (w. sekitar 30 H.) dan kegiatan ilmiah Hammad (w. 167 H.). Selain itu, kita juga mesti ingat bahwa catatan yang dibuat dalam buku tidak menjadi bagian dari buku itu sendiri. Tetapi katakanlah, sekadar untuk adu alasan dalam berdebat, kita menerima bahwa beberapa alinea lebih tertulis dalam Mushaf Ubayy. Adakah alinea langsung dan otomatis meningkat sama kedudukannya dengan AI-Qur’an? Tentu saja tidak. Mushaf ‘Uthmani terselesaikan, dan disebarluaskan melalui para guru yang mengajarkannya setelah mendapat wewenang yang sesuai dan jadi ketentuan dalam menetapkan apakah sesuatu teks itu AI-Qur’an, bukan sekadar coret-coretan tak menentu dari manuskrip ilegal.
i. Prinsip Menenukan Ayat sebagai Al-Qur’an
Tiga pedoman yang hendaknya terpenuhi sebelum cara sebuah bacaan suatu ayat dapat diterima sebagai AI-Qur’an:
Qira’at mesti tidak diriwayatkan hanya dari satu sumber yang memiliki otoritas, melainkan melalui sejumlah riwayat besar (yang cukup untuk melenyapkan kemungkinan adanya kesalahan yang masuk), yang juga sampai kepada Nabi Muhammad yang dapat menjamin keaslian dan kepastian bacaan.
Teks bacaan mesti sama dengan apa yang terdapat dalam Mushaf ‘Uthmani.
Cara pengucapan mesti senada dengan tata bahasa Arab yang benar.
Semua karya tulis yang memiliki otoritas dalam bidang qira’at, seperti Kitab as-Sab`af fi al-Qira’at oleh Ibn Mujahid, pada umumnya menyebut adanya pembaca tunggal di setiap pusat kegiatan ilmu Islam yang kemudian diikuti oleh dua atau tiga orang murid. Daftar yang minim seperti itu tampaknya berseberangan dengan prinsip pertama. Bagaimana dapat menjelaskan seorang ahli membaca AI-Qui an (qari) dan dua muridnya dari Basrah misalnya, membuktikan bahwa qira’at itu diriwayatkan melalui jalur riwayat yang besar? Untuk menjelaskan persoalan ini para pembaca hendaknya melihat kembali topik “Ijazah bacaan” pada bab sebelum ini.26 Prof. Robson dan Ishaq Khan, yang menyajikan jalur riwayat Sunan Ibn Majah melalui Ibn Qudamah, hanya bisa mendapatkan beberapa nama saja, sementara dengan melacak ijazah bacaan kami temukan lebih dari 450 murid. Itu pun hanya dari satu manuskrip; naskah-naskah tambahan lain yang juga dari jaringan mata rantai periwayatan yang sama, dapat memberi angka yang lebih besar. Sama halnya dengan menyebut dua atau tiga nama murid adalah semata-mata sebagai yang terwakili dan dimaksudkan untuk menghemat waktu penyusunan dan juga bahan tulisan, dan terserah pada para ilmuwan yang merasa berminat akan hal itu untuk mengupas secara tuntas.
Ada perbedaan mendasar antara AI-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad dalam hal penyampaian riwayat melalui otoritas tunggal. Satu-satunya ilmuwan dan hafal satu hadith bisa jadi, ketika ia mengajar melalui hafalannya, merasa perlu mencari persamaan kata pengganti saat terlupa pada kata-kata yang sebenarnya. Jika tak seorang pun yang meriwayatkan hadith itu, maka ketidak telitiannya akan berlalu secara mudah tanpa terditeksi. Bandingkan hal itu dengan AI-Qur’ an. Dalam tiga shalat jamaah, shalat Jumat, Tarawih, Idul Fitri, dan Idul Adha, imam akan membaca dengan suara kuat dan mendapat dukungan dari jamaah di belakangnya. Jika tidak ada anggota jamaah yang menegur, berarti bacaannya mendapat restu orang banyak yang jumlahnya ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu. Tetapi apabila ada teguran ketika shalat, sedangkan imam tetap memaksakan bacaan yang menyalahi Mushaf ‘Uthmani, ia akan didongkrak secepatnya sebagai imam shalat. Tak akan mungkin terdapat kekeliruan dalam qira’at yang dapat lewat begitu saja, dan semua yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan akan segera disingkirkan. Batas-batas yang ditetapkan dengan jelas seperti ini yang merupakan sumber penyelamat utama Al-Qui an .27
Mari kita periksa setiap naskah yang dikaitkan dengan AI-Qur’an dengan berpijak pada prinsip-prinsip di atas. Tampak jelas prinsip yang pertama itu tidak ada, karena naskah [dua surah Ubayy itu] tidak memberi penjelasan tenlang yang meriwayatkan. Mengenai syarat kedua; apakah hal ini sejalan dengan Mushaf ‘Uthman? Adanya ketidakserasian sekecil apa pun dalam masalah kerangka huruf hidup, dapat menyebabkan runtuhnya nilai kepercayaan. la mungkin bisa dipakai untuk yang lain, kecuali untuk menjadi bagian dari AI-Qur’an. ltu merupakan kesepakatan kaum Muslimin semenjak empat belas abad yang lalu.
Berbicara mengenai kerangka huruf mati, perlu kita sebut di sini masalah huruf hidup (contohnya alif jika terletak di tengah sebuah kata) biasanya menampilkan ortografi yang agak lain, biasanya tergantung pada pertimbangan penulis. Lihat contoh him. 131-5 dan juga penerbitan faksimile dalam bahasa Prancis baru-baru ini mengenai kepingan naskah Al-Qui an.28 Dalam contoh yang kedua kita menemukan kata qalu (dengan alif di tengah) ditulis dengan qalu (tanpa alif di tengah). Berdasarkan ketentuan ini, maka hat yang sama dapat terjadi pada kepingan naskah AI-Qui an yang ditemukan di Yaman. Perbedaan pada tahapan ini tidak akan membuat kita keblinger, kita mesti memperlakukan masalah ini persis sama seperti kata color vs. colour atau center vs. centre dalam bahasa Inggris, karena kelainan ortografi laiknya kesatuan halus yang selalu muncul dalam bahasa manapun .29 Namun apabila sekeping tulisan itu jatuh ke tangan mereka yang selalu ingin tahu, meski dibenarkan adanya perbedaan ortografi, tetapi tidak sesuai dengan kerangka AI-Qur’an `Uthmani, kita mesti singkirkan jauh-jauh ke luar dan menganggapnya sebagai hal yang palsu dan tidak berlaku. Tentunya jika terdapat tanda-tanda huruf mati yang hilang disebabkan kesalahan menulis, maka hal itu akan bisa diterima sebagai bagian dari AI-Qur’an. Contohnya, al-fawahish ditulis al-wahish, di mana penulisnya meninggalkan huruf Fa’.30
ii. Contoh Hukuman bagi Ilmuwan Karena Menyalahi Ketentuan di atas
Ibn Sanbudh (w. 328/939), salah seorang ilmuwan terbesar di bidang qira’at di zamannya, menganggap remeh naskah ‘Uthmani dalam membaca AI-Qur’an. Karena bacaan itu terbukti benar melalui jalur transmisi yang berlainan serta sesuai dengan grammar hahasa Arab, ia beranggapan bacaan itu sah walaupun berbeda dengan Mushaf ‘Uthmani. Dalam persidangan hukum, ia diminta bertobat dan akhimya dikenakan hukum cambuk sebanyak sepuluh kali.31 An-Nadim mengutip surat pengakuan Ibn Shanbudh sebagai berikut:32
Dalam kalimat di bawah menunjukkan bahwa Ibn Shanbudh mengakui kesalahan melanggar Mushaf yang didukung oleh seluruh umat, dan kemudian mohon ampunan Allah
Seorang ilmuwan lain, Ibn Miqsam (w. 354/965) juga diminta bertobat di depan para fuqaha’ dan qurra’ karena teori bacaannya yang berbeda. Teorinya menyebutkan, bacaan siapa saja selama masih sesuai dengan Mushaf `Uthmani dan kaidah bahasa Arab, dapat dianggap sah tanpa perlu menyelidiki asal usul jalur qira’at dan mendapat pengesahan mengenai tanda-tanda bacaan yang berkaitan dengan tiap-tiap ayat.33
Seorang ilmuwan meremehkan prinsip yang kedua, sementara yang lain menganggap rendah ketentuan yang pertama. Rev. Mingana menyatakan penyesalannya bagi yang mau menerima kedua ilmuwan itu.34 Sekurangkurangnya, kita dapat menganggap suatu yang wajar setelah mengetahui bahwa keduanya diberi perlakuan atas dasar belas kasih ketimbang William Tyndale (1494-1536), gara-gara salah menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Inggris, dihajar hukum bakar hidup-hidup (menurut versi Bible King James).35
5. Kesimpulan
Para ilmuwan Yahudi dan Kristen sejak lama telah menyimpan obsesi ingin melecehkan adanya perbedaan terhadap Al-Qur’an, hanya Allah dengan begitu mudah mengamankan dan memelihara Kitab-Nya sehingga segala upaya dan sumber yang jadi andalan hanya mampu menjadikan mereka kewalahan. Abad ke-20 ini menyaksikan adanya satu Lembaga Kajian AIQur’an yang didirikan oleh Universitas Munich. Seluruh ruangan gedung dipenuhi sebanyak empat puluh ribu naskah AI-Qur’an dari berbagai abad dan negara dan kebanyakan dalam bentuk foto asli, sedang para stafnya asyik menyibukkan diri membandingkan kata-kata dari setiap naskah sebagai upaya yang tak kenal lelah dalam menyingkap perbedaan yang terdapat dalam AIQur’an.
Beberapa waktu sebelum Perang Dunia II, laporan pendahuluan yang cukup mantap telah diterbitkan yang menyebut bahwa tentunya terdapat kekeliruan dalam menyalin manuskrip Al-Qur’an, kendati tidak terdapat ragam perbedaan. Selama peperangan, Amerika mengebom lembaga tersebut menghancurkan keseluruhan yang ada termasuk direksi, staf, dan semua pakar perpustakaan… Ini semua membuktikan bahwa tidak ada perbedaan pada naskah-naskah AI-Qur’an sejak abad pertama hingga ke abad ini.36
Jeffery mengakui fakta ini kendati secara sinis ia menyesal bahwa “Secara praktis semua Mushaf-Mushaf terdahulu dan kepingan-kepingan naskah yang selama ini diteliti dengan hati-hati membuktikan adanya kesamaan teks, kalau pun terdapat perbedaan, hal itu hampir keseluruhannya dapat diterangkan sebagai kesalahan tulisan.”37 Bergtrasser juga memiliki kesimpulan yang sama.38 Namun Jeffery tetap memaksakan pendapat bahwa teks-teks itu “tampaknya belum ditetapkan hingga abad ke-3 Islam”39 [dan karenanya] agak penasaran bahwa tidak terdapat contoh teks lain yang masih bertahan di antara semua kepingan-kepingan itu yang selama ini diteliti.”40 Untuk menjawab kebimbangan yang dimiliki, tampaknya ia masih belum dapat melihat hutan rimba dengan aneka ragam pohon dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalamnya. Jelasnya, tidak pernah terdapat teks-teks yang berlainan.
Daripada merengek-rengek kepada komplatan Orientalis yang selalu berubah sikap menurut kepentingannya, kaum Muslimin hendaknya tetap meniti jalan yang dilalui para muhaddithun zaman dulu. Apa sebenamya hasil yang mungkin diraih sekiranya kita hendak menerapkan kriteria terhadap kajian kitab Injil? Coba renungkan contoh berikut ini, sekadar gambaran betapa rapuhnya dasar-dasar teori mereka. Dalam Dictionary of the Bible, dalam artikel yang berjudul “Jesus Christ”, kita dapat membaca, “Satu-satunya saksi dalam pemakaman [Kristus] terdapat dua orang wanita…” Kemudian dalam judul lain, “The Resurrection”, “Banyak sekali kesulitan yang berkaitan dengan bahasan ini, dan juga berita-beritanya, yang juga tak banyak jumlahnya dan bahkan mengecewakan, serta memuat beberapa perbedaan tertentu yang tak mungkin dicarikan titik temu atau penyelesaian; tetapi para pakar sejarah yang konsisten dengan aturan-aturan yang paling tepat dan merasa terikat oleh disiplin ilmiah, menemukan bukti yang cukup memadai untuk meyakini fakta itu.”41
Kita hanya mampu meraba-raba bahwa ‘fakta-fakta’ dalam posisi lebih tinggi dari yang lain dan tidak perlu lagi mencari-cari bukti. Apa jadinya jika kita hendak menerapkan metode kita sendiri? Apa yang dapat kita sebut mengenai cerita penguburan Yesus Kristus? Pertama, siapakah orang yang mengarang cerita dalam Injil itu? Semuanya tidak ada yang dikenal secara pasti dan cerita itu pun hampa. Kedua, siapa yang membawa pernyataan dua orang wanita itu kepada pengarang? Entahlah. Ketiga, jaringan mata rantai riwayat macam mana yang dapat dipakai sebagai ukuran? Tidak ada. Semua cerita yang adalah hasil rekayasa.
Upaya mencari perbedaan dalam Al-Qur’an terus berjalan tanpa henti, dan bahkan Brill ikut memanasi usaha ini dengan membuat Encyclopedia AIQur’an (sebanyak empat jilid) yang akan terbit dalam beberapa tahun mendatang. Di antara badan penasihatnya, selain para ilmuwan Yahudi dan Kristen, tak ada lain adalah M. Arkoun dan Nasr Abu Zaid yang sudah dianggap sebagai penyeleweng (heretics) di negara-negara Islam.
Penilaian telah berulang kali saya buat terhadap kedudukan ilmiah kitab Injil secara sepintas, dan juga semangat yang membara hendak memaksakan AI-Qur’an dengan keraguan dan teka-teki guna menutupi kelemahan Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Kini giliran saya mengambil sikap proaktif dalam menyelami sejarah teks kitab suci mereka, bukan sekadar perbandingan. Setiap ilmuwan dan pengkritik merupakan produk lingkungan tertentu, dan para Orientalis – baik yang Kristen, Yahudi, ataupun ateis – semuanya lahir dari latar belakang Yahudi dan Kristen yang ingin memilah-milah pandangan tentang segala masalah yang berkaitan dengan keislaman. Sikap selektifnya memacu mereka mengubah studi Islam pada satu bentuk yang benar-benar aneh dengan mengenalkan peristilahan yang ada dalam Injil. Blachere misalnya, memakai istilah vulgate. Bible versi Latin yang dihasilkan pada abad keempat dan lebih digemari oleh Gereja Katolik Roma (penerjemah). saat menunjuk Mushaf `Uthman dalam bukunya Introduction au Coran, dan Jeffery menerangkan Al-Qur’an sebagai teks yang Masoretic, istilah yang umumnya berkaitan dengan Kitab Perjanjaian Lama berbahasa Ibrani. Dengan menghilangkan seluruh peristilahan AI-Qur’an, Wansbrough malah berbicara mengenai Haggadic exegesis, Halakhic exegesis, dan Deutungsbedurftigkeit.42 Setiap orang dari kalangan mereka juga menyebut canonization Al-Qur’an (dalih-dalih AI-Qur’an) dan naskah kuno Ibn Mas’ud. Kebanyakan kaum Muslimin tak pemah berurusan dengan jargon-jargon aneh itu. Apabila hipotesis Jeffery, Goldziher dan yang lain telah kita bicarakan dan kita nafikkan, maka kini saatnya untuk kita meneliti sepenuhnya motif-motif yang melatarbelakangi usaha mereka. Sketsa potter sejarah awal YahudiKristen, diiringi sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diharap dapat melicinkan jalan pemahaman yang lebih dalam mengenai cara berpikir para ilmuwan dan akhimya akan mengantarkan kita dapat melihat lebih jelas lagi pertimbangan dan sederet tujuan pihak Barat dalam melakukan kajian terhadap Al-Qur’an.
1. Hal ini telah dibahas pada bab-bab yang lalu. Lihat hlm. 81-82.
2. An-Nadim, al-Fihrist, hlm. 29.
3. Ibid., hlm 29.
4. A. Jeffery (ed.), Muqaddimatin, hlm. 47.
5. Lihat karya ini, hlm. 77-78.
6. Lihat A. Jeffery (ed.), Muqaddimatin, hlm. 47-48.
7. Abu Hayyan an-Nahawi, Tafsir Bahr al-Muhit, 1: 161.
8. Unruk perinciannya, lthat al-Mizzi, Tahdhib, XI: 87-92.
9. A. Jeffery, Materials, hlm. 97.
10. AI-Qur’an 56:10-11.
11 Hingga belakangan ini, masih ada kecenderungan para pakar teologi Syiah menabur keraguan terhadap AI-Qur’an, karena alasan yang sederhana yaitu Al-Qur’an pertama kali dikumpulkan oleh Abu Bakr, lalu disalin dan disebarluaskan oleh ‘Uthman dan bukan ‘Ali. Yang anehnya ‘Ali mengeluarkan Mushaf yang sama, yaitu Mushaf ‘Uthman dan tidak pemah membuat edisi baru. Namun akhir-akhir ini, kecenderungan baru dan Iebih sehat telah mulai muncul. Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah konferensi di Teheran, Iran, para otoritas Syiah mengumumkan mereka tidak mempunyai Mushaf selain dari Mushaf ‘Uthman, dan Mushaf ini murni dan bebas dari percampuran dan kerusakan. Nyatanya, kita tidak menemukan sebuah Mushaf yang dicelak di Iran ataupun manuskrip Al-Qur’an di Najaf, Qum, Mashhad…dll. Yang berbeda dengan Mushaf yang umum yang didapati di bagian dunia Islam yang lain.
12. As-Suyuti, al-Itqan, 1: 220-221. Masing-masingnya surah no. 1, 113, dan 114.
13. A. Jeffery, Materials, hlm. 25.
14 Hari ini hampir serengah juta orang ikut berjamaah melakukan shalat Tarawih di Mekah selama bulan Ramadhan (dan pada malam-malam tertentu, khususnya malam yang ke 27, jamaahnya melebihi satu juta orang) – [Lihar surat kabar Saudi, ar-Riyad. 1 Januari 2000] . Hanya yang terbaik di
antara para huffaz (mereka yang hafal AI-Qur’an seluruhnya) yang dipilih mengimami shalat yang diikuri oleh orang sebanyak itu. Dengan teknolegi modern, kita dapat menyaksikan secara langsung acara shalat itu, dan kita temukan bahkan apabila Kafir terbaik sekalipun berbuat salah, orang-orang di belakangnya akan langsung membetulkannya. Shalat berjamaah itu tidak akan membenarkan kesalahan terlewatkan begitu saja tanpa pembetulan, walau yang jadi imam orang yang terkenal sekalipun. Ini menunjukkan ukuran kepedulian masyarakat terhadap Ktlab Allah.
15. AI-Biqillani, al-Intisar, hlm. 190-191.
16. Ibn Hanbal, Musnad, V: 129, hadits no. 21225-21225.
17. Ibid., V: 129-130, hadits no. 21226.
18. Ibid., V: 130, hadits no. 21227.
19. As-Suyu(i, al-Itqan, I: 221.
20. Lihat as-Suyuti, al-Itqan, 1: 221-222. Dalam menerjemahkan, Burton berlaku tidak jujur. Bandingkan teks yang asli dengan terjemahannya dalam The Collection of the Qur’an, Cambridge University Press, 1977, hlm. 223-224.
21. Lihat paragraf mengenai al-Baqillani, hlm. 199-200.
22. Untuk rinciannya lihat Ibn Hanbal, Musnad, hadits no. 2494, 3001, 3012, 3422, 3425, 3469, 3539, dan 3845. Yang Iebih utama 3001 dan 3422.
23. As-Suyuli, al-Itqan, 1: 221.
24. Ibn Hajar, Nuzhat al-Nazar, hlm. 36-37
25. Ibn Durais, Fada’il AI-Qur’an, hlm. 157.
26 Lihat hIm.204-211.
27 Sekali lagi saya menunjuk Masjidil Haram di Mekah, pada hari Jumal tanggal 16 dan 23 Ramadhan (1420 H.), sekitar 1,6 juta jamaah melakukan salat Jumat. Saya sendiri menghadiri Jumat yang pertama, dan menyaksikan yang kedua melalui televisi. Jamaah yang begutu ramai termasuk ribuan Muslim yang hafal AI-Qur’an keseluruhannya dari secgenap penjuru dunia, bersama dengan ribuan yang lain yang berada di belakang imam sambil membaca Mushaf ketika shalat Tarawih. Jika ada kesalahan atau terlupa, maka bacaan imam akan segera dan kedengaran dibetulkan oleh ratusan orang yang berdekatan dengannya. Sebaliknya, apabila seluruh jamaah berdiam diri itu bermakna mereka menerima bacaan imam. Jadi, bacaannya melambangkan dukungan kekuatan jutaan jamaah. Betapa tegasnya respons para jamaah apabila imam gagal memperhatikan gira’at yang bisa diterima oleh mereka.
28. F. Deroche dan S.N. Noseda, Sources de la transmission manuscrite du texte Coranique, Les manuscrits de style higazi, Volume l. Le manuscrit arabe 328(a) de la Bibliotheque nationale de France, 1998.
29. Untuk persoalan ini kita dapat tambahkan beberapa perbedaan penyecbutan teks konsonan; seperti pada perkataan ‘bridge’ yang bisa dibaca ‘brij’, maka begitu juga dalam Al-Qur’an kita melihat min ba’d, tapi membaca mimba’d, dan hal itu tidaklah dianggap penyimpangan dari Mushaf ‘Uthman.
30. F. Deroche dan S.N. Noseda, Sources de la transmission manuscrite du texte Coranique, Les manuscrits de style higazi, Volume l, hlm. 126.
31..AI-Jazari, Tabaqat al-Qurra’, 11: 53-55.
32. An-Nadim, al-Fihrist, hlm. 35.
33. Ibid., II: 124.
34. Mingana, Transmission, hlm. 231-232.
35. “William Tyndale”, Encyclopedia Britennica (Micropaedia), edisi ke-I5, 1974, X: 218.
36. M. Hamidullah, “The Practicability of Islam in This World”, Islamic Cultural Forum, Tokyo, Jepang, April 1977, hlm. 15; lihat juga A. Jeffery, Materials, Pendahuluan, hlm. 1.
37. Review Arthur Jeffery mengenai, “The Rise of the North Arabic Script and It’s Kur’anic Development by Nabia Abbot”, The Moslem World, vol. 30 (1940), hlm. 191. Untuk memahami pernyataannya bacalah artikel itu, hlm. I55-156.
38. Theodor Noldeke, Geschichte des Qorans, Georg Olms Verlag, Hildesheim – New York, 1981, hlm. 60-96.
39. Kita juga mesti secara tegas bertanya apakah bukti yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu barn tetap pada abad kctiga Hijrah, padahal manuskrip-manuskrip Al-Qur’an yang paling awal di shad pertama Hijrah semuanya sama!
40. 1bid, hlm. 191.
41. Dictionary of the Bible, hlm. 490. Tulisan miring adalah tambahan.
42. Wansbrough, Quranic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation, Oxford Univ. Press, 1977.
ayo silahkan copas lagi artikel lainnya sdr trans dan sekarang rupanya anda menjadi JAGO COPAS TANPA PAHAM ISI
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 03:53
JIKA ISLAM MAU JUJUR….
Ciri-ciri mushaf Utsman adalah:
1. Susunannya seperti yang banyak beredar saat ini, hanya ada perbedaan sedikit dengan beberapa mushaf sahabat dalam susunan atau urutan surat. Misalnya jika mushaf sahabat lainnya meletakkan Surat Yunus masuk dalam tujuh surat besar dan di urutuan ke-7, maka mushaf Utsmani menggolongkannya ke dalam kelompok Ma’in. Ini menunjukkan bahwa susunan al-Qur’ān yang ada saat ini adalah hasil ijtihad sahabat, dan bukan tauqifi dari Allah SWT atau Nabi SAW.[13]
2. Tanda baca seperti titik dan harakat tidak ada, sehingga masih sulit membedakan huruf dan tata bahasa (i’rab dan wazan kalimat). Beberapa contoh kesalahfahaman dalam bacaan kalimat misalnya:
- Sulit dibedakan “yablu, nablu, tablu, tatlu, yatlu, natlu”
- Sulit membedakan “ya’lamuhu, ta’lamuhu, na’lamuhu, bi’ilmihi’, dll.
- Maka ayat “litakuuna liman khalfaka ayatan” sering dibaca “litakuuna liman khalaqaka ayatan”.
- “Nunsyizuha, Nunsyiruha, Tunsyiruha”. (Al-Baqarah: 259)
- “Yuallimuhu, nu’allimuhu, ya’lamuhu, na’lamuhu”( S. Ali ‘Imran: 48)
- “Nunajjika” atau :Nunahhika” (Yunus 92).
- “Lanubawwiannahum” atau “lanubawwiyannahum”.
3. Tata tulisan tidak konsisten sebagai akibat kesalahan dalam imla’ dan penulisananya, misalnya :
- الكتاب kadang ditulis dengan الكتب
- الرحمان banyak ditulis dengan dengan الرحمن
الصلو ة – الزكوة ditulis menjadi الصلاة – الزكاة-
- اختلاف اليل و النهار menjadiاختلف اليل و النهار
- Ada penulisan “basthah” dengan huruf sin, ada pula penulisannya dengan huruf shad menjadi “Bashthah”, demikian pula pada kata “Yabsuthu” ditulis dengan “Yabshuthu”, dll
Mushaf Ibn Mas’ud
Mushaf Ibn Mas’ud memiliki ciri yang juga berbeda dari mushaf lainnya, yaitu:
a. Hanya memuat 111 surat dan minus surat al-Fatihah dan al-Mu’awwizatain (surat al-Falaq dan an-Nas).
b. Kata-kata dalam ayatnya banyak berbeda dengan kebanyakan catatan sahabat lain, karena menurutnya kata-kata al-Qur’ān boleh diganti dengan sinonimnya, baik untuk lebih menjelaskan maknanya, atau agar mudah dibaca orang suku tertentu.
c. Sebagian kata dalam ayat diganti dengan kata lain dengan maksud agar lebih jelas. Misalnya kata shauman (puasa) dalam surat Maryam ayat 26 diganti shamtan (diam), karena meksud ayat tersebut adalah nazar berpuasa untuk diam tidak berkata-kata.
Mushaf Ali bin Abi Thalib
Mushaf Ali bin Abi Thalib memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh mushaf lainnya. Karakter khusus mushaf ini adalah:
a. Ayat dan surat tersusun rapi sesuai dengan urutan turunnya, maka ayat-ayat makkiyah diletakkan sebelum ayat-ayat madaniyah, ayat-ayat yang turun masa awal diletakkan lebih dahulu dari pada ayat-ayat yang turun belakangan.
b. Bacaan yang tercantum dalam mushaf ini lebih mendekati keaslian sehingga lebih sesuai dengan bacaan Rasul;
c. Ada catatan tanzil dan takwil di tepi mushaf yang menjelaskan situasi dan kondisi serta latar belakang ayat-ayat al-Qur’an diturunkan. Penjelasan ini sangat berguna dalam menggali maksud ayat-ayat al-Qur’an diturunkan serta menyingkap makna-makna ayat yang masih samar.
Dari mushaf Ali ini sebenarnya banyak manfaat yang dapat digali, antara lain dapat diketahui perjalanan tasyri’ hukum, proses gradualisasi dakwah, dan pentahapan ajaran Islam, demikian pula proses nasikh dan mansukh dalam al-Qur’an. Seandainya mushaf Ali ibn Abi Thalib ini masih ada saat ini tentu akan banyak problem dalam memahami al-Qur’an akan teratasi.
Mushaf Ubay ibn Ka’ab:
a. Urutan surat berbeda dengan urutas mushaf Utsmani.
b. Jumlah surat lebih banyak, dengan tambahan surat al-Khal’u dan al-Hafdu yang keduanya memuat doa qunut, karena menurut Ubay kedua doa tsb termasuk yang diwahyukan.
Doa Khal’u sbb:
اللهم انا نستعين بك ونستغفرك و نثني عليك الخير ولا نكفرك ونخلع
Doa Khafdhu sbb:
بسم االله الرحمن الرحيم اللهم اياك نعبد ولك نصلي ونسجد واليك نسعى ونخفض
c. Surat al-Fiil dan al-Quraisy disatukan karena dianggap satu surat dan tidak dimulai dengan Basmalah.[6]
d. Surat az-Zumar diawali dengan “Hamim”, sehingga dalam al-Qur’ān terdapat 8 surat yang dimulai dengan “Hamim”.
e. Dalam mushaf Ubay ini banyak terdapat bacaan yang berbeda dengan bacaan masyhur, seperti beberapa kata dalam ayat-ayat tertentu diganti dengan kata-kata lain yang dianggap sinonim dan maknanya tetap sama.[7]
Masih banyak mushaf lain yang krang terkenal, yang juga berbeda jika dibandingkan dengan mushaf Utsmani a.l. mushaf ‘Aisyah dan mushaf Anas ibn Malik.
Bentuk-bentuk perbedaan di antara mushaf sahabat berupa sistem penulisan, susunan/urutan, bacaan, jumlah surat dan ayat, serta tambahan atau pengurangan tertentu.
Demikianlah para sahabat memiliki mushaf masing-masing. Sahabat yang tidak memiliki catatan akan meminta bantuan agar dibuatkan sebuah naskah mushaf sesuai dengan yang diinginkan. Wilayah Islam yang semakin luas menyebabkan semakin banyak jumlah dan macam-macam mushaf. Apalagi kebutuhan umat Islam terhadap al-Qur’ān semakin meningkat. Perbedaan antar mushaf di atas disebabkan banyak faktor. Di samping memang banyak yang tidak memiliki hubungan kegiatan dan kerjasama dalam penulisan, sebab lainnya adalah karena perbedaan kemampuan dalam kegiatan penulisan, sehingga menyebabkan perbedaan dalam sistem, bacaan, susunan, dll.
Walaupun demikian, masing-masing mushaf di atas mendapatkan penghormatan tinggi di dunia Islam saat itu, sesuai dengan domisili sahabat yang menulis mushaf atau umat Islam yang mempelajarinya. Mushaf Abdullah ibn Mas’ud, misalnya, menjadi rujukan penduduk Kufah.[9] Contoh lain adalah mushaf Ubay ibn Ka’ab yang banyak dipelajari dan dirujuk oleh penduduk Madinah. Demikian pula mushaf Abu Musa al-Asy’ari di Basrah dan Mushaf Miqdad ibn al-Aswad di Damaskus.
KESIMPULAN SETIAP MUSSAF PY KELEMAHAN…TERMASUK VERSI USMAN
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 03:57
MANAKAH YANG BENAR mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ATAU MUSSAF USMAN???
JELAS SEKALI SURAH 1;113;114 DITOLAK DALAM mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ….GMN TANGGAPAN UMAT ISLAM??ASLIKAH ALQURAN???JAUH DARI ASLI BOS…..JUJURLAH PADA DIRI SENDIRI….
=========>>>>
hehehehehehe lantas kalau Surah al-Fatihah tidak ada, apa yang dibaca Abdullah Ibn Mas’ud sdr trans?
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:03
TUHAN TIDAK DAPAT DIBATASI DIMENSI BOS….PADA SAAT BERSAMAAN TUHAN DAPAT HADIR DALAM DIMENSI SECARA BERSAMA-SAMA….BAPA DAN ROH KUDUS YANG ADA DIDALAM DIRI ISA DAPAT HADIR SECARA BERSAMAAN……ITULAH BEDANYA MANUSIA DENGAN TUHAN….MANUSIA TIDAK BISA MENGHADIRKAN TUBUH,JIWA,ROH SECARA BERSAMAAN….UDAH GUE JAWAB NIH BOS….
============>>>
hehehehe berarti yesus itu sejenis ZOMBIE ya sdr trans?
tubuh tanpa jiwa dan roh karena jiwa dan rohnya tertinggal di surga
lantas jika yesus ingin BAB, siapa yang merasakan ingin BAB??
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 04:06
hehehehehehe lantas kalau Surah al-Fatihah tidak ada, apa yang dibaca Abdullah Ibn Mas’ud sdr trans?=>ITU HANYA SEBAGAI DOA BUKAN FIRMAN TUHAN…..
KARENA ADA KEJANGGALAN SBB:
-mengapa tuhan memuji dirinya sendiri????
_mengapa tuhan berdoa kepada dirinya sendiri,memohon perlindungan dan jalan yg lurus?????
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:13
The History of The Qur’anic Text hal 167 – 182
PENYEBAB MUNCULNYA RAGAM BACAAN
Salah satu pintu gerbang masuknya serangan pihak Orientalis terhadap Al-Qur’an adalah membuat kekacauan terhadap naskah teks Al-Qur’an itu sendiri. Menurut perkiraan saya, terdapat lebih dari 250,000 naskah AI-Qur’an dalam bentuk manuskrip, secara lengkap maupun sebagian-sebagian, sejak abad pertama hijrah hingga hari ini. Kesalahan-kesalahan telah diklasifikasikan dalam lingkungan akademik pada dua kelompok disengaja maupun tidak, dan dalam koleksi manuskrip yang banyak ini sudah pasti dalam sekejap mata para penulis boleh melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Ilmuwan yang membahas subjek itu tahu dan paham betul bagaimana susahnya kesalahan konsentrasi sesaat dapat membahayakan, sebagaimana dibicarakan secara gamblang dalam beberapa karya tulis berikut ini: (1) Ernst Wurthwein, The Text of the Old Testament, edisi kedua yang telah direvisi dan diperluas, William B. Eerdmans Publishing Company, Grand Rapids, Michigan, 1995; (2) Bart D. Ehrman, The Orthodox Corruption of Scripture, Oxford Univ. Press, 1993; dan (3) Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, Edisi ketiga, Oxford Univ. Press, 1992.
Buku pertama mengupas PL (Perjanjian Lama) dan yang lainnya tentang PB (Perjanjian Baru). Semua karya tulis tersebut mengelompokkan kesalahan dengan memakai istilah seperti transposisi, haplografi, dan dittografi yang kadang-kadang ditujukan pada penulis yang sudah meninggal dunia guna mengalihkan perhatian yang ada dalam pikirannya di mana ia melakukan kesalahan sejak ribuan tahun yang silam.1 Hanya saja perlakuan seperti itu tidak mungkin dapat diterapkan terhadap Al-Qur’an, di mana terjadinya banyak kesalahan-yang jelas ada akibat keletihan dalam penulisan-dianggap sebagai variasi yang betul-betul terjadi, sebagai bukti yang dianggap dapat merusak kitab suci kaum Muslimin.
Betul bahwa ini sangat susah dalam menentukan apakah kesalahan ini disengaja atau tidak; untuk marilah kita selesaikan dua kemungkinan yang dapat mengakibatkan kerusakan teks Al-Qur’an.
Sebagaimana kita maklumi, Mushaf ‘Uthmani betul-betul minus tanda titik. Goldziher yakin bahwa perbedaan bacaan dalam Al-Qur’an adalah akibat kekeliruan dalam penulisan bahasa Arab (palaeografi) zaman dulu, tidak ada titik dan tidak ada tanda diakritikal. Oleh karena itu, bentuk kata fil saat dibuang tanda titiknya memungkinkan lahirnya ragam bacaan seperti: ,
Ini berarti: dia telah dibunuh seekor gajah sebelum mencium tubuh bagian depan seperti yang telah disebut.2 Dalam bab ini saya akan mencoba menolak anggapan tentang palaeografi Arab yang tidak mempunyai tanda titik sebagai sumber kerusakan, distorsi, dan penyelewengan terhadap Al-Qur’ an.
1. Sistem Bacaan (Qira’at) Sebagai Sunnah
Ilmu qira’at yang benar (ilmu seni baca AI-Qur’an secara tepat) diperkenalkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri, suatu praktik (sunnah) yang menunjukkan tata cara bacaan setiap ayat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan kewahyuan AI-Qur’an: Teks Al-Qur’an telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan dan dengan mengumumkannya secara lisan pula berarti Nabi Muhammad saw. secara otomatis menyediakan teks dan cara pengucapannya pada umatnya. Kedua-duanya haram untuk bercerai.
‘Umar dan Hisham bin Hakim ketika berselisih bacaan tentang sepotong ayat dalam Surah al-Furqan walaupun pernah sama-sama belajar langsung dari Nabi Muhammad saw., ‘Umar bertanya pada Hisham siapa yang telah mengajarnya. Dia menjawab, “Nabi Muhammad 3 Kejadian serupa dialami oleh Ubayy bin Ka’b.4 Tidak ada seorang sahabat yang berani mengada-ada membuat silabus sendiri: semua bacaan sekecil apa pun merupakan warisan Nabi Muhammad .
Kita juga menemukan seorang ahli tata bahasa5 yang menyatakan bahwa bacaan kata-kata tertentu, menurutnya, lebih disukai jika mengikuti tata cara aturan bahasa karena perubahan dalam tanda diakritikal tidak membawa makna yang berarti. Walau demikian, ilmuwan-ilmuwan tetap memegang teguh sistem bacaan yang diperkenalkan melalui saluran atau sumber yang sah guna menolak usaha mengada-ada serta tetap mempertahankan pandangan bahwa qira’at hukumnya sunnah yang tidak ada seorang pun memiliki wewenang untuk mengubah seenaknya.
Kita perlu mencatat, biasanya orang-orang tidak mau membeli Mushaf di pasar murahan setelah selesai belanja waktu pagi dari penjual ikan dan sayuran lalu pulang menghafal surah secara pribadi.6 Belajar secara lisan melalui seorang instruktur yang memiliki otoritas keilmuan sangat diperlukan, biasanya rata-rata lima ayat per hari. Tradisi ini terjadi di akhir seperempat pertama abad pertama hijrah ketika Abu Bakr bin ‘Ayyash (w. 193 H.) belajar AlQur an dari Ibn Abi an-Najud (w. 127 H.) sewaktu masih muda.7 Artinya, tidak ada bacaan bermula dari kevakuman atau hasil tebakan seorang penggubah yang dilakukan secara pribadi di mana ketika mulai muncul lebih banyak bacaan orang-orang yang memiliki otoritas, semua sumber dapat dilacak sampai kepada Nabi Muhammad Pada zaman sahabat muncul sebuah buku tentang subjek ragam bacaan yang dibuat untuk kepentingan masa depan dalam skala kecil.8 Dengan waktu yang telah menyaksikan perkembangan buku yang semakin banyak untuk membandingkan bacaan ilmuwan yang terkenal dari beberapa pusat keilmuan, ujung tombak terdapat dalam buku Ibn Mujahid.
2. Perlu Banyak Ragam Sistem Bacaan:
Penyederhanaan Bacaan bagi Mereka yang tak Biasa (Non Arab)
Kesatuan dialek yang sudah Nabi biasa dengannya sewaktu masih di Mekah mulai sirna setibanya di Madinah. Dengan meluasnya ekspansi Islam melintasi belahan wilayah Arab lain dengan suku bangsa dan dialek baru, berarti berakhirnya dialek kaum Quraish yang dirasa sulit untuk dipertahankan. Dalam kitab sahihnya, Muslim mengutip hadith berikut ini:
Ubayy bin Ka’b melaporkan bahwa ketika Nabi berada dekat lokasi banu Ghifar Malaikat Jibril datang dan berkata, “Allah telah menyuruh kamu untuk membaca Al-Qur’an kepada kaummu dalam satu dialek,” lalu Nabi bersabda, “Saya mohon Ampunan Allah. Kaumku tidak mampu untuk itu” lalu Jibril datang lagi untuk kedua kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu agar membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam dua dialek,” Nabi Muhammad lalu menjawab, “Saya mohon ampunan Allah. Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Jibril datang ketiga kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu untuk membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam tiga dialek,” dan lagi-lagi Nabi Muhammad %% berkata, “Saya mohon arnpunan Allah, Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Lalu Jibril datang kepadanya keempat kalinya dan menyatakan, “Allah telah mengizinkanmu membacakan Al-Qui an kepada kaummu dalam tujuh dialek, dan dalam dialek apa saja mereka gunakan, sah-sah saja.”9
Ubayy (bin Ka’b) juga melaporkan.
Rasulullah bertemu Malaikat jibril di Batu Mira’ (di pinggiran Madinah, dekat Quba) dan berkata kepadanya, ” Saya telah diutus kepada suatu bangsa buta huruf, di antaranya, orang tua miskin, nenek-nenek, dan juga anak-anak,” Jibril menjawab, “Jadi suruh saja mereka membaca Al-Qur’an dalam tujuh dialek (ahruf).”
Lebih dari dua puluh sahabat telah meriwayatkan hadith yang mengukuhkan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan dalam tujuh dialek ( ).11 Di sini kita tambahkan bahwa ada empat puluh pendapat ilmuwan tentang makna ahruf (secara literal: huruf-huruf). Beberapa dari kalangan mereka mengartikannya begitu jauh, tetapi kebanyakan sepakat bahwa tujuan utama adalah memberi kemudahan membaca Al-Qur’an bagi mereka yang tidak terbiasa dengan dialek orang Quraish. Konsesi diberikan melalui anugerah Allah
Sebelumnya telah kita lihat bagaimana dialek yang berlainan telah memicu perselisihan pada dasawarsa berikutnya, di mana mempercepat langkah ‘Uthman menyiapkan sebuah Mushaf dalam dialek orang Quraish. Akhirnya, jumlah semua ragam bacaan yang terdapat dalam kerangka lima Mushaf resmi tidak lebih dari empat.puluh karakter, dan seluruh pembaca yang ditugaskan mengajar Al-Qur an wajib mengikuti teks Mushaf tersebut clan agar meneliti sumber otoritas dari mana mereka mempelajari bacaan sebelumnya. Zaid bin Thabit, orang yang begitu penting dalam pengumpulan Al-Qur’an, menyatakan bahwa ( )12 (“Seni bacaan (qira’at) Al-Qur’an merupakan sunnah yang mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh”). Penjelasan akan hal ini telah kita masukan ke dalam bab-bab sebelumnya.
Variasi adalah suatu istilah yang saya sebenarnya kurang begitu sreg memakainya. Dalam masalah tertentu, istilah itu secara definitif dapat memberi nuansa akan ketidakpastian. Jika pengarang ash menulis satu kalimat dengan caranya sendiri, kemudian rusak akibat kesalahan dalam menulis lalu kita perkenalkan prinsip ketidakpastian; akhirnya penyunting yang tak dapat membedakan mana yang betul dan mana yang salah, akan meletakkan apa yang ia sangka sesuka hatinya ke dalam teks, sedangkan lainnya dimasukkan ke dalam catatan pinggir. Demikian halnya dengan masalah variasi (ragam bacaan). Akan tetapi masalah Al-Qur’an jelas berlainan karena Nabi Muhammad , satu-satunya khalifah Allah sebagai penerima wahyu dan transmisinya, secara pribadi mengajarkan ayat-ayat dalam banyak cara. Di sini tak ada dasar keraguraguan, tak terdapat istilah kabut hitam maupun kebimbangan, clan kata `varian’tampak gagal dalam memberi arti yang masuk akal. Kata multiple jauh dapat memberi penjelasan akurat, oleh karena itu, di sini saya hendak menggiring mereka pada pemakaian “multiple reading’ (banyak bacaan). Salah satu alasan yang melatarbelakangi fenomena ini adalah adanya perbedaan dialek dalam bahasa Arab yang perlu diberi tempat selekas mungkin, seperti telah kita bicarakan di atas. Alasan kedua dapat jadi merupakan sebuah upaya memperjelas masalah dengan cara yang lebih baik, beberapa makna yang tersirat dalam ayat tertentu dengan menggunakan dua kata, yang semuanya muncul resmi dari perintah Allah Contoh yang sangat jelas dalam hal ini adalah Surah al-Fatihah, di mana ayat ke empat dibaca malik (Pemilik) atau malik (Raja) di hari pembalasan. Kedua-dua kata tadi diajarkan oleh Nabi Muhammad , dan oleh karena itu menjadikannya bacaan yang banyak (multiple), bukan beragam (variant).
Tidak heran jika para orientalis menolak keterangan yang diberikan oleh pihak Muslim dan ingin coba-coba merekayasa teori sendiri. Sebagai kepanjangan upaya membuat Al-Qur’an edisi kritikal, tujuannya ingin menyoroti variasi bacaan. Pada tahun 1926 Arthur Jeffery menyepakati bekerja sama dengan Prof Bergstrasser dalam menyiapkan sebuah arsip materi (potongan ayat-ayat Al-Qur’an) agar di suatu masa memungkinkan menulis sejarah perkembangan teks Al-Qur’an.13 Dalam pencariannya dia meneliti kurang lebih 170 jilid-beberapa sumber masih dapat dipercaya, namun banyak bernilai kelas murahan. Koleksinya tentang varian sampai 300 halaman dalam bentuk cetak, mencakup Mushaf pribadi yang dihasilkan oleh sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Dalam bab ini saya akan membatasi diri melakukan kajian kritis pada satu aspek jerih payah yang dilakukan Jeffery, hasil karyanya tentang variants. Sedang aspek lain kita akan jabarkan kemudian.
3. Penyebab Utama Munculnya Banyak (Multiple) Bacaan
(Variants, beragam): Pandangan Orientalis
Menurut Jeffery kekurangan tanda titik dalam Mushaf `Uthmani berarti merupakan peluang bebas bagi pembaca memberi tanda sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami.14 Jika ia menemukan kata tanpa tanda titik boleh saja dibaca: atau sesuai dengan pilihan karakternya. Menggunakan tanda titik dan tanda lainnya amat diperlukan guna menyesuaikan pemahaman sendiri terhadap ayat itu. Sebelum zaman Jeffery, Goldziher dan lainnya berusaha meyakinkan bahwa menggunakan skrip yang tidak ada tanda titik telah mengakibatkan munculnya perbedaan. Dalam memperkuat anggapannya, Goldziher menyuguhkan beberapa contoh potensial yang ia bagi ke dalam dua kelompok.15
Perbedaan karena tidak ada kerangka tanda titik. Tiga contoh mungkin cukup:
.
a. dapat dibaca: 16
b. dapat dibaca: 17
c. dapat dibaca: 18
Perbedaan karena tidak adanya tanda diakritikal
Bagi yang tidak begitu mengenal sejarah seni baca Al-Qur’an (qira’at), contoh seperti itu mungkin dianggap sah. Tetapi walau bagaimanapun semua teori harus berhadapan pada ujian terlebih dulu sebelum dipertimbangkan sebagai teori yang sah, dan kajian Islam sayangnya berkembang dengan satu cara yang slap pakai tanpa memerlukan ujian segala. Jadi marilah kita evaluasi pernyataan-pernyataan mereka.
Tampaknya Jeffery dan Golziher benar melupakan tradisi pengajaran secara lisan, satu mandat atau perintah yang hanya melalui seorang instruktur kelas kakap, ilmu Islam dapat diperoleh. Banyak sekali ungkapan Al-Qur an yang dapat secara kontekstual memasukkan lebih dari satu titik dan tanda diakrikital, tetapi dalam banyak hal, seorang ilmuwan hanya membaca dengan satu cara. Ketika perbedaan muncul (dan ini sangat jarang terjadi) kedua kerangka bacaan tetap mengacu pada Mushaf ‘Uthmani, dan tiap kelompok dapat menjustifikasi bacaannya atas dasar otoritas mata rantai atau silsilah yang berakhir pada Nabi Muhammad saw.19 Atas dasar ini kita dapat menyingkirkan tiap pembaca yang memberi pendapat nyleneh ingin memasukkan titik dan tanda diakritikal menurut selera keinginan dirinya. Walaupun telah banyak fakta dalam teori mereka, hendaknya mau mempertimbangkan jumlah pembaca dan ribuan kerangka (naskah) yang dapat dibaca melalui empat atau lima cara; Jumlah perbedaan tidak mencapai angka ratusan ribu atau mungkin jutaan. Ibn Mujahid (w. 324 H.) menghitung, seluruh Mushaf semuanya hanya ada kira-kira satu ribu multiple bacaan saja.20 Membandingkan teori dengan kenyataan ini hanya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis mereka.
Beberapa contoh konkret untuk membantu memperkuat pendapat saya:
Contoh pertama (dalam kolom pertama, kata yang diragukan diberi tanda dengan warna yang berbeda; kolom tengah adalah rujukan surah: ayat):
Kata yang berwarna dalam tiga ayat dapat dibaca menurut konteksnya seperti khat atau khat
Contoh kedua:
Secara kosakata (leksikografi) kedua-dua bentuk adalah sah pada setiap kasus.
Contoh ketiga
Sekali lagi, Menurut leksikografi kedua-dua bentuk ini adalah sah pada setiap ayat.21
Saya dapat menggoreskan tinta pena lebih kuat dengan mengangkat contoh lebih banyak lagi, tetapi contoh di atas sudah dirasa cukup untuk membuktikan pendapat saya. Secara literal ada ribuan contoh di mana kedua-dua bentuk kata secara kontekstual adalah sah tetapi hanya satu yang dipakai secara kolektif; jadi sebenarnya banyak lagi contoh yang sama dengan yang mereka kemukakan dan malahan mengungguli teori Jeffery dan Goldziher.
Sekarang mari kita bertanya: memasukkan tanda titik kepada teks yang minus titik, kapan kesalahan tekstual yang mengakibatkan kerusakan dan menjadi bahaya? Ketika kita tidak memiliki alat ukur dalam membedakan mana yang benar dan yang salah, ini sebagai penyebab yang membahayakan. Seandainya kita mempunyai dua manuskrip, masing-masing mengandung berikut ini: “Dia mencium perempuan dan kemudian melarikan diri” dan “Dia membunuh perempuan dan kemudian melarikan diri”. Sekarang dalam keadaan ketiadaan konteks yang kita jadikan indikasi, untuk memutuskan yang benar menjadi sangat tidak mungkin: jelas sekali kita menghadapi problem tekstual. Andaikan kemudian kita mempunyai sepuluh manuskrip dengan mata rantai transmisi yang berbeda, sembilan di antaranya memuat kalimat: “Dia mencium perempuan, kemudian melarikan diri” sedangkan yang kesepuluh memuat kalimat : “Gajah perempuan kemudian dia melarikan diri” Selain tidak jelas, kalimat ini juga bertentangan dengan sembilan manuskrip yang lain, yang semuanya setuju pada makna yang masuk akal, jadi jelas membuang kata gajah menjadi satu-satunya jawaban yang dapat dipahami. Sama halnya dengan masalah manuskrip Al-Qur’an. Jika kita pilih seratus Mushaf, yang berasal dari beberapa tempat dan masing-masing memuat tulisan tangan dan tanggal yang berbeda, dan jika keseluruhannya sama kecuali satu Mushaf-lagi-lagi, jika kesalahannya tidak masuk akal-maka semua orang yang berakal akan menyifatkannya keganjilan yang sebagai salah tulis.
Jeffery menuduh kaum Muslimin memalsukan kitab mereka sendiri,
Ketika kita membuka Al-Qur’an, kita menemukan bahwa manuskrip zaman klasik tidak ada yang mempunyai tanda huruf hidup (vowels) dan semuanya ditulis dalam skrip Kufi yang sangat berbeda dengan skrip yang dipakai pada naskah zaman kita sekarang. Memodernkan skrip dan ortografi, dengan memberikan tanda huruf hidup dan tanda titik pada teks, yang itu telah benar-benar terjadi, merupakan sesuatu yang disengaja, akan tetapi usaha mereka itu melibatkan pemalsuan teks. Itulah masalah kita sekarang.22
Dia melakukan perkara yang bodoh dengan mengklaim bahwa yang terdahulu dinamakan Mushaf dan ditulis dalam skrip Kufi, karena sebenarnya teks itu ditulis dalam skrip Hejazi berbentuk miring sebagai mana terlihat pada gambar 7.1.23 Tambah lagi, dia mengakui skrip Kufi sangat berbeda dari skrip yang digunakan hari ini, dan bahkan menganggap pembaruan skrip sebagai bentuk pemalsuan. Andaikan saya menulis artikel seluruhnya dengan tangan dan mengirimkannya kepada penerbit, haruskah saya anggap bahwa dia bersalah karena memalsukan artikel saya ketika saya melihat artikel saya dalam bentuk huruf Helvetika atau Time New Roman? Apakah bahasa Arab dianggap bahasa mati, seperti halnya huruf Hieroglyphic, dan apakah AI-Qur’an sudah hilang beratus-ratus tahun, seperti Taurat, lalu pemalsuan teks terjadi jauh ke belakang setelah itu; karena kita coba berusaha meraba-raba membaca buku yang sudah lama hilang dalam bentuk skrip yang tidak dapat dibaca, memaksakan sangkaan kita pada keseluruhan teks. Kenyataannya, walaupun skrip Kufi masih dapat dibaca hari ini, dan tradisi pengalihan (transmisi) Al-Qur’an secara lisan telah menjiwai kaum Muslimin, menjadikan persoalan yang ada semakin terang, maka Jeffery tidak mempunyai masalah lagi yang perlu dipertahankan mati-matian.24
4. Penyebab Kedua yang Mengakibatkan Banyak (Multiple) Bacaan (varian, Beragam)
Dalam pengumpulan materi untuk keperluan penelitian ini, Jeffery menggunakan metodologi orientalis dan menolak cara kritis kaum Muslimin dalam menganalisis isnad.25 Dia menjelaskan kriterianya:
Dan orang-orang yang dianalisis, metode mereka adalah untuk mengumpulkan semua pendapat, spekulasi, asas praduga, dan kecenderungan untuk menyimpulkan melalui pemilihan clan penemuan yang sesuai dengan tempat, waktu, dan kondisi pada waktu mengambil pertimbangan teks tanpa menghiraukan mata rantai riwayat. Untuk membangun teks Taurat dan Injil sama caranya dengan pembuatan teks puisi Homer atau surat Aristotle, yang ahli filsafat.26
Sudah tentu kita tidak dapat mengembalikan masa lampau, tetapi kita dapat mengingat sebagian yang ada melalui sistem persaksian dan pertimbangannya. Menurut metodologi penelitian dan pendirian ilmuwan Muslim, sangat tidak jujur dalam masalah saksi, jika menempatkan persaksian orang-orang jujur dan amanah sejajar tingkatannya dengan pembohong. Tetapi metodologi Jeffery memberikan pengakuan anggapan pembohong sama seperti seorang yang jujur;27 Selama tujuan mereka terlaksana, dia dan teman penyokongnya menerima material yang berbeda-beda seperti yang dituduhkan kepada tulisan Ibn Mas’ud atau siapa saja, terlepas sumber yang ada dapat dipercaya atau tidak, dan memandang rendah kekayaan bacaan yang begitu terkenal.
Dia beralasan bahwa selain dari tidak ada tanda titik (yang saya telah menjawabnya), perbedaan juga muncul karena beberapa pembaca menggunakan teks yang bertanggalkan sebelum Mushaf ‘Uthmani, yang kebetulan berbeda dengan kerangka ‘Uthmani dan yang tidak dimusnahkan walaupun ada perintah dari khalifah.28 Tetapi anggapan ini dibesar-besarkan tanpa ada bukti yang kukuh. Contohnya, koleksi Jeffery tentang varian dari Mushaf Ibn Mas’ud dianggap tidak sah karena sejak awal lagi tidak ada satu pun dalam daftar bacaannya yang menyebut Mushaf Ibn Mas’ud. Kebanyakan bukti yang ada hanya menyatakan bahwa Ibn Mas’ud menyebut ayat ini dengan cara begitu tanpa ada bukti mata rantai riwayat. Ini tidak lebih dari cerita omong kosong, sekadar kabar burung dan supaya dia dapat meningkatkan anggapan yang bernilai murahan sebagai argumentasi melawan bacaan yang terbukti betul guna membantah metode yang membedakan antara periwayat yang jujur dan yang gadungan.29
Tuduhan Jeffery melebar tidak hanya Mushaf Ibn Mas’ud, oleh karena itu saya di sini akan menjawab dengan ringkas tentang riwayat yang salah yang menyatakan bahwa Khalifah ‘Ali membaca satu ayat yang bertentangan dengan Mushaf ‘Uthmanl. Bacaan: (menambahkan dua kata pada ayat 103:1).30 Pengarang buku al-Mabani31 mengecam bahwa riwayat ini ada tiga kesalahan:
‘Asim bin Abi an-Najud, salah seorang mahasiswa cemerlang as-Sulami, yang kemudian jadi salah seorang mahasiswa ‘Ali yang dihormati, mengaitkan bahwa ‘Ali membaca ayat ini sama seperti yang ada di Mushaf ‘Uthmani.
‘Ali menjadi khalifah setelah terbunuhnya ‘Uthman. Apakah dia percaya bahwa pendahulunya bersalah karena menghilangkan kata-kata terterrtu, tentunya ini merupakan kewajiban ‘Ali untuk membetulkan kesalahannya. Jika tidak maka akan dituduh mengkhianati kepercayaannya.
Usaha ‘Uthman mendapatkan dukungan dari seluruh umat Muslim; ‘Ali sendiri berkata bahwa tidak ada seorang pun yang bersuara menentang, dan kalau dia merasa tidak suka, tentu ia naik pitam.32
Pandangan ini hanya satu dari beribu pandangan dari sahabat Nabi Muhammad yang bersemangat menyaksikan pecahan Al-Qur’an tua, sebagaimana kuatnya kesaksian mereka waktu menyetujui keutuhan naskah Al-Qur’an. Tidak ada tambahan, pengurangan, maupun penyelewengan. Siapa saja yang menolak pendapat ini dan mencoba untuk membawa barang baru, mengklaim ini adalah teks sebelum ‘Uthmani yang disukai oleh sahabat ini atau itu, adalah fitnah buat para sahabat yang sangat kuat imannya. Ibn Mas’ud sendiri, pengarang al-Masahif dan yang melengkapi bermacam-macam qira’at yang tidak sama dengan teks `Uthmani, menolak untuk mengategorikan nilai mereka seperti Al-Qur’an. Dia berkata, “Kita tidak mengakui bacaan AlQur’an kecuali membaca apa yang tertulis dalam Mushaf `Uthmani. Jika ada seseorang yang membaca sesuatu yang bertentangan dengan Mushaf ini dalam shalat, maka saya akan menyuruh agar mengulang shalat kembali.”33
Tahap pembentukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terjadi dalam waktu yang penuh perubahan, keadaan politik waktu itu menjadikan dua teks benar-benar acak-acakan. Upaya meniru secara tepat tentang perilaku kejahatan ini ke dalam teks Al-Qur’an, ilmuwan Barat melihat semua bukti umat Islam dengan penuh prasangka selagi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru penuh dengan keraguan di dalamnya.34 Sedang rasa was-was terhadap kebenaran pada variasi materi yang menghantui pikiran Jeffery, namun demikian dia tidak pernah mencantumkan dalam bukunya.
Beberapa varian kelihatannya tidak mungkin terjadi secara bahasa… Beberapa kalangan berusaha memberikan kesan bahwa perbedaan ini merupakan kelanjutan hasil ciptaan para ahli ilmu bahasa (philologers)… Hanya saja, sebagian besar menganggap suatu kelanjutan kehidupan hakiki sejak sebelum zaman teks ‘Uthmani, kendati hanya setelah melewati pencarian kajian kritis keilmuan modern … apakah kita mesti bebas menggunakannya dalam rekonstruksi yang dituju tentang sejarah teks AlQur’ an.35
Jasa ini dan pencarian kritis terhadap keilmuan modern yang dilakukan Jeffery, sayangnya, tidak lebih dari slogan gaya baru yang tak berarti.
5. Mengubab Sebuah Kata Karena Kesamaannya dalam Waktu Membaca
Goldziher, Blachere dan yang lainnya menganggap bahwa di zaman masyarakat Muslim terdahulu, mengubah sebuah kata dalam ayat Al-Qur’ an untuk mencari kesamaan adalah sangat dibolehkan.36 Alasan yang melandasi anggapan mereka ada dua faktor:
At-Tabari melaporkan melalui `Umar bahwa Nabi berkata, “Oh ‘Umar, semua AI-Qur’an adalah betul (contohnya AI-Qur’an akan tetap sah walau secara tak sengaja anda terlewat dari ayat ke ayat yang lain), kecuali anda tak sengaja tergelincir dari satu ayat yang mendukung rahmat Allah pada seseorang mengabarkan tentang murka-Nya, atau sebaliknya”.37
Hadith ini membuktikan dirinya sebagai dasar yang kuat membolehkan khayalan aktif imaginasi bagi mereka yang tetap memaksakan pendapat bahwa persamaan kata dapat dipakai sebebas mungkin selama ruh kata-kata itu tetap dipertahankan. Adakah masalah seperti ini pernah terjadi? Kita tahu dari hukum perjanjian kita bahwa tidak ada seorang pengarang yang akan memberi persetujuan mengganti kalimatnya dengan kata-kata persamaan (synonyms), walaupun kata-kata itu dipilih secara teliti. Dalam masalah Al-Qur’an, yang bukan buatan penduduk bumi ini, Nabi Muhammad saw. sendiri tidak memiliki wewenang mengubah ayatayatnya. Jadi bagaimana mungkin ia akan membolehkan orang lain melakukannya?38 Jika seseorang salah mengutip pekerja kantor secara tak sengaja, mungkin pengaruhnya sangat kecil, tetapi salah kutip seorang hakim akan dapat menghasut sikap bertolak belakang yang lebih besar; lantas bagaimana jika seseorang dengan sengaja salah dalam mengutip Kitab Allah?
Seseorang yang sudah biasa membaca dari hapalan tahu persis bagaimana otak akan mudah tergelincir, lompat ke surah lain dan setengahnya lagi ditinggalkan sedangkan la sendiri tidak begitu sadar. Karena merasa takut akan membuat kesalahan seperti ini, orang-orang memilih untuk tidak membaca seluruhnya hanya dari hafalan saja. Walaupun Nabi Muhammad selalu menganjurkan sahabatnya untuk menghafal dan membaca sebanyak mungkin, pernyataannya sangat menolong atau meringankan rasa kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal ini.
Alasan kedua yang melandasi anggapan para orientalis ini adalah, di dalam banyak hal, qira’at Ibn Mas’ud dan yang lainnya dibumbui ulasan tafsir ( ) Al-Bukhari mendokumentasikan seperti berikut ini:
Nafi meriwayatkan, “Apabila Ibn ‘Umar membaca Al-Qur’an dia tak akan ngomong dengan siapa pun sampai dia selesai membacanya. Suatu ketika saya memegang AI-Qur’an saat ia membaca Surah al-Baqarah melalui hafalannya; tiba-tiba dia berhenti pada ayat tertentu dan bertanya, “Tahukah anda, dalam keadaan apa ayat ini telah diturunkan?” Saya menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Ayat ini diturunkan dalam keadaan ini dan itu.” Lalu ia meneruskan bacaannya.39
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa beberapa ilmuwan mengajukan catatan penjelasan pada pendengarnya sewaktu ia membacakan Al-Qur’an.40 Ini tidak dapat kita dianggap sebagai variant reading (bacaan yang berbedabeda) yang sah dan tidak pula dapat menganggapnya sebagai bagian dari Al-Qur’an. Beberapa kalangan Orientalis menyatakan bahwa ilmuwan ini bermaksud mengembangkan teks Al-Qur’an; anggapan seperti ini adalah sebagai hinaan terhadap tuhan, menyindir secara tak langsung bahwa sahabat merasa lebih pandai dari Allah yang Mahatahu dan Mahabijaksana.
6. Kesimpulan
Setelah meneliti hipotesis Jeffery dan Goldziher, dan menganggap bukti yang tepat, tampaknya tak ada cara lain kecuali meletakkan teori mereka ke pinggiran. Perbedaan yang mereka prediksi sekarang telah diketahui, dalam contoh yang banyak (tidak terkira) di mana sebuah kerangka huruf dapat menerima lebih dari satu set tanda titik dan diakritikal sesuai dengan konteksnya; masalah yang jarang terjadi di mana perbedaan yang diakui dalam qira’at tidak akan membawa pengaruh terhadap makna teks.41 Goldziher sendiri mengakui ini,42 sebagaimana pula Margoliouth:
Dalam banyak masalah ketidakjelasan skrip yang mengakibatkan bacaan ragam bacaan sangat sedikit sekali konsekuensinya.43
Keinginan mereka untuk membuktikan adanya kerusakan teks Al-Qur’an dengan Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), para orientalis tidak menghiraukan kondisi politik agama (religio political condition) negara Muslim yang baru lahir, dan bagaimana berbeda dari krisis yang menimpa masyarakat Yahudi-Kristen pada awal pertumbuhannya. Perbedaannya sebenarnya sangat jauh sekali dan tidak lebih menarik seperti seorang anak jelas keturunannya dibandingkan dengan seorang anak yang diabaikan sebelum jadi yatim piatu, dan yang ironisnya adalah cara menentukan orang tua anak yang jelas keturunannya, menggunakan prosedur yang telah ditentukan untuk anak yang diabaikan. Saya telah berusaha menunjukkan kesalahan dalam logika orientalis tetapi, sebagaimana pengalaman telah mengajarkan saya,44 saya hanya berharap bahwa semua observasi ini tidak sekaligus diabaikan oleh kelompok mereka. Di sini saya hanya menunjukkan kesalahan pendekatan mereka, tetapi saya sangat sadar bahwa debat kusir seperti ini di mana pun harus ada ujungnya; kalau tidak ilmuwan Muslim akan terus sibuk perang tulisan yang tidak akan ada habisnya.
Bagi Muslim yang saleh tidak ragu-ragu lagi bahwa Allah berjanji akan memelihara Kitab-Nya, tidak akan memilih bahasa atau skrip yang lemah guna menyampaikan wahyu-Nya yang terakhir. Dalam kapasitas sastra, ekspresi yang mendalam, gaya puitis, tulisan ejaannya bahasa Arab adalah bahasa yang cukup maju yang telah diberkati dan pilihan Allah melebihi bahasa-bahasa lain. Oleh karena itu, ini merupakan keistimewaan bagi masyarakat Muslim untuk terus membaca dalam bentuknya yang asli, dan memasukkan tanda-tanda ke dalamnya adalah sebuah usaha agar orang non-Arab juga mampu membaca yang asli secara mudah.
Sudah lama saya menyinggung tentang metodologi Islam dan peranannya yang penting dalam memelihara seni baca Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad agar bebas dari pemalsuan dari abad ke abad. Penelitian tentang metodologi ini secara terperinci akan dibahas dalam bab berikutnya.
1. Lihat hlm 272 dan hlm. 320-23.
2. Untuk diskusi tentang teks seperti di atas, tidak ada titik, yang mengakibatkan kerusakan dan kapan tidak mengakibatkan, lihat kembali bagian 3 dalam bab ini.
3. Al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Our’an: 5.
4. Muslim, Sahih, Musafirin, hadith no. 205.
5. Ibn Shanbudh (meninggal 328 Hijrah). Lihat buku ini hlm. 222-3.
6. Sebagaimana disebutkan pada hlm. 118-120, Jual beli Mushaf muncul pada pertengahan abad pertama hijrah. Cara pendidikan Islam adalah untuk mendidik murid-murid mendapatkan skill literasi (kemampuan membaca dan menulis), kemudian diikuti dengan membaca kitab suci Al-Qur’an dari awal sampai akhir di bawah bimbingan yang benar. Al-Qur’an adalah buku pertama yang mereka pelajari dan kalau selesai sudah pasti mereka telah mcnguasai bahasa Arab. Kebiasaannya setelah itu mercka memerlukan naskah Mushaf pribadi, baik untuk mengulang kaji hafalan mereka atau untuk digunakan mengajar yang lain, dan oleh karena itu pembeli Mushaf dari pasar setempat telah pintar dalam seni bacaan (qira’at), dan sudah kenal dengan surah di dalamnya sejak hari persekolahan mereka. Sayangnya, hanya baru-baru saja Al-Qur’ an digunakan sebagai alat bantu pengajaran dan agak sedikit santai.
7. Ibn Mujahid, Kitab as-Sab`ah, hlm. 71.
8. Lihat Arthur Jeffery (ed.) Muqaddimatan fi `ulum Al-Qur’an (Dua pendahuluan kepada ilmuilmu Al-Qur’an), Kairo, 1954, hlm. 276. Sangat penting untuk dicatat bahwa sebelum kepada Ibn Mujahid, sekitar empat puluh buku telah ditulis tentang subjek ini (Dr. `Abdul Hadi al-Fadli, Qira’at Ibn Kathir wa Atharuha fi ad-Dirasat an-Nahawiyyah (Ph.D. Thesis), Universitas Kairo, 1975, hlm. 60-65, sebagaimana dikutip oleh Ghanim Qadduri, Rasm al-Mushaf, hlm. 659)
9. Muslim, Sahih, Kitab as-Salat, hadith no. 1789, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.Siddiqi’ dengan beberapa perubahan’.
10. lbn Hanbal, Musnad, v:132, hadith no. 21242.
11. Lihat as-Suyuti, al-Itqan, i: 131 -141.
12. As-Suyuti, al-Itqan, i: 211.
13. A. Jeffery, Materials for the History of the Text of the Qur’an, E.J. Brill, Leiden, 1937. Saya mungkin menambahkan bahwa Jeffery menggunakan jargon Judeo-Christian dalam menyusun arsip ini, “Canonization by Ibn Mujahid,” hlm. 11; “Muslim Massora,” hlm. 3, 5 (catatan kaki); dan menggunakan t untuk mcnunjukkan mati dan bukan disalib seperti jiwa kristus yang kerdil!) hlm. 14, dst.
14. A. Jeffery, “The Textual History of the Qui an”, in A Jeffcry, The Qur’an as Scripture, R.F. Moore Co., New York, 1952, hlm. 97.
15. ‘Abdul-Halim Najjar, Madhahib at-Tafsiral-Islami, Kairo, 1955, hlm. 9-16. Ini terjemahan bahasa Arab bukunya Goldziher.
16. Qur’an 7:48. Ini contoh yang. salah, lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’ah, hlm. 281-2.
17. Qur’an 4:94.
18. Qur’an 7:57.
19. Masyarakat Muslim tidak ada masalah dengan isnad atau riwayat ketika menghafal Al-Qur’an, karena ini tidak praktis dan tidak perlu untuk orang biasa setelah kita tahu bahwa Al-Qur’an ada di mana-mana di setiap rumah dan setiap mulut. Bagaimanapun pembaca yang professional dan Ilmuwan mengikuti isnads, sebagai penjaga yang dipercayai untuk memastikan bahwa teks yang sampai pada masyarakat adalah tepat dan tidak ada kerusakan. Saya juga sama, walaupun menulis pada abad 15 H. / 21 M., saya bisa memberikan isnad untuk bacaan Al-Qur’an.
20. Ilmuwan yang meneliti naskah resmi Mushaf ‘Uthmani, mencatat perbedaan hanya empat puluh karakter; ini berdasarkan pada perbedaan dalam kerangka itu sendiri. Satu ribu macam bacaan menurut Ibn Mujahid itu dikarenakan perbedaan dalam meletakkan tanda titik dan tanda pada katakata tertentu, selain dari perbedaan kerangka huruf.
21. Untuk kajian yang lebih detail tentang topik ini, lihat ‘Abdul-Fattah al-Qadi, “al-Qira’at fi Nazar al-Mustashriqin wa al-Mulhidin”, Majallai al-Azhar, Ramadan 1390/1970 dan seterusnya.
22. A. Jeffery, “The Textual History of the Qur’an”, in A. Jeffery, The Qur’an as Scripture, hlm.
89-90.
23. Skrip Kuf telah terkenal setelah itu, pada pertengahan abad pertama Hijrah. Lihat inskripsi Kufi dalam gambar 9.12-9.14 (masing-masing bertanggalkan 40, 80 dan 84 Hijrah).
24. Di sini kita bisa menyebutkan bahasa kebanyakan odentalis percaya pada skrip perjanjian lama, walaupun skrip Hebrew sudah diubah dua kali dan tanda diakritikal tidak diberikan pada teks konsonan sehingga abad 10 Masehi, jarab waktu 25 abad. Sudah pasti kesenjangan yang lama ini telah memberikan pengaruh yang tidak bisa dibetulkan pada teks Hebrew yang digunakan sekarang. (lihat buku ini hlm. 238-56).
25. Rantai saksi yang terlibat dalam periwayatan kejadian. Lihat bab yang akan datang.
26. Lihat Arthur Jeffery (ed) al Masahif, Pendahuluan (dalam bahasa Arab), hlm..4
27. Kasus ini sama dengan kasus seseorang yang memiliki sebuah rumah sejak beberapa generasi dan mempunyai bukti yang diperlukan untuk mendukung klaimnya, tiba-tiba suatu waktu ada orang yang kelihatannya asing tidak tahu dari mana ia datang mengklaim bahwa rumah itu kepunyaannya. Dengan menggunakan metodologi Jeffery kita harus menerima klaim orang asing itu dan mengusir orang yang tinggal di rumah sebab cerita si orang asing ini salah, sensasi dan bertentangan dengan perkataan semua orang.
28. Lihat Jeffery (ed.), al-Masahif, Pendahuluan, hlm. 7-8
29. Mushaf Ibn Mas’ud, dan Analisis Jeffery adalah topik yang sangat penting. Oleh karena itu, saya diskusikan dengan panjang lebar di bab 13.
30. A. Jeffery, Materials, hlm. 192
31. A. Jeffery (ed.) , Muqaddimatan, hlm. 103-104
32 Lihat buku ini hlm. 106.
33. lbn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 53-54.
34. Baru-baru ini saya membaca kembali jilid luar karangan Juynboll, Muslim Tradition, yang gambar luarnya diambil dari manuskrip Arab tertua tentang dokumen yang ditulis di atas kertas. Catatan itu dibaca (ditegaskan oleh penulis), “Manuskrip ini telah dituduhkan ditulis pada tahun 252 H. / 866 M.” Berapa kali kita bisa mengharapkan untuk melihat yang sama pada Perjanjian Lama dan Baru atau literature yang lainnya?
35. A, Jeffery, Materials, pendahuluan, hlm. x, Lebih menekankan.
36. R, glachere, Introduction au Coran, 1947, hlm. 69-70; lihat juga ‘Abdus-Sabnr Shahin, Tarikh Al-Qur’an, hlm. 84-85.
37. At-Tabari, Tafsir, i:13
38. Qur’an 10:15: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah (oh Muhammad), “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai tuhanku kepada siksa hari yang besar (Kiamat).”
39. Al-Bukhari, Sahih, vi:38, hadith no. 50.
40. ‘Abdus-Sabur Shahin, Tarikh Al-Qur’an, hlm. 15-16. Di sini Golziher mengakui bahwa beberapa tambahan adalah merupakan tafsir (penjelasannya).
41. Sangat jauh berbeda dengan perbedaan yang terdapat di Injil yang ditemukan dalam manuskrip, seperti Yohanes 1:18 ( Yang hanya satu satunya, Tuhan” dan “Yang hanya mempunyai satu anak”), yang mengandung dunia yang berbeda. Dan menurut P.W. Comfort, terjemahan literal adalah “satu Tuhan yang unik’ (Early Manuscript & Modern Translations of the New Testament, Baker Books, 1990, hlm. 105. Untuk lebih detailnya lihat diskusi tentang manuskrip hlm. 75 (Bodmer Papyrus xiv-xv) dalam hlm. 286-7.
42. ‘Abdul-Halim Najjar, Madhahib at-Tafsir al-lslami, hlm. 12-13.
43. D.S. Margoliouth, “Textual Variations,” The Moslem World, Oktober, 1925. Vol. 14 no. 4, hlm. 340.
44. Kebanyakkan karya saya terdahulu, seperti Studies in Early Hadith Literature, Kritikan saya terhadap Goldziher dan On Schacht’s Origin of Muhammadan Jurisprudence (sebuah karya untuk menolak Schacht) adalah semua merupakan buku-buku akademik yang serius yang Prof. John Burton memberikan label sebagai “Islamic perspective’ (An Introduction to the Hadith, Edinburgh Univ. Press, 1994, hlm. 206) dan yang telah diabaikan dalam lingkungan akademik.
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 04:18
KESIMPULAN…
- Perbedaan penulisan al-Qur’an (Mushaf) menujukkan perbedaan pola pemikiran (epistemologi) di kalangan sahabat.
- Perbedaan mushaf menyebabkan timbulnya perbedaan pemikiran Islam atau sebaliknya perbedaan pemikiran menyebabkan perbedaan mushaf.
- Keragaman pembacaan al-Qur’an pada masa Nabi dan keragaman penulisan mushaf masa Nabi dan sahabat merupakan bukti dan sebab perkembangan pemikiran Islam secara bebas dan dinamis.
- Penyeragaman pembacaan al-Qur’an dan penulisan mushaf adalah bukti dan sebab kebekuan pemikiran Islam.
- Karena penulisan al-Qur’an menjadi mushaf disempurnakan manusia berarti mushaf al-Qur’an tidak lagi skral, sebab yang sakral hanya wahyu.[ALQURAN MENJADI MUSHAF BUKAN LAGI WAHYU TUHAN]
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:19
hehehehehehe lantas kalau Surah al-Fatihah tidak ada, apa yang dibaca Abdullah Ibn Mas’ud sdr trans?=>ITU HANYA SEBAGAI DOA BUKAN FIRMAN TUHAN…..
KARENA ADA KEJANGGALAN SBB:
-mengapa tuhan memuji dirinya sendiri????
_mengapa tuhan berdoa kepada dirinya sendiri,memohon perlindungan dan jalan yg lurus?????
===========>>>
hehehehehe shalat saja anda sudah MELEMPEM kok mau membahas Al Quran
dan anda seperti heber neter kristen di blog sebelah yang juga ngacir setelah membahas surat Al Fatikhah.
coba baca ayat terakhir shalat Al Fatikhah berikut
1:7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
jadi siapa bilang Allah memuji dan berdoa kepada dirinya sendiri??
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 04:27
hehehehehe shalat saja anda sudah MELEMPEM kok mau membahas Al Quran
dan anda seperti heber neter kristen di blog sebelah yang juga ngacir setelah membahas surat Al Fatikhah.
coba baca ayat terakhir shalat Al Fatikhah berikut
1:7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
jadi siapa bilang Allah memuji dan berdoa kepada dirinya sendiri??
TULIS YANG LENGKAP BOS…..
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
2 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ =>FIRMAN INI DIUCAPKAN OLEH TUHAN…..MANA MUNGKIN YANG MENGUCAPKAN MEMUJI DIRI SENDIRI?
3 Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
4 Yang menguasai di Hari Pembalasan مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
5 Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
6 Tunjukilah kami jalan yang lurus, اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ(BAGAIMANA MUNGKIN TUHAN MEMINTA DITUNJUKI JALAN YANG LURUS?PADAHAL DALAM AYAT LAIN IA MENYATAKAN DIRINYA JALAN YANG LURUS?)
7 (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
Mandra
Oktober 13th, 2011 pukul 04:31
@Bunga
Anda : anda jgn membahas ilmu yang tinggi dgn Bang Edy dkk krn mereka mbulet, contohnya tentang siapa yang nyuruh meniup sangkakala..jelas-jelas diayat tertulis bahwa Anak Manusia, tapi masih mbulet saja.
Kita kasih contoh saja bahwa Yesus punya kuasa mengampuni dosa manusia, itukan bahasa yang mudah untuk menjelaskan bahwa Yesus = Tuhan. mungkin bang TI dan Bang Tam lebih hafal ayatnya…
===> He he he…Anda bilang kami mbulet…? Lhaaa jawaban si TamBunAn bagaimana? apa tidak berputar-putar? Kalau contoh yang anda berikan “bahwa Yesus punya kuasa mengampuni dosa manusia, itukan bahasa yang mudah untuk menjelaskan bahwa Yesus = Tuhan”. Ooooh… jadi cukup cuma itu contohnya, lantas bisa dikatakan Yesus = Tuhan?… Sederhana sekali bung…! Ini masalah prinsipil bung. Semestinya ada kalimat yang mengatakan dengan tegas bahwa Yesus = Tuhan, misalnya :”AKULAH YESUS, TUHANMU, MAKA SEMBAHLAH AKU”. Kalau tidak ada, berarti semuanya hanya tafsiran anda-2 saja. Toch Yesus juga mengatakan, kalau dirinya bukan Tuhan :
Yoh. 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.
===> Jika Yesus mengaku bahwa dirinya hanyalah utusan, berarti sama dengan Islam, Yesus hanyalah seorang Nabi. Dan hal ini didukung oleh pernyataan orang banyak yang menyambutnya :
Luk. 24:19 Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
===> Jelas bukan Mbakyu. Bahwa Yesus, baik dari pengakuannya sendiri maupun oleh orang banyak dinyatakan sebagai Nabi? Anda ingin tahu arti Nabi? Saya kutipkan dari bible anda sendiri :
Yer. 29:19 sebagai ganjaran bahwa mereka tidak mendengarkan perkataan-Ku, demikianlah firman TUHAN, yang telah Kusampaikan kepada mereka terus-menerus dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, yakni para nabi; tetapi kamu tidak mendengarkannya, demikianlah firman TUHAN.
===> Jadi Nabi adalah Perantara antara Tuhan dengan manusia. Dan yang dilakukan oleh Yesus juga sama dengan nabi-2 yang lain. Seperti yang ini :
Hos. 12:10 (12-11) Aku berbicara kepada para nabi dan banyak kali memberi penglihatan dan memberi perumpamaan dengan perantaraan para nabi.
===> Dan dalam menyampaikan ajaran dari Tuhan, Yesus seringkali mendapatkan kekecewaan seperti ini :
Mat. 13:57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya
Apakah ajaran Tuhan yang disampaikan Yesus? ada di sini :
Mat. 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Mat. 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
===> Naaah sudah jelas bukan Mbakyu…. Juga anda bung Trans? He he he…
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:31
KESIMPULAN…
- Perbedaan penulisan al-Qur’an (Mushaf) menujukkan perbedaan pola pemikiran (epistemologi) di kalangan sahabat.
=========>>
yang suci wahyu atau penulisannya sdr trans??
________________________________________________________________________
- Perbedaan mushaf menyebabkan timbulnya perbedaan pemikiran Islam atau sebaliknya perbedaan pemikiran menyebabkan perbedaan mushaf.
===========>>>
bukan perbedaan mushaf sdr trans, tapi perbedaan penafsiran
contoh
“fakir miskin dan anak terlantar DIPELIHARA oleh negara”
apakah anda menganggap bunyi undang2 tersebuat baik atau sebaliknya??
_____________________________________________________________________
- Keragaman pembacaan al-Qur’an pada masa Nabi dan keragaman penulisan mushaf masa Nabi dan sahabat merupakan bukti dan sebab perkembangan pemikiran Islam secara bebas dan dinamis.
=============>>>
lantas apakah anda juga akan menganggap soekarno bodoh karena ejaan dalam teks proklamasi semuanya salah?
_____________________________________________________________________
- Penyeragaman pembacaan al-Qur’an dan penulisan mushaf adalah bukti dan sebab kebekuan pemikiran Islam.
===========>>>
hehehe apa jadinya jika bahasa indonesia tidak mempunyai kitab EYD sd trans?
pastinya kata “saya” bisa menjadi “aku”, “gue” dan lain sebagainya
contoh dalam kitab anda adalah “babi” menjadi “babi hutan”
__________________________________________________________________________
- Karena penulisan al-Qur’an menjadi mushaf disempurnakan manusia berarti mushaf al-Qur’an tidak lagi skral, sebab yang sakral hanya wahyu.[ALQURAN MENJADI MUSHAF BUKAN LAGI WAHYU TUHAN]
=============>>>
dan oleh karena itu sdr trans, maka yang dijaga adalah wahyunya bukan kitabnya yang berarti juga tidak menjadi masalah jika ada kitab yang dimakan kabing
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:36
1:6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
1:7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
lantas siapa yang meminta ditunjukkan jalan yang lurus pada ayat terakir surat Al Fatikhah diatas?? tapi jika anda BINGUNG saya sedikit maklum karena anda mempertuhankan manusia
dan kenapa pada ayat terakhir anda sepertinya BINGUNG untuk berkomentar
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 04:36
dan oleh karena itu sdr trans, maka yang dijaga adalah wahyunya bukan kitabnya yang berarti juga tidak menjadi masalah jika ada kitab yang dimakan kabing
________
ANDAI KITAB YANG ADA JAMAN MUHAMMAD DULU ITU MASIH ADA…DAN TIDAK DIMAKAN KAMBING…TENTU USMAN TIDAK PERLU SUSAH-SUSAH MELAKUKAN PENYERAGAMAN MUSSAF…KRN SERAGAM DARI TULISAN NABI MUHAMMAD SENDIRI…DAN DI CEK TIAP TAHUN OLEH JIBRIL….TETAPI ITU TELAH RAIB DIMAKAN KAMBING…SUNGGUH IRONIS…KATANYA DIJAGA???
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 04:54
ANDAI KITAB YANG ADA JAMAN MUHAMMAD DULU ITU MASIH ADA…DAN TIDAK DIMAKAN KAMBING…TENTU USMAN TIDAK PERLU SUSAH-SUSAH MELAKUKAN PENYERAGAMAN MUSSAF…KRN SERAGAM DARI TULISAN NABI MUHAMMAD SENDIRI…DAN DI CEK TIAP TAHUN OLEH JIBRIL….TETAPI ITU TELAH RAIB DIMAKAN KAMBING…SUNGGUH IRONIS…KATANYA DIJAGA???
==========>>>
dan maaf saja di masa muhammad malah belum ada tuh Al Quran yang berupa kitab
dan sepertinya anda sudah tidak bisa berfikir jernih lagi ya sdr trans?
dulu anda mengatakan ayat tentang rajam yang dimakan kenapa sekarang meningkat menjadi seluruh kitab??
dan sungguh ironis sekali jika orang seperti anda sampai kehilangan akal sehat
Mandra
Oktober 13th, 2011 pukul 05:00
@Trans ind
Anda : SURAT Al-Fatihah =>TIDAK ADA DALAM MUSSAF INI…KARENA ADA KEJANGGALAN SBB:
-mengapa tuhan memuji dirinya sendiri????
_mengapa tuhan berdoa kepada dirinya sendiri,memohon perlindungan dan jalan yg lurus?????
JADI KESIMPULAN YANG ADA SEKARANG VERSI USMAN JAUH DARI ASLI BOS…..
===> Kejanggalan kata anda? He he he…Moso’ tuhan mengajarkan cara berdoa kepada Nabi dan umatnya salah bung? Sama juga ketika Allah mengajarkan cara bertaubat kepada Nabi Adam. Dan banyak lagi ajaran yang diberikan kepada manusia untuk kebaikan manusia. Moso’ koyo ngono janggal toch ? Memangnya Tuhan anda yang tidak Maha Tahu dan mudah sekali Meyesal telah menciptakan makhlukNya sendiri… Hi hi hi hi….. Mushaf versi Usman jauh dari yang asli kata anda? Makanya jangan belajar dari bukunya Robert Morey atau membaca dari situs pecundang koyo’ FFI. Gak berkembang pengetahuan anda bung.
anda : MANAKAH YANG BENAR mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ATAU MUSSAF USMAN???
JELAS SEKALI SURAH 1;113;114 DITOLAK DALAM mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud ….GMN TANGGAPAN UMAT ISLAM??ASLIKAH ALQURAN???JAUH DARI ASLI BOS…..JUJURLAH PADA DIRI SENDIRI….
===> Makanya bung. Kalau diberikan jawaban anda baca dong. Moso harus ditanyakan ulang sih….He he he… Ingin meniru gayanya pecundang di FFI ya….Hi hi hi…
Anda : TUHAN TIDAK DAPAT DIBATASI DIMENSI BOS….PADA SAAT BERSAMAAN TUHAN DAPAT HADIR DALAM DIMENSI SECARA BERSAMA-SAMA….BAPA DAN ROH KUDUS YANG ADA DIDALAM DIRI ISA DAPAT HADIR SECARA BERSAMAAN……ITULAH BEDANYA MANUSIA DENGAN TUHAN….MANUSIA TIDAK BISA MENGHADIRKAN TUBUH,JIWA,ROH SECARA BERSAMAAN….UDAH GUE JAWAB NIH BOS….
===> Tuhan tidak dibatasi dimensi kata anda? Lalu kenapa anda membatasinya ke dalam dimensi manusia? Dimensi manusia terbatas bung. Jika dua dimensi yang tak terbatas digabungkan dengan dimensi yang terbatas, jadinya apa bung? Bukankah jika Roh Tuhan tidak bisa dilihat kata anda, sebagaimana anda katakan :
Transformasi Indonesia
Oktober 12th, 2011 pukul 06:08
@MANDRA
MAKA MULAI ADA PERNYATAAN THD WUJUD DAN ESENSI ALLAH YANG ADALAH ROH ITU SEPERTI APA WUJUDNYA…
KONFIRM DENGAN PERNYATAAN….TIDAK ADA SEORANGPUN MELIHAT ALLAH YANG ADALAH ROH[KEJ 1:2;YOH 4:24]
===> Pendapat sendiri… ditentang sendiri… Hi hi hi…… saya lanjut nanti.
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 05:38
KONFIRM DENGAN PERNYATAAN….TIDAK ADA SEORANGPUN MELIHAT ALLAH YANG ADALAH ROH[KEJ 1:2;YOH 4:24]
===> Pendapat sendiri… ditentang sendiri… Hi hi hi…… saya lanjut nanti.
________
THEOS YANG ADALAH FIRMAN DAN ROH ITU NUZUL BOS……YA UDAH DEH TERSERAH ENTE MENAFSIRKAN…..GUE JELASIN SAMPE KIAMAT LOE GAK BAKAL MUDENG AMA PENJELASAN ANE……PERCUMA BUANG-BUANG WAKTU ANE….
TUH URUSIN KITAB LOE YANG DIMAKAN KAMBING…..KATANYA PENGHAFAL ALQURAN KOMPAK…TUH MUSSAFNYA BEREBEDA-BEDA…UDAH GUE TULIS PERBEDAANNYA…..MUNGKINKAH USMAN ITU YANG PALING BENAR?DARI HONGKONG!!VERSI USMAN TIDAK PERNAH DICEK AMA JIBRIL….YANG DI CEK ADALAH VERSI MUHAMMAD YANG DIMAKAN KAMBING…BELAJAR YANG BENER BOS….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 05:53
@MANDRA EN JACK…
SATU HAL YANG PASTI….alloh bukan Tuhan dari Abraham,Ishak,Musa,dst….alloh adalah tuhan ditanah arab…..Q 27:91 Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) ..jadi alloh bukan Tuhan bangsa Israel…dan bukan Tuhan dari Musa,dst……jika anda masih ngotot alloh itu Yahwe…silahkan anda jawab tantangan saya……
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 07:15
THEOS YANG ADALAH FIRMAN DAN ROH ITU NUZUL BOS……YA UDAH DEH TERSERAH ENTE MENAFSIRKAN…..GUE JELASIN SAMPE KIAMAT LOE GAK BAKAL MUDENG AMA PENJELASAN ANE……PERCUMA BUANG-BUANG WAKTU ANE….
============>>>
jadi selama firman dan roh tuhan anda menjelma menjadi yesus sang bapa menjadi bisu dan seperti ZOMBIE karena kehilangan roh dan firmannya yang NUZUL itu?
________________________________________________________________________
TUH URUSIN KITAB LOE YANG DIMAKAN KAMBING…..KATANYA PENGHAFAL ALQURAN KOMPAK…TUH MUSSAFNYA BEREBEDA-BEDA…UDAH GUE TULIS PERBEDAANNYA…..MUNGKINKAH USMAN ITU YANG PALING BENAR?DARI HONGKONG!!VERSI USMAN TIDAK PERNAH DICEK AMA JIBRIL….YANG DI CEK ADALAH VERSI MUHAMMAD YANG DIMAKAN KAMBING…BELAJAR YANG BENER BOS…
===========>>>
menurut kicauan anda yang terdahulu yang dimakan kambing bukannya ayat tentang rajam?
apakah anda beranggapan bahwa seluruh isi Al Quran hanya berisi tentang rajam?
percuma anda sekolah tinggi2 jika hanya berlogika sederhana saja anda tidak sanggup
________________________________________________________________________
SATU HAL YANG PASTI….alloh bukan Tuhan dari Abraham,Ishak,Musa,dst….alloh adalah tuhan ditanah arab…..Q 27:91 Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) ..jadi alloh bukan Tuhan bangsa Israel…dan bukan Tuhan dari Musa,dst……jika anda masih ngotot alloh itu Yahwe…silahkan anda jawab tantangan saya……
==============>>>
copy yang lengkap sdr trans
27:91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
dan sudah jelas bahwa segala sesuatu itu kepunyaan-Nya termasuk bangsa2 dimuka bumi
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 07:43
jadi selama firman dan roh tuhan anda menjelma menjadi yesus sang bapa menjadi bisu dan seperti ZOMBIE karena kehilangan roh dan firmannya yang NUZUL itu?
________________
MAAF BOS APAKAH TUHAN TERKURUNG DALAM DIMENSI???TIDAK MUNGKIN TUHAN TERKURUNG DIMENSI…JADI TIDAK MUNGKIN TUHAN YESUS SEMPAT MENJADI ZOMBIE..INI ADALAH PEMIKIRAN ANDA YANG KAGAK SAMPAI PADA POLA PIKIR KRISTEN…..
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 07:49
menurut kicauan anda yang terdahulu yang dimakan kambing bukannya ayat tentang rajam?
apakah anda beranggapan bahwa seluruh isi Al Quran hanya berisi tentang rajam?
percuma anda sekolah tinggi2 jika hanya berlogika sederhana saja anda tidak sanggup
______________
BOS YANG DIMAKAN KAMBING ITU SEMUA KITAB QURAN YANG ADA SEBELUM MUHAMMAD DIMAKAMKAN…..SETELAH MUHAMMAD DIMAKAMKAN ITU KITAB KATANYA DIMAKAN KAMBING….JADI AKIBATNYA SI USMAN HARUS MENSTANDARISASI ALQURAN….PADAHAL PARA SAHABAT NABI MEMPUNYAI MUSSAF SENDIRI-SENDIRI YANG MENENTANG USMAN….BUKTI NOH…GUE TULIS PERBEDAAN MUSSAF-MUSSAF YANG ADA…..JADI ANDAI KITAB QURAN YANG ADA DIPEGANG OLEH AISAH ITU TIDAK DIMAKAN KAMBING TENTU QURAN BACAANNYA HANYA 1…..TETAPI KARENA DIMAKAN KAMBING…MAKA MENJADI BANYAK RAGAMNYA….DAN ISINYAPUN BANYAK PERBEDAAN….KESIMPULAN VERSI USMAN TIDAK VALID LAGI KRN AYAT RAJAM TIDAK SEMPAT DITULISKAN OLEH USMAN…DAN UMAR KETAKUTAN AKAN HAL ITU…LALU MEMBUAT SUATU JALAN PINTAS….BUNYI AYAT ITU DI NASAKH DI ALQURAN…TETAPI HUKUMNYA MASIH ADA….NAH ITULAH CARA SINGKAT AGAR SEOLAH QURAN YANG ADA ITU MASIH VALID….PADAHAL UDAH AMBURADUL…..YA SEMOGA ANDA MAU JUJUR BOS….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 07:56
27:91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) =>TUHAN YAHWE TIDAK PERNAH MENGKLAIM DIRINYA TUHAN ATAS MEKAH…BUKTI BANGSA ISRAEL HANYA MENGETAHUI HANYA YAHWE SANG JURUSELAMAT SATU-SATUNYA TUHAN…..
Ul. 32:39 Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.
1Taw. 17:20 Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.
Yes. 43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
Hos. 13:4 Tetapi Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku.
DAN TUHAN ISRAEL SUKA MEMELIHARA PERJANJIAN…
2Taw. 6:14 sambil berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;
SEDANG alloh doyan menjilat perkataan..ini jelas bertentangan….
Transformasi Indonesia
Oktober 13th, 2011 pukul 08:00
dan sudah jelas bahwa segala sesuatu itu kepunyaan-Nya termasuk bangsa2 dimuka bumi =>yang bener anda tafsirkan bos….jika memang alloh itu tuhan jagad raya ini…kok bisa beda dengan Tuhan Bangsa Israel…..
TUHAN ISRAEL SUKA MEMELIHARA PERJANJIAN…
2Taw. 6:14 sambil berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;
SEDANG alloh doyan menjilat perkataan..ini jelas bertentangan….
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 09:02
MAAF BOS APAKAH TUHAN TERKURUNG DALAM DIMENSI???TIDAK MUNGKIN TUHAN TERKURUNG DIMENSI…JADI TIDAK MUNGKIN TUHAN YESUS SEMPAT MENJADI ZOMBIE..INI ADALAH PEMIKIRAN ANDA YANG KAGAK SAMPAI PADA POLA PIKIR KRISTEN…..
=========>>>
lantas anda sebut apa manusia yang tanpa jiwa dan roh seperti yesus??
lantas jika yesus kepengen BAB, siapa yang sebenarnya ingin BAB?
__________________________________________________________________________
BOS YANG DIMAKAN KAMBING ITU SEMUA KITAB QURAN YANG ADA SEBELUM MUHAMMAD DIMAKAMKAN…..SETELAH MUHAMMAD DIMAKAMKAN ITU KITAB KATANYA DIMAKAN KAMBING….JADI AKIBATNYA SI USMAN HARUS MENSTANDARISASI ALQURAN….
=========>>>
hehehehe satu lagi bukti nyata anda sangat tidak paham dengan apa yang anda copas sendiri. apa perlu saya copas juga pendapat anda sendiri yang terdahulu??
kalau ya nanti malam saya copasin ( sekarang saya masih dikantor)
_________________________________________________________________________
PADAHAL PARA SAHABAT NABI MEMPUNYAI MUSSAF SENDIRI-SENDIRI YANG MENENTANG USMAN….BUKTI NOH…GUE TULIS PERBEDAAN MUSSAF-MUSSAF YANG ADA…..
========>>>
dan copasan saya juga sudah mematahkan semua copasan anda. dan siapa sahabat yang menentang mushaf utsmani???
bukankah saya sudah memberikan komentar sahabat2 nabi tentang mushaf utsmani, apakah anda tidak membacanya sdr trans (susah payah saya menyisihkan waktu untuk menjawab tulisan anda)
_________________________________________________________________________
JADI ANDAI KITAB QURAN YANG ADA DIPEGANG OLEH AISAH ITU TIDAK DIMAKAN KAMBING TENTU QURAN BACAANNYA HANYA 1…..TETAPI KARENA DIMAKAN KAMBING…MAKA MENJADI BANYAK RAGAMNYA….DAN ISINYAPUN BANYAK PERBEDAAN….KESIMPULAN VERSI USMAN TIDAK VALID LAGI KRN AYAT RAJAM TIDAK SEMPAT DITULISKAN OLEH USMAN…DAN UMAR KETAKUTAN AKAN HAL ITU…LALU MEMBUAT SUATU JALAN PINTAS….BUNYI AYAT ITU DI NASAKH DI ALQURAN…TETAPI HUKUMNYA MASIH ADA….NAH ITULAH CARA SINGKAT AGAR SEOLAH QURAN YANG ADA ITU MASIH VALID….PADAHAL UDAH AMBURADUL…..YA SEMOGA ANDA MAU JUJUR BOS….
===========>>>
itukan igauan anda yang tidak paham dengan apa yang anda copas sendiri
dan sekali lagi cobalah anda mencari penggunaan angka 19 dalam Al Quran
dan coba baca lagi tulisan anda yang membuktikan keakuratan tebakan saya (bukannya sombong)
“JADI ANDAI KITAB QURAN YANG ADA DIPEGANG OLEH AISAH ITU TIDAK DIMAKAN KAMBING TENTU QURAN BACAANNYA HANYA 1″
anda masih beranggapan seluruh kitab al quran yang dipegabg aisyah dimakan kambing
dan semoga kepala anda tidak terlalu panas dalam membaca setiap sanggahan neter muslim disini
_______________________________________________________________________
SEDANG alloh doyan menjilat perkataan..ini jelas bertentangan….
=======>>>
lantas bagaimana dengan hukum sunat yang dulu pernah kita bahas sdr trans??
itulah kenapa kalau diskusi jangan seperti kutu loncat, satu topik belum selesai sudah pindah ke topik yang lain
_______________________________________________________________________
dan sudah jelas bahwa segala sesuatu itu kepunyaan-Nya termasuk bangsa2 dimuka bumi =>yang bener anda tafsirkan bos….jika memang alloh itu tuhan jagad raya ini…kok bisa beda dengan Tuhan Bangsa Israel…..
========>>>
Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan–seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (Keluaran 40:31-32)
dan umat islam juga melakukannya, lantas ibadah nyanyi2an di gereja pada hari minggu itu berdasarkan ajaran siapa sdr trans??
_______________________________________________________________________
TUHAN ISRAEL SUKA MEMELIHARA PERJANJIAN…
2Taw. 6:14 sambil berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;
===========>>>
Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kejadian 17:14)
Vs
Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (Galatia 5:6)
silahkan nilai sendiri, dan saya yakin seyakin2nya bahwa anda masih KULUP
______________________________________________________________________
SEDANG alloh doyan menjilat perkataan..ini jelas bertentangan….
=============>>>
dan tuhan anda gemar menyesatkan manusia dengan mengatakan bumi ini ceper seperti koin padahal bumi itu bulat
Mandra
Oktober 13th, 2011 pukul 13:25
@Trans Ind
Anda : THEOS YANG ADALAH FIRMAN DAN ROH ITU NUZUL BOS……YA UDAH DEH TERSERAH ENTE MENAFSIRKAN…..GUE JELASIN SAMPE KIAMAT LOE GAK BAKAL MUDENG AMA PENJELASAN ANE……PERCUMA BUANG-BUANG WAKTU ANE….
===> He he he… Koyo yang paham aja arti nuzul bung…. Firman adalah perkataan Tuhan dan Roh.. Keduanya abstrak, lahir lewat rahim wanita, jadi daging…? He he he…Tafsiran asal-2an. Bung,
Keluaran 33:20 Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” ===> Kalau roh tidak bisa dilihat, itu memang benar. Namun apakah roh memiliki wajah? Bagaimana anda tahu roh ada wajahnya? Khan tidak bisa dilihat? Sedangkan bunyi ayatnya jelas menyebutkan kata “wajah” bukan? Artinya apa? Jikapun tuhan merubah wujudnya menjadi manusia, dimana manusia memiliki wajah, maka ayat tersebut lebih kontroversial lagi. Tetap tidak bisa dilihat. Yang memandang wajahnya tidak akan hidup. Anda kok menafsirkan secara ngawur.. Hi hi hi….
Jadi Kesimpulannya : Pada awalnya dalam Keluaran 33:20, tuhan tidak bisa dilihat, karena yang melihat akan mati. Tapi anda mengeluarkan ayat sebagai counter jawaban saya dengan mengajukan Yoh. 10:30, bahwa menurut anda berdasarkan ayat tersebut Tuhan bisa dilihat, karena awalnya adalah Firman dan Roh lahir menjadi manusia maka bisa dilihat. Ini memperkuat pernyataan saya bahwa Tuhan anda tidak Maha Tahu. Kalau Maha Tahu, tentunya Dia tidak akan mengeluarkan ayat dalam Keluaran 33:20 dong. Jadi, Tuhan anda menjilat muntahnya sendiri… Mudheng opo keblinger sampeyan. Makanya jangan sok main tafsir semau anda sendiri bung.
Anda : TUH URUSIN KITAB LOE YANG DIMAKAN KAMBING…..KATANYA PENGHAFAL ALQURAN KOMPAK…TUH MUSSAFNYA BEREBEDA-BEDA…UDAH GUE TULIS PERBEDAANNYA…..MUNGKINKAH USMAN ITU YANG PALING BENAR?DARI HONGKONG!!VERSI USMAN TIDAK PERNAH DICEK AMA JIBRIL….YANG DI CEK ADALAH VERSI MUHAMMAD YANG DIMAKAN KAMBING…BELAJAR YANG BENER BOS…
===> He he he…Masih gak mudheng juga. Sekalipun dimakan NAGA semua wadah penulisan Alqur’an sampai musnah, apakah hafalan yang di dalam kepala sahabat Nabi SAW juga ikut dimakan NAGA? Apakah yang di cek oleh Malaikat Jibril sudah ada Alqur’an dalam bentuk Mushaf atau buku? Alqur’an belum berbentuk buku ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup bung. Yang dicek Malaikat Jibril adalah hafalan Nabi SAW dan bacaannya/cara mengucapkannya. Begitu juga Nabi SAW mengecek hafalan atau cara pengucapan para sahabatnya. Paham sekarang? He he he… Mas Jack sudah bilang, memangnya Alqur’an diturunkan berupa mushaf atau buku, langsung gedebuk… gitu?… He he he….
Jack
Oktober 13th, 2011 pukul 14:25
@Mandra
nggak usah repot2 mikir tuhannya TI mas, tahu genderuwo dedemit dan tuyul kan mas, genderuwo dkk itu kan roh, punya wajah,doyan makan dll sama seperti tuhannya TI
kadek
Oktober 13th, 2011 pukul 15:16
Mengapa selalu memperdebatkan sesuatu yg memang pada dasarnya bebeda?? sampai kiamat pun kalian tidak akan bisa menemukan mana yg benar dan mana salah. Karna hanya Tuhan yg mempunyai kuasa untuk menentukan hal benar. Bukan kalian. Atau mungkin kalian mencoba menduakan Tuhan dengan berlagak pintar bisa menentukan mana yg benar dan mana yg salah. Perdebatkanlah imanmu dalam hatimu sendiri, jangan seperti orang munafik yg memperdebatkan iman dengan orang lain.
Jack
Oktober 14th, 2011 pukul 01:19
hehehe Tapi tentunya Tuhan yang benar hanya ada satu bukan?
Jack
Oktober 14th, 2011 pukul 04:21
terompetnya seperti apa yah??
Mencari kebenaran
Oktober 14th, 2011 pukul 05:38
Setiap yg bersilsilah,pasti dia bukan tuhan.
Yesus bersilsilah,berarti yesus bukan tuhan.
Mencari kebenaran
Oktober 14th, 2011 pukul 05:51
Setiap yang di baptis.berarti dia bukan tuhan.
Yesus di baptis.jadi yesus bukan tuhan.
Anak Manusia
Oktober 14th, 2011 pukul 08:07
Kawan kawan muslim, debater yg baik,
Bagaimanapun TRANSFORMASI INDONESIA menguraikan “Kabar baik” itu kepada kalian, jika kalian ttp menutup diri, tentu debat ini akan berputar putar terus, inti masalahnya kan hanya di Ke-Ilahi-an Yesus (Yesus adalah Tuhan) dan Sesuai keyakinan kami, memang Dia adalah ISA, Sang Jurus Slamat Umat manusia, yang percaya kepada-Nya.
Didalam Kitab Al-QURAN, pun sudah diriwayatkan oleh nabi kalian, jika kalian memang muslim yang taat pada junjungan kalian, pastilah meyakini, bahwa ISA itu benar Al Masih, Sang Firman itu sendiri. Seperti kutipan salah satu ayat di bawah ini:
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3 Ali ‘Imran:51), apakah kalian akan mendebat lagi bahwa ayat ini bukan untuk ISA? , silahkan baca surat 3 Ali ‘Imran:42-60
Non Muslim (Kristen) memang sulit menerima(percaya) Bahwa Muhammad adalah Nabi Terakhir,
Sebab dari semua nubuatan nubuatan yang disampaikan sebelumnya dalam Kitab kitab Para Nabi, telah di genapi dengan “Kedatangan” Anak manusia, Putra Maryam, ISA Almasih, mungkin non muslim (Yahudi dan Nasrani), akan mengakaui jika seandainya dalam kitab kitab sebelumnya ada nubuatan nubuatan yang dialamatkan kepada Muhammad, ttp dari kejadian sampai Wahyu, nama Muhammad tdk di sebutkan sama sekali, atau adakah dalam kitab Bible, kawan kawan muslim dapatkan?, silahkan di tunjukkan dalilnya,
1. Adakah dalam kitab Taurat, Zabur, atau Injil Nubuatan tentang Muhammad? Mana dalilnya
Sahih Bukhari 7.72.786
Diriwayatkan Abu Huraira: Sang Nabi berkata, “Yahudi dan Kristen tidak mengecat rambut mereka jadi kau harus melakukan kebalikan dari yang mereka lakukan.”
dari tulisan diatas, pendapat saya, arti nya bukan sekedar mengecat Rambut, secara harfia, ttp mempunya arti yang lebih luas, pertanyaannya apakah pada jaman Muhammad, sudah ada orang mengecat rambut?, knapa ummat muslim tdk melaksanakan perintah nabi ini, jika diartikan secara harfia, bahwa apa yang dilakukan oleh yahudi dan Nasrani dari dulu sampai saat itu, maka kebalikannya yg akan dilakukan oleh Muslim, termasuk dalam Hal penyembahan, apa yang di sembah, dan apa yang di yakini,
buktinya, jika Yahudi dan nasrani, menganggap Yerusalem sebagai pusat penyembahan karena ada disanaTabut Tuhan yaitu Tabut perjanjian antara Tuhan dengan Ummat-Nya yaitu Ummat Israel.
Maka Muhammad membuat Mekkah dengan Batu hitam Hajar Aswat sebagai Pusatnya Islam,inilah bukti bahwa Muhammad Mike different?, yang tadinya dia masih berkiblat ke Yerusalem, tetapi dia mengganti kiblatnya ke Mekkah, itulah sebabnya maka saya katakan bahwa Dalil diatas dalam artian lebih luas,
Yerusalem diganti Mekkah
Tabut Tuhan diganti Batu Hitam Hajar aswat
ini baru dalam hal penyembahan,
Mungkin kawan kawan Muslim punya pandangan yang lain, mohon di postingkan di sini
Kemudian dalam hal pemberian Nama dari sebuah Kitab, tentu ada sejarahnya, atau latar belakang, atau minimal isi dari kitab tsb, yang menggambarkan Judul kitab itu sendiri
Coba All debater Uraikan kepada saya, yang awam tentang Islam,
2. Knapa dinamakan Al baqara, (Arti dalam Bahasa Indonesia Sapi betina), bagaimana sejarahnya sehingga di sebut Surat Al baqara
3. Knapa dinamakan Al Jin, (arti dalam bahasa Indonesia Jin atau Setan atau iblis)
sebagai orang awam tentang Islam, akan bertanya loh kok dalam kitab Quran ada kitab namanya Al JIN, bukan kah kita tahu bersama bahwa yang namanya Jin, tdk ada kebenarannya sama sekali, Jin atau setan atau Iblis adalah bapa segala pendusta.
4. Dan kitab kitab lain, silahkan di share sejarahnya, mengapa harus disebut kitab A, Kitab B dan seterusnya
Mohon dari tinjauan sejarah Islam atau hadis jika ada,
Terimah kasih, selamat berdebat,semoga perdebatan ini, menemui titik temu, bukan sebaliknya, tetapi perlu di ingat, dalam berdebat, janganlah menghujat Roh Hul Kudus hanya karena ingin membenarkan Dalil atau pendapat masing masing, karena jika menghujat Roh Hul Kudus, sesunggunya dia telah mendatangkan dosa kekal, atau tdk terampuni terhadap dirinya,
Jack
Oktober 14th, 2011 pukul 08:39
Didalam Kitab Al-QURAN, pun sudah diriwayatkan oleh nabi kalian, jika kalian memang muslim yang taat pada junjungan kalian, pastilah meyakini, bahwa ISA itu benar Al Masih, Sang Firman itu sendiri. Seperti kutipan salah satu ayat di bawah ini:
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3 Ali ‘Imran:51), apakah kalian akan mendebat lagi bahwa ayat ini bukan untuk ISA? , silahkan baca surat 3 Ali ‘Imran:42-60
=============>>>>
hehe anda tidak perlu sok pintar tentang isi Al Quran, baca baik2 ayat yang anda kutip dan baca ayat dibawah
2:136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.
apakah anda masih seperti TI yang keblinger dengan pemikirannya sendiri?
________________________________________________________________________
Non Muslim (Kristen) memang sulit menerima(percaya) Bahwa Muhammad adalah Nabi Terakhir,
Sebab dari semua nubuatan nubuatan yang disampaikan sebelumnya dalam Kitab kitab Para Nabi, telah di genapi dengan “Kedatangan” Anak manusia, Putra Maryam, ISA Almasih, mungkin non muslim (Yahudi dan Nasrani), akan mengakaui jika seandainya dalam kitab kitab sebelumnya ada nubuatan nubuatan yang dialamatkan kepada Muhammad, ttp dari kejadian sampai Wahyu, nama Muhammad tdk di sebutkan sama sekali, atau adakah dalam kitab Bible, kawan kawan muslim dapatkan?, silahkan di tunjukkan dalilnya,
1. Adakah dalam kitab Taurat, Zabur, atau Injil Nubuatan tentang Muhammad? Mana dalilnya
==============>>>
Silahkan baca buku the Choice
_______________________________________________________________________
Sahih Bukhari 7.72.786
Diriwayatkan Abu Huraira: Sang Nabi berkata, “Yahudi dan Kristen tidak mengecat rambut mereka jadi kau harus melakukan kebalikan dari yang mereka lakukan.”
dari tulisan diatas, pendapat saya, arti nya bukan sekedar mengecat Rambut, secara harfia, ttp mempunya arti yang lebih luas, pertanyaannya apakah pada jaman Muhammad, sudah ada orang mengecat rambut?
============>>>
itu ya jelas hadis super palsu
jika rambut dicat, lantas bagaimana seorang muslim melaksanakan shalat
dan lagi, sejauh ini saya belum pernah mendengar hadis yang diawali dengan kata “Sang Nabi berkata” apalagi menyebut yahudi dan kristen
_______________________________________________________________________
, knapa ummat muslim tdk melaksanakan perintah nabi ini, jika diartikan secara harfia, bahwa apa yang dilakukan oleh yahudi dan Nasrani dari dulu sampai saat itu, maka kebalikannya yg akan dilakukan oleh Muslim, termasuk dalam Hal penyembahan, apa yang di sembah, dan apa yang di yakini,
buktinya, jika Yahudi dan nasrani, menganggap Yerusalem sebagai pusat penyembahan karena ada disanaTabut Tuhan yaitu Tabut perjanjian antara Tuhan dengan Ummat-Nya yaitu Ummat Israel.
==========>>>
tapi anehnya kok
Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan–seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (Keluaran 40:31-32)
sama persis seperti umat islam ketika melaksanakan shalat, dan lagi umat islam juga melaksanakan sunat
______________________________________________________________________
Maka Muhammad membuat Mekkah dengan Batu hitam Hajar Aswat sebagai Pusatnya Islam,inilah bukti bahwa Muhammad Mike different?,
===========>>>
maaf saya mau ketawa
wekekekekekekekekeke mungkin maksud anda Ka’bah bukan Makkah, soalnya Makkah itu nama kota dan sekarangpun kota tersebut masih ada
dan mungkin maksud anda make bukan mike
______________________________________________________________________
yang tadinya dia masih berkiblat ke Yerusalem, tetapi dia mengganti kiblatnya ke Mekkah, itulah sebabnya maka saya katakan bahwa Dalil diatas dalam artian lebih luas,
Yerusalem diganti Mekkah
=================>>>
yerusalem nama kotanya, sedangkan kiblat pertamanya bukan yerusalem, silahkan tebak jika anda memang benar2 mengerti islam
________________________________________________________________________
Tabut Tuhan diganti Batu Hitam Hajar aswat
============>>>
tabut berisi perintah tuhan, seharusnya anda membandingkannya dengan Al Quran
_______________________________________________________________________
ini baru dalam hal penyembahan,
Mungkin kawan kawan Muslim punya pandangan yang lain, mohon di postingkan di sini
Kemudian dalam hal pemberian Nama dari sebuah Kitab, tentu ada sejarahnya, atau latar belakang, atau minimal isi dari kitab tsb, yang menggambarkan Judul kitab itu sendiri
Coba All debater Uraikan kepada saya, yang awam tentang Islam,
===========>>>
jika tujuan dan niat anda bukan untuk menghujat saya kira neter muslim disini tidak keberatan. saya mempelajari agama saya dan agama anda juga dari buku2 bukan dari ustad maupun pesantren atau berguru pada siapapun (manusia)
________________________________________________________________________
2. Knapa dinamakan Al baqara, (Arti dalam Bahasa Indonesia Sapi betina), bagaimana sejarahnya sehingga di sebut Surat Al baqara
3. Knapa dinamakan Al Jin, (arti dalam bahasa Indonesia Jin atau Setan atau iblis)
sebagai orang awam tentang Islam, akan bertanya loh kok dalam kitab Quran ada kitab namanya Al JIN, bukan kah kita tahu bersama bahwa yang namanya Jin, tdk ada kebenarannya sama sekali, Jin atau setan atau Iblis adalah bapa segala pendusta.
============>>>
mungkin (saya juga kurang tahu) karena ada membahas kisah kaumnya musa yang membuat sapi betina sebagai sembahan
______________________________________________________________________
4. Dan kitab kitab lain, silahkan di share sejarahnya, mengapa harus disebut kitab A, Kitab B dan seterusnya
=========>>>
maaf penamaan kitab A B C bukannya malah dalam kitab anda sendiri
_______________________________________________________________________
Mohon dari tinjauan sejarah Islam atau hadis jika ada,
Terimah kasih, selamat berdebat,semoga perdebatan ini, menemui titik temu, bukan sebaliknya, tetapi perlu di ingat, dalam berdebat, janganlah menghujat Roh Hul Kudus hanya karena ingin membenarkan Dalil atau pendapat masing masing, karena jika menghujat Roh Hul Kudus, sesunggunya dia telah mendatangkan dosa kekal, atau tdk terampuni terhadap dirinya,
===========>>
jika tidak ingin dihina, anda juga harus menhormati orang lain
saya kira agama anda juga mengajarkan hal itu bukan
Mandra
Oktober 14th, 2011 pukul 10:19
@Jack
He he he….Jadi Tuhannya si TI seperti yang Mas Jack gambarkan ya? Hi hi hi hi … Kalau yang itu sich saya paham Mas……Hiiiii sereeeemm…..
Mandra
Oktober 14th, 2011 pukul 10:26
@Kadek
Bukankah perdebatan terjadi karena ada perbedaan? Kalau tidak ada perbedaan yaa, tidak ada perdebatan bukan? He he he…. Namanya juga mengasah otak dan melancarkan jari untuk mengetik….Anda salah kalau menyangka kami bermaksud menduakan Tuhan. Tuhan Muslim Satu/Esa. Dan tidak berwujud manusia, jin atau sejenisnya. Silahkan anda perdebatkan iman anda dalam hati anda. Sudahkah anda menemukan Tuhan yang benar dan patut untuk di sembah? He he he…. Aya-2 wae…
Mandra
Oktober 14th, 2011 pukul 10:29
@Jack
terompetnya seperti apa yah??
===> Terompetnya seperti yang di jual tiap-2 tahun baruan kalee Mas…. Atau rumah keong besar yang ada di pantai… He he he….
Mandra
Oktober 14th, 2011 pukul 11:46
@Anak Manusia
Waaa…Waaahh… Ingin menyamakan dengan diri Yesus nih.. Anak Manusia…
Anda : Bagaimanapun TRANSFORMASI INDONESIA menguraikan “Kabar baik” itu kepada kalian, jika kalian ttp menutup diri, tentu debat ini akan berputar putar terus, inti masalahnya kan hanya di Ke-Ilahi-an Yesus (Yesus adalah Tuhan) dan Sesuai keyakinan kami, memang Dia adalah ISA, Sang Jurus Slamat Umat manusia, yang percaya kepada-Nya.
===> He he he…Terjadi diskusi ber putar-2 sebagai akibat si TI tidak memahami apa yang dia postingkan sendiri. Jadi asal comot, yang penting posting. Dalam Alqur’an tidak ada nama Yesus bung… Dalam keyakinan kami, Isa AS hanyalah salah seorang Nabi yang diberi kelebihan berupa mu”jizat diantara 25 orang Nabi yang menjadi utusan Allah SWT untuk menyampaikan ajaran Tauhid. Anda mengatakan Sdr. TI menguraikan kabar baik. Kabar baik yang bagaimana? Jika anda menyamakan Yesus dengan Isa yang anda Tuhankan, anda salah bung. Makanya kami Muslim di sini berusaha memberikan penjelasan, bahwa Nabi kami, Isa AS bukan Tuhan. Jika anda tetap berusaha mencari “pembenaran” melalui Alqur’an, maka kami akan tetap menjelaskan, anda salah jika menuhankan Isa AS.
Anda : Didalam Kitab Al-QURAN, pun sudah diriwayatkan oleh nabi kalian, jika kalian memang muslim yang taat pada junjungan kalian, pastilah meyakini, bahwa ISA itu benar Al Masih, Sang Firman itu sendiri. Seperti kutipan salah satu ayat di bawah ini:
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (3 Ali ‘Imran:51), apakah kalian akan mendebat lagi bahwa ayat ini bukan untuk ISA? , silahkan baca surat 3 Ali ‘Imran:42-60
===> He he he… Moso’ Alqur’an diriwayatkan oleh Nabi junjungan kami…Berarti anda tidak paham mengenai Islam. Naaah pemahaman anda harus diluruskan, supaya anda tidak tersesat di jalannya setan. Ayat yang anda kutip dari Alqur’an merupakan penegasan dari Nabi Isa AS bahwa Allah SWT, Tuhannya Isa AS dan para pengikutnya. Isa AS menyuruh pengikutnya untuk menyembah Allah SWT sebagaimana dia menyembahnya, kalau pengikutnya ingin menemukan jalan yang lurus sebagaimana yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Isa AS. Dimengerti sampai di sini Bung?
Anda : Non Muslim (Kristen) memang sulit menerima(percaya) Bahwa Muhammad adalah Nabi Terakhir,
Sebab dari semua nubuatan nubuatan yang disampaikan sebelumnya dalam Kitab kitab Para Nabi, telah di genapi dengan “Kedatangan” Anak manusia, Putra Maryam, ISA Almasih, mungkin non muslim (Yahudi dan Nasrani), akan mengakaui jika seandainya dalam kitab kitab sebelumnya ada nubuatan nubuatan yang dialamatkan kepada Muhammad, ttp dari kejadian sampai Wahyu, nama Muhammad tdk di sebutkan sama sekali, atau adakah dalam kitab Bible, kawan kawan muslim dapatkan?, silahkan di tunjukkan dalilnya,
1. Adakah dalam kitab Taurat, Zabur, atau Injil Nubuatan tentang Muhammad? Mana dalilnya
===> Persoalannya, sesuai dengan informasi dari Alqur’an, Kitab Taurat dan Injil sudah di rubah oleh tangan-2 jahil, sehingga sudah melenceng dari makna aslinya. Buktinya menurut pakar bible sendiri, perkataan Tuhan hanya 18 % dari seluruh ayat PL dan PB. Untuk itu sulit mencari jejak nubuatan dalam Taurat dan Injil tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW. Ada baiknya anda baca buku yang di sarankan oleh Mas Jack…. The Choice…
Anda : Sahih Bukhari 7.72.786
Diriwayatkan Abu Huraira: Sang Nabi berkata, “Yahudi dan Kristen tidak mengecat rambut mereka jadi kau harus melakukan kebalikan dari yang mereka lakukan.”
dari tulisan diatas, pendapat saya, arti nya bukan sekedar mengecat Rambut, secara harfia, ttp mempunya arti yang lebih luas, pertanyaannya apakah pada jaman Muhammad, sudah ada orang mengecat rambut?
===> Naaah anda sendiri tidak percaya dengan hadits tersebut khan? Apalagi kami. Itu namanya hadits palsu bung. Apalagi anda ambil dari bukunya Robert Morey.
Anda : secara harfia, bahwa apa yang dilakukan oleh yahudi dan Nasrani dari dulu sampai saat itu, maka kebalikannya yg akan dilakukan oleh Muslim, termasuk dalam Hal penyembahan, apa yang di sembah, dan apa yang di yakini,
buktinya, jika Yahudi dan nasrani, menganggap Yerusalem sebagai pusat penyembahan karena ada disanaTabut Tuhan yaitu Tabut perjanjian antara Tuhan dengan Ummat-Nya yaitu Ummat Israel.
===> He he he… Yang pasti kaum Yahudi tidak mengakui Yesus adalah Tuhan.
Jack
Oktober 14th, 2011 pukul 14:25
@Mandra
tapi ada sedikit perbedaan mas, kalau bangsa dedemit di indonesia sukanya makan asep kemenyan kalau demit yang disembah TI kan suka makan ikan goreng
wah kalau terompetnya macem gitu, kalau ditiup malah dikira tahun baru lagi mas, bukannya kiamat
Logika9
Oktober 15th, 2011 pukul 01:44
Tes…tes…
Mandra
Oktober 15th, 2011 pukul 03:45
@Jack
He he he…. Kemana si TI neeh… Lagi mempelajari postingan dia yang asal kutip kali ya Mas….
Jack
Oktober 15th, 2011 pukul 04:09
@Mandra
lagi cari2 kemenyan ame ikan gurame buat besok kali mas sekalian bikin terompet buat latihan yesus kelak
Stain Remover
Oktober 15th, 2011 pukul 14:31
Mari kita baca :
Si bodoh yang mengaku pintar.
Stain Remover
Oktober 15th, 2011 pukul 15:02
Aneh tapi Nyata
point satu :
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” 24:36
keterangan :
Yesus tidak tahu kiamat, yang tahu cuma bapake
point dua :
” Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya…. ” 24:31
Keterangan :
menurut orang kristen yesuslah ” Ia ” yang dimaksud.
mari kita analisa :
diatas tertulis bahwa ayat yang menyatakan yesus tidak tahu hari kiamat ternyata belakangan muncul dalam urutan ayat. Apa artinya ini ?
ini berarti dengan sendirinya yesus telah menjelaskan bukanlah “Ia” yang dimaksud adalah dirinya ( yesus ). semoga anda mengerti…
adapun bila yesuslah yang dimaksud pada ayat 24:31, maka dia telah berdusta karena bertentangan dengan ucapannya sendiri 24:36 . Sedang dusta adalah dosa, apakah tuhan berdosa…
berikut selengkapnya urutan ayat-ayat tersebut :
24:30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya m dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.
24:32 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara : Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
24:33 Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
24:34 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.
24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.”
berfikir dan renungkanlah !
Stain Remover
Oktober 16th, 2011 pukul 06:26
Ada yang menarik mengenai “tanda anak manusia” ini.
tanda = lambang ( biasanya yang digunakan adalah gambar untuk menunjukkan identitas sesuatu )
Dan bagaimana bila tanda/lambang manusia itu adalah ini ( hehehe…hanya dugaan…jangan dibuat sebagai kesimpulan… )
Daniel
Oktober 17th, 2011 pukul 06:09
@mas Jack
Sedikit mengomentari tulisan (sepertinya copas) @mas Jack tentang sejarah al-Quran.
Klu mas Jack mau sedikit membuka diri dg membaca literatur2 sejarah al-Quran yg ditulis oleh kalangan muslimin sebagai penyeimbang, maka pasti akan memahami bagaimana al-Quran tertulis seperti sekarang ini. Saya coba menjelaskan singkat saja, mudah2-an mas Jack bisa faham.
Penting dan harus diingat agar pembahasan kedepannya mudah dimengerti bahwa al-Quran yg diturunkan secara berangsur-angsur kurang lebih selama 23 tahun itu bukanlah berupa tulisan, melainkan berupa bacaan yg disampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Allah berfirman,
“Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. “ (QS. Al- Isra’: 106).
Kemudian Nabi saw menyampaikan wahyu yg diterimanya itu kepada para sahabat, dan para sahabat menghafalkannya. Sebagian yg pandai baca tulis, menuliskannya dalam mushaf mereka.
Yang pada awalnya al-Quran yg ditulis dg satu huruf oleh para sahabat sesuai bacaan yg diterima dari Rosulullah, kemudian pada periode Madinah karena begitu pesatnya perkembangan Islam dan untuk kepentingan dakwah al-Quran agar dapat dipelajari oleh para suku dan kabilah di seluruh arab, maka Nabi saw memberikan ruksah (keringanan) dg dibolehkannya al-Quran dibaca dg tujuh huruf.
Hal ini sesuai dg sabda Nabi saw,”Bacalah Al-Quran sesuai dg kemampuan kalian.” (Al-Hadist)
“Al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf yg semuanya tegas lagi sempurna.” (HR. Abu Ya’la)
Menurut Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, yg dimaksud dg tujuh huruf adalah tujuh bahasa atau tujuh dialek dari dialek bahasa Arab. Bahasa yg tujuh dalam satu huruf atau satu kata yg lafalnya berbeda dan maknanya sama, atau dg kata lain tujuh bahasa dalam satu kata.
Kemudahan yg diberikan oleh Nabi itulah yg kemudian yg menyebabkan perbedaan mushaf dikalangan para sahabat. Yang kemudian pada masa pemerintahan Ustman dilakukan kebijakan untuk menyatukan kembali yg tadinya al-Quran ditulis dg berbagai dialek menjadi satu dialek/ bacaan dg membakar atau memusnahkan musahaf para sahabat, dan menjadikannya mushaf dg satu bacaan, yaitu bacaan seperti yg diterima dari Rosulullah….. Kebijakan diambil Ustman karena Ustman melihat potensi perpecahan ummat yg saling mengklaim bahwa bacaannya yg paling baik. Pada awalnya sebagian sahabat menentang,kebijakan Ustman ini terutama Ibnu Mas’ud, tapi begitu mendapat penjelasan Ustman, maka kemudian mereka menerimanya.
Kemudian Ustman membentuk semacam panitia untuk mengkompilasi al-Quran yg dipimpin oleh juru tulis wahyu pada saat Nabi saw masih hidup, yaitu zaid bin Tsabit bersama para sahabat yg hafal al-Quran berdasar mushaf Abu Bakar. Walaupun Zaid dan banyak para sahabat hafal al-Quran, namun disebabkan kehati-hatiannya, mereka juga meng-crosschek dg mushaf para sahabat agar al-Quran ditulis sesuai dg bacaan Rosulullah. Penulisan al-Quran pada saat itu masih sangat sederhana tanpa tanda baca atau dikenal dg huruf Kuhfi. Dg berkembangnya tulisan arab, maka diberikan tanda2 tambahan bertujuan untuk menjelaskan perbedaan huruf2 yg bentuknya sama, seperti pemberian tanda titik pada huruf. Juga ada penambahan dalam tanda baca, tanda henti, tanda sambung, tanda mulai, dan tanda akhir ayat. Semua penambahan ini dianggap dapat membantu dalam hal benar dan baiknya bacaan al- Quran. Tatkala ide penambahan tanda2 ini digulirkan, para ulama pada saat itu mengatakan, “Tidak mengapa karena hal itu merupakan cahaya bagi al-Quran.” Dan tersusunlah penulilsan al-Quran seperti sekarang ini.
Maka dg uraian di atas mengenai sejarah penyusunan al-Quran, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun dikatakan ada penemuan Quran yg berbeda atau ada lembaran mushaf yg dimakan kambing tetap tidak mengurangi atau merubah bacaan al-Quran yg telah diterima secara mutawatir dan dihafal oleh para sahabat, serta ditulis melalui pengawasan dan parameter2 yg ketat
Allah berfirman. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)
Hanya Manusia Biasa
Oktober 17th, 2011 pukul 11:42
@ Bunga
ali sina lulusan theologi yg punya web ini bukan ba? http://kristenbertuhantiga.blogspot.com/p/about-me.html
Jack
Oktober 17th, 2011 pukul 14:40
@Daniel
kenali dulu siapa kawan dan lawan. ok??
Daniel
Oktober 17th, 2011 pukul 14:54
Ralat :
Tulisan saya di atas untuk @mas Trans Indo bukan untuk @mas Jack… Maaf kurang teliti.
Sorry ya, mas Jack…. he he he
m4m4ch3
Oktober 18th, 2011 pukul 12:46
kemana nich mas TI..kok nggak nongol2..
sepi nih..nggak ada hiburan dari mas TI..
kok nggak konsekwen ya…
awal kedatangan dengan pongahnya nantang2,
eh sekarang melempem.
yah begitulah manusia yang sombong..
suka nantang,suka memvonis dengan kesimpulan pribadi,
eh ternyata argumennya cuma hasil copasan,
dimana selalu terpatahkan.
kesimpulan pembaca sih mas TI ini terlalu PD bahkan bisa dibilang angkuh.
sungguh kasian orang2 yang sudah terdoktrin gereja sampai akal yang dianugrahkan kepada manusia diabaikan.
kacungNYA
Oktober 19th, 2011 pukul 04:04
Al Quran telah di tulis 600 th sesudah Isa hidup di bumi sebagai manusia sama seperti kita tetapi tetap ada yang berbeda dengan kita..(Utusan “Allah” dan Kalimat-Nya “dibentuk” menjadi manusia melalui Roh-Nya/Ruhul Qudus)
ada ayat yang berbunyi Surah ke-3 Ali Imran 55: (Ingatlah), ketika “Allah” Berfirman,”Wahai Isa,sesungguhnya Aku akan Menyampaikan kamu kepada akhir “ajalmu” dan “Mengangkat kamu kepada-Ku” serta Membersihkan kamu dari “orang-orang kafir”, dan Menjadikan “orang-orang yang mengikuti kamu” di atas orang-orang kafir “hingga hari kiamat”…..(tolong dijelaskan 1.orang-orang yang mengikuti Isa disebut apa?2.orang kafir itu siapa?3.hingga hari kiamat apakah berlaku sampai sekarang?)
Surah ke-4 An Nisa 158: Tetapi (yang sebenarnya), “Allah” telah “mengangkat” Isa kepada-Nya….159:Tidak ada seorang pun dari ahli kitab,kecuali akan beriman kepadanya(Isa) sebelum “kematiannya”.Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.
Surah ke-5 Al Ma Idah 46: Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi “Bani Israel”) dengan Isa Putra Maryam,membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat.Dan Kami telah “Memberikan” kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya(ada) Petunjuk dan Cahaya(yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya,yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi Petunjuk serta Pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa..
Surah ke-19 Maryam 17:..lalu Kami “Mengutus Roh Kami” kepadanya,maka ia menjelma di hadpannya(dalam bentuk) “manusia yang sempurna”
Surah ke-5 Al Ma Idah 82: Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,”Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.”Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu(orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,(juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri…semua ini muhammad dapatkan 600 th sesudah Isa lahir,mati dan diangkat tetapi pengikutnya tetap ada sampai 600th kemudian bahkan sampai sekarang atau sampai kiamat sekalipun dan para pengikut Isa meneruskan ajarannya sampai sekarang….
Transformasi Indonesia
Oktober 21st, 2011 pukul 11:02
APAKAH ALQURAN SEKARANG ASLI…SILAHKAN ANDA BACA PENDAPAT ABU DARDA….[UMAT ISLAM SERING BERKATA SEMUA MUSSAF ITU ISINYA SAMA....TETAPI PEMBACAAN BERBEDA...SILAHKAN UMAT ISLAM CERMATI PANDANGAN ABU DARDA...JELAS SEKALI ABU DARDA MENENTANG PERBEDAAN ISI ALQURAN.....DIKUTIP DARI HADIS SHAHIH...]
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika Abu Darda mengkritik teks surat 92 Lail milik Mas’ud yang dibacakan Alqama. Ia bahkan bersumpah demi Allah untuk tidak akan mengikutinya :
Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Narrated Ibrahim:
The companions of ‘Abdullah (bin Mas’ud) came to Abi Darda’, (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: “Who among you can recite (Qur’an) as ‘Abdullah recites it?” They replied, “All of us.” He asked, “Who among you knows it by heart?” They pointed at ‘Alqama. Then he asked Alqama. “How did you hear ‘Abdullah bin Mas’ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?” Alqama recited:
‘By the male and the female.’ Abu Ad-Darda said,
“I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it:–
‘And by Him Who created male and female.’ But by Allah, I will not follow them.”
Perbedaan di atas tampaknya sepele (rekan-rekan Muslim bisa saja berpendapat toh artinya sama), tetapi bagaimanapun juga telah menimbulkan pertentangan di kalangan Muslim sendiri. Ini sangat fundamental bagi sejumlah Muslim tertentu seperti Abu Darda, sehingga ia menolaknya secara frontal.
JADI PANDANGAN SEMUA MUSSAF ITU ISINYA SAMA…ITU PANDANGAN NGAWOOOR POOOLLLLL
Mandra
Oktober 21st, 2011 pukul 12:41
@Trans Ind
Kenapa anda mengambil hadits yang berbahasa inggris? Tidak bisa menemukan yang berhasa arab? Persoalan itu sudah kami bahas dengan Muhammad Firman setahun yang lalu. Jadi barang basi kalau masih anda pertanyakan. Anda selalu tertinggal KA. Persoalan yang anda angkat kemarin belum anda tanggapi jawaban kami. Tentunya anda kecewa jika kami katakan anda kutu loncat yang ketinggalan jaman….Atau jika kami menganggap bahwa intelektualitas anda ternyata hanya samapai di copas sana copas sini, tanpa memiliki pendapat pribadi. Bahkan lebih parah lagi, anda tidak membaca jawaban sanggahan kami terhadap postingan anda. Jadi ternyata kelas anda jauh berada di bawah M Firman. Atau kelas anda masih dikisaran si M Jibril….. Jadi apa yang bisa diharap berdiskusi dengan anda, kalau anda hanya bisa copas sana sini…..dan selalu pindah-2 topik… Jadi julukan yang cocok untuk anda adalah looosseeeerrr..
Mandra
Oktober 21st, 2011 pukul 13:39
@Trans Ind
Anda : JADI PANDANGAN SEMUA MUSSAF ITU ISINYA SAMA…ITU PANDANGAN NGAWOOOR POOOLLLLL
===> Coba anda dengarkan isi mushaf dan cara baca Alquran dari seluruh dunia, pasti seragam bacaannya. Coba saja anda sekali-kali mendengar anak kecil Muslim yang membaca Alqur’an, baik mereka yang berasal dari Iran, Arab, Amerika, India, Jepang, China dan sebagainya, pasti sama. Lalu apanya yang berbeda?
Coba tolong anda berikan contohnya atau anda tunjukan satu ayat saja dari mushaf yang anda anggap berbeda. Sekalian dengan tulisan arabnya ya. Ini sekaligus menguji intelektualitas anda, yang hanya pandai copas. Bisa tidak anda menyajikan apa yang saya minta…. Jika saya menganggap bahwa anda hanya bisa memberi tantangan, kemudian kami mentahkan, sementara anda tidak bisa mengcounter balik sanggahan kami, maka kami simpulkan bahwa ajaran agama anda hanyalah khayalan pendeta awal yang sebelumnya beragama pagan. Sehingga tidak ada kebenaran hakiki di dalam agama anda. Anda setuju pendapat saya?
Bumel Lapendos (Bujangmelarat Laki-2penuhdosa)
Oktober 22nd, 2011 pukul 03:08
@Transformasi Indonesia yang Jenius & terhormat
Oktober 21st, 2011 pukul 11:02
APAKAH ALQURAN SEKARANG ASLI…SILAHKAN ANDA BACA PENDAPAT ABU DARDA….[UMAT ISLAM SERING BERKATA SEMUA MUSSAF ITU ISINYA SAMA....TETAPI PEMBACAAN BERBEDA...SILAHKAN UMAT ISLAM CERMATI PANDANGAN ABU DARDA...JELAS SEKALI ABU DARDA MENENTANG PERBEDAAN ISI ALQURAN.....DIKUTIP DARI HADIS SHAHIH...]
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika ABU DARDA mengkritik teks surat 92 Lail milik MAS’UD yang dibacakan Alqama. Ia bahkan BERSUMPAH DEMI ALLAH untuk tidak akan mengikutinya:
Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Perbedaan di atas TAMPAKNYA SEPELE (rekan-rekan Muslim bisa saja berpendapat TOH ARTINYA SAMA), tetapi bagaimanapun juga telah menimbulkan pertentangan di kalangan Muslim sendiri. Ini sangat fundamental bagi sejumlah Muslim tertentu seperti Abu Darda, sehingga ia menolaknya secara frontal.
JADI PANDANGAN SEMUA MUSSAF ITU ISINYA SAMA…ITU PANDANGAN NGAWOOOR POOOLLLLL
TANGGAPAN SAYA:
Insya Allah isinya SAMA=ASLI (Coba Anda baca Postingan Rekan DANIEL
Oktober 17th, 2011 pukul 06:09 sbg referensi)
Al-Qur’an turunnya berdasarkan Wahyu Lisan (WAHYU SUARA) dari Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-2 selama 23 tahun.
Perlu dicatat BERUPA WAHYU LISAN (Suara yang HARUS DIHAPAL)
Jadi BUKAN TEXS/TULISAN semacam THE TEN COMMANDMENT yang diterima Nabi Musa (ditulis dengan Jari Allah diatas lempengan Batu/LOH) yang SEHARUSNYA menjadi PERJANJIAN UNTUK SELAMA-LAMANYA, tetapi dalam prakteknya DIACAK-ACAK oleh Pak Paulus.
Namanya juga SUARA, yang kemudian oleh Umat/Pengikut Nabi SAW, ada yang berinisiatip menuangkan dalam BENTUK TEXS, dengan maksud untuk memudahkan bagi Umat (para Pengikut) Nabi SAW didaerah lain yang berjauhan dengan Lokasi dimana Nabi SAW berada untuk dapat ikut belajar MENGHAPAL.
Tetapi ternyata TEXS “milik MAS’UD yang dibacakan Alqama” tidak SAMA kalau DIDENGAR Suaranya oleh ABU DARDA (Walaupun MUNGKIN Artinya SAMA).
NAH DARI CONTOH KASUS yang Anda SODORKAN itulah, maka KAMI PUJI apa yang telah dilakukan oleh UTSMAN dengan KETEGASAN yang BRILIAN, bahwa SELAIN dari MUSHAF atau TULISAN yang SUDAH MEMALUI tahapan-2 VERIFIKASI oleh PARA SAHABAT & MUHAJIRIN (yang HAPAL AL QUR’AN) atau SISA-2 TEXS AL QUR’AN dari SEGALA PENJURU NEGERI itu DIBAKAR, karena ADA KEKURANGAN DISANA-SINI (dari Segi Tulisan, Tata Bahasa dsb), bagaimana jadinya kalau Utsman MEMBIARKAN saja semua Mushaf dari Suku-2 Bangsa Arab TETAP ADA sampai sekarang, mungkin SAAT INI Anda akan JAUH LEBIH KERAS lagi MENOHOK kami dengan kasus-2 yang lain.
Contoh (Ucapan Etnis): Bacaan BISMILLAH HIROHMAN NIROHIM.
Umpama Orang CHINA (Jadi Imam Sholat) membaca (Bismillah hi”L”ohman ni”L”ohim) karena Orang Chima sulit ucapkan “R”
Orang JEPANG (Bismi”RR”ah hirohman nirohim) karena Orang Jepang sulit ucapkan “L” yang semacam ini barangkali yang didengar oleh ABU DARDA.
Contoh (Arti sama): Bacaan BISMILLAH HIROHMAN NIROHIM.
Abu Darda (Orang Arab) kalau kami CUAP-2 mengartikan Bismillah Hirohman Nirohim dengan Bahasa kita “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” ya otomatis Adu Darda juga GAK NGERTI bin Puyeng bin Melongo.
Barangkali kasus-2 yang seperti inilah YANG DIKHAWATIRKAN oleh UTSMAN yang tadinya AL QUR’AN boleh dibuat MUSHAF dengan 7 HURUF (baca 7 BAHASA suku-2 di sekitar Arab) dikembalikan lagi menjadi 1 HURUF (1 bahasa yaitu Bhs Arab, karena di Al Qur’an sendiri memang sudah disebutkan bahwa Al Qur’an diturunkan dalam Bhs Arab), sedangkan TERJEMAH (Arti BOLEH dicatat dengan Bhs LAIN, tetapi TETAP didampingi TEXS ASLI AL QUR’AN) kan lain kepala lain kecerdasannya dalam mengartikan tergantung wawasan Ilmu bahasa Arabnya sampai dimana??? shg bagi Orang yang Paham bhs Arab tak perlu baca terjemah, OK??!
Jadi kalau mau ambil CONTOH KONGKRIT, mana Umat yang KITAB SUCI-Nya (kalau DIBACA Suaranya/Didengarnya “BEDA-BEDA” walaupun MUNGKIN artinya SAMA) yaitu “INJIL” contohnya:
1. Injil “Bahasa Belanda”
2. Injil “Bahasa Inggris”
3. Injil “Bahasa Perancis”
4. Injil “Bahasa Spanyol”
5. Injil “dsb…….”
Contoh yang Lokal:
1. Injil “Bahasa Indonesia”
2. Injil “Bahasa Betawi”
3. Injil “Bahasa Sunda”
4. Injil “Bahasa Batak”
5. Injil “Bahasa Jawa”
6. Injil “dsb…….”
Kalau ABU DARDA ber “Agama Kristen” insya Allah dia akan PUSING 7 keliling dibuatnya, Wheleh Wheleh Wheleh …… (Ada gambar muter-2 dikepala lidahnya menjulur … keluar air liur …
“MEMERCIK AIR DUDULANG TERKENA MUKA SENDIRI”
“WAJAH ANCUR-2AN CERMIN DIBELAH (diacurin sekalian biar kagak lihat)”
“LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN”
Apalagi ya ….. pusssiiiiing …….
Mohon maaf yang sebesar-2nya hanya sekedar Intermezo biar gak tegang, kita kan sekarang ibarat sedang kongkow-2 di Pos Kamling, sambil Ngopi, Makan Gorengan, atau Mie Tek-2 (atau apalah) sambil Ngerokok (bagi yang Ngerokok) sambil Krubungan Sarung (karena banyak nyamuk) sambil ketawa-2 kecil mendengar seloroh & candaan teman, sehingga SUASANA CAIR & penuh keakraban.
OK Tks
KESIMPULAN:
SEMUA MUSHAF AL QUR’AN (yang saat ini BEREDAR) = ASLI (Suara & Arti SAMA), karena semua sudah melalui TAHAP VERIFIKASI dari Para Ahlinya.
Kalau Anda menyebut NGAWOOOR POOOLLLLL = Tolong NILAI “MUSHAF INJIL ANDA” (Saya serahkan kepada Anda sendiri yang LEBIH AHLI, lha wong menilai AL QUR”AN aja Anda JAGO apalagi menilai BARANG SENDIRI, saya yakin PASTI lebih tahu sampai SEDETIL-DETIL-NYA)
Perlu saya sampaikan disini saya SEPENDAPAT dengan ABU DARDA serta MENDUKUNG PEMBAKARAN MUSHAF yang “TIDAK LOLOS” VerifikasiI UTSMAN.
KESIMPULAN POSITIF UNTUK ANDA:
Anda baru tahu ada Mushaf Mass’ud (YANG TERCECER) atau lebih tepat (dulu di Era Utsman) TIDAK DISETORKAN untuk DIVERIFIKASI sehingga LOLOS dari PEMBAKARAN (Anda tahu kan Efeknya) dengan demikian IDE UTSMAN itu BRILIAN or GOOD JOB.
Dengan MENDUKUNG (menyodorkan sebagai ISSUE) PANDANGAN ABU DARDA maka SECARA TIDAK LANGSUNG berarti ANDA SUDAH MENDUKUNG apa yang telah dilakukan UTSMAN (karena Anda SUDAH MERASAKAN Efek NEGATIP-nya).
Keliatanya Nalar Anda or Kecerdasan Anda SUDAH mulai nampak, kemarin-2 kemana aja??????? (atau BARANGKALI sedang MENGAHADAP ke Tuhan ISRAEL mengisi Registrasi agar direkrut sbg Bangsa Israel)
Wassalam.
Daniel
Oktober 22nd, 2011 pukul 03:37
@mas transindo
Klu mas transindo belum bisa juga memahami apa yg dimaksud dg teks (tulisan), dialek yg ada pada mushaf para sahabat dan bacaan al-Quran yg diterima secara mutawatir (seluruh sahabat menerimanya) yg kemudian dihafal oleh para sahabat, maka persoalannya akan terus berputar-putar dan terjadi pengulangan2 pertanyaan.
Jadi, fahami dulu maksud postingan rekan2 muslim dg pelan2 jgn terburu-buru sebelum meresponnya. oke?
Stain Remover
Oktober 22nd, 2011 pukul 08:26
hehehe…TI…beredar lagi dengan mengangkat issue kuno dan usang, coba anda mampir ke blog xucinxgaronx pada topik BUKTI AYAT AYAT PALSU di ALKITAB.
Robertus_Taianus
Oktober 23rd, 2011 pukul 16:50
All,
kenapa bumi berputar teratur milyaran tahun tanpa kehilangan energi? karena itu semua demi kasih dan sayang Allah kepada kita semua, agar kita bisa HIDUP …!!!
Dan kalimat “Kasih & Sayang” Allah telah tertuang dalam kalimat “19″ yang keluar dari mulut sang rosul Muhammad. Kalimat “19″ berkata tentang “Demi nama-Ku” yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dan nubuatan tentang akan datangnya seorang rosul akhir jaman yang selalu mengeluarkan kalimat “19″ di setiap perkataannya ada di bibble UL 18:19
Semoga para kristiani akan sadar akan kekeliruannya dalam menuhankan Yesus.
kacungNYA
Oktober 24th, 2011 pukul 04:46
Tuhan itu ajaib tidak bisa dipahami manusia bagaimana karyaNya,bagaimana terjadinya,bagaimana kehendakNya….
Surah ke-19 Maryam 17:…lalu “Kami Mengutus Roh Kami” kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya(dalam bentuk) manusia yang sempurna…..
Surah ke-3 An Nisa 171:..Sesungguhnya al Masih, Isa putra Maryam itu adalah Utusan Allah dan “(yang “diciptakan” dengan)” Kalimat-NYA yang “disampaikan” kepada Maryam, dan “(dengan tiupan)” Roh dari-Nya….
ketika RohNya (kenapa kok memakai kata Kami?) menjelma menjadi sesuatu apakah hakekat keTuhanannya berubah?menjadi lebih rendah?atau menjadi lebih tinggi?kalo menjadi lebih tinggi pasti tidak mungkin,menjadi sama pasti bisa krn itulah diriNya sendiri,menjadi lebih rendah walaupun menjadi rupa manusia??????….trimksh buat yang mau menjelaskannya…
Jack
Oktober 24th, 2011 pukul 08:15
Tuhan itu ajaib tidak bisa dipahami manusia bagaimana karyaNya,bagaimana terjadinya,bagaimana kehendakNya….
==========>>>
oleh karena itu umat islam memakai kata Dzat bukannya Roh, karena keterbatasan akal manusia
__________________________________________________________________
ketika RohNya (kenapa kok memakai kata Kami?) menjelma menjadi sesuatu apakah hakekat keTuhanannya berubah?menjadi lebih rendah?atau menjadi lebih tinggi?kalo menjadi lebih tinggi pasti tidak mungkin,menjadi sama pasti bisa krn itulah diriNya sendiri,menjadi lebih rendah walaupun menjadi rupa manusia??????….trimksh buat yang mau menjelaskannya…
==============>>>
tentunya anda setuju bahwa Tuhan adalah Maha Adil, dan apakah yang Maha Adil akan memakai kata “Aku” sehingga melupakan peran Malaikat-Nya?
amri
Oktober 24th, 2011 pukul 09:58
selalu dengan topik baru, padahal bahasan di atas itu ttg peniupan sangsakala oleh malaikat,
kristen bersikeras klo yng perintah malaikat itu yesus .. padahal didak ad sepatah katapun yng berkata demikian,
mat 24:30/31 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.
Anak Manusia dsni bukan kah berarti Seluruh Umat Manusia, anak adam, sedang semua bangsa adalah sgala hewan dan tumbuhan yang sedang meratap ..
Transformasi Indonesia
Oktober 29th, 2011 pukul 08:22
QS. Al Hijr 15:9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
Hadits Shahih Bukhari Vol 6 Buku 61 no 513. Dikisahkan Abbas Abdullah bin ‘: Rasul Allah berkata, “Jibril membacakan Al-Qur’an ke saya dalam SATU CARA Kemudian aku memintanya (untuk membacanya dengan cara lain), dan terus memintanya untuk mengucapkannya dalam cara lain, dan dia. dibacakan dalam beberapa cara sampai dia akhirnya dibacakan dalam tujuh cara yang berbeda ”
Hadits Shahih Bukhari Vol 6 Buku 61 no 514.. Dikisahkan ‘Umar bin Al-Khattab: Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surat Al-Furqan pada masa Rasul Allah dan saya mendengarkan bacaannya dan memperhatikan bahwa dia dibacakan dalam beberapa cara berbeda yang Rasul Allah tidak mengajari saya. Aku ingin melompati dia selama doanya, tapi aku mengendalikan emosiku, dan ketika dia telah menyelesaikan doanya, saya menaruh pakaian atas di sekitar lehernya dan menangkapnya dengan itu dan berkata, “Siapa yang mengajarimu Sura ini yang kudengar kamu baca? ” Dia menjawab, “Rasul Allah mengajarkan itu padaku.” Aku berkata, “Anda telah berbohong, karena Rasul Allah telah mengajarkan kepada saya dengan cara yang berbeda dari Anda.” Jadi aku menyeretnya ke Rasul Allah dan berkata (kepada Rasul Allah), “aku mendengar orang ini membaca Surat Al- Furqan dengan cara yang Anda tidak mengajari saya!” Pada Rasul Allah berkata, “Lepaskan dia, (wahai Umar!) Ucapkan, wahai Hisyam!” Lalu ia membacakan dengan cara yang sama ketika aku mendengar beliau mengucapkan. Kemudian Rasul Allah berkata, “Hal itu terungkap dengan cara ini,” dan menambahkan, “Ucapkan, wahai ‘Umar!” Aku mengucapkan itu sebagai dia telah mengajariku. Rasul Allah kemudian berkata, “Hal itu terungkap dengan cara ini. Al-Qur’an ini telah diturunkan dibacakan dalam tujuh cara yang berbeda, sehingga bacalah itu dengan mana (cara) yang lebih mudah bagi Anda (atau membaca sebanyak mungkin sebagaimana Anda anggap mudah).”
Hadits Shahih Bukhari Vol 6 Buku 61 no 510. Dikisahkan oleh Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman datang kepada Utsman pada saat orang-orang Syam dan orang-orang Irak yang mengobarkan perang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut (orang-orang Syam dan Irak) perbedaan mereka dalam bacaan Alquran, sehingga ia berkata kepada ‘Utsman, “Wahai pemimpin orang mukmin Selamatkan negara ini sebelum mereka bertentangan tentang Buku ini (Quran)! sebagaimana Yahudi dan Kristen sebelumnya. ” Jadi ‘Utsman mengirim pesan kepada Hafsa mengatakan, “Kirimkan naskah Quran sehingga kami bisa mengumpulkan bahan- bahan Al-Qur’an dalam salinan sempurna dan mengembalikan naskah kepada kamu.” Hafsa mengirimkannya ke ‘Utsman. ‘Utsman kemudian memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan’ Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menulis ulang naskah dalam salinan sempurna. ‘Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy, “Dalam kasus kalian tidak setuju dengan Zaid bin Tsabit pada setiap hal dalam Al Qur’an, kemudian tulislah dalam dialek Quraisy, Al Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka.” Mereka melakukannya, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan naskah asli kepada Hafsa. ‘Utsman mengirim ke setiap propinsi Muslim salah satu salinan dari apa yang telah mereka salin, dan memerintahkan bahwa semua bahan Qur’an lain, baik yang ditulis di beberapa naskah atau seluruh buku, dibakar. Said bin Thabit menambahkan, “Ayat dari Surat Ahzab itu terlupakan oleh saya ketika kami menyalin Alquran dan saya sering mendengar Rasul Allah melafalkannya. Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaima bin Thabit Al- Ansari. (Ayat itu): ‘Diantara orang-orang mukmin adalah orang yang telah benar dalam perjanjian mereka dengan Allah. ” (33.23)
Hadits Shahih Bukhari Vol 6 Buku 61 no 525. Dikisahkan oleh Qatada: Aku bertanya Anas bin Malik: “Siapa yang mengumpulkan Al Qur’an pada zaman Nabi?” Dia menjawab, “Empat, yang semuanya berasal dari Ansar:. Ubay bin Kaab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid”
Hadits Shahih Bukhari Vol 6 Buku 61 no 526. Dikisahkan oleh Anas bin Malik: Ketika Nabi meninggal, tidak ada yang mengumpulkan Al Qur’an, melainkan empat orang;: Abu Ad-Darda ‘. Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Kami adalah pewaris (Abu Zaid) sebagaimana dia tidak memiliki keturunan.
>>> PERTANYAAN ESSAY:
1. Siapakah yang salah hingga Quran dibacakan dalam 7 cara? (Bukankah awalnya Jibril hanya membacakan dgn 1 cara saja? )
2. Apa alasan Muhammad menyuruh Jibril membaca Quran dalam 7 cara? Mungkinkah ini hanya alasan Muhammad untuk mengelak dari kenyataan bahwa Muhammad sendiri tak mampu menghafal Quran dengan tepat sehingga mengajarkannya berbeda-beda?
3. Mana yang benar? Beda cara membaca atau beda penulisan/isi? Jika hanya cara membaca saja yang beda, apa alasan khalifah Utsman bin Affan membakar Fragmen Manuskrip Quran yang lain? Hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan dari segi penulisan kata-kata dalam Quran. LOGIKANYA: Kalo isinya sama, ngapain juga Quran lain harus dibakar?
4. Saat proses penyusunan Quran, Apa alasan Utsman tidak percaya dengan Zaid bin Tsabit? Bukankah hanya 4 orang yg mengkoleksi Quran saat Muhammad ada sampai Muhammad mati dimana salah satu kolektor adalah Zaid bin Tsabit selaku juru tulis Muhammad?
5. Sahih Bukhari Vol.6 Book.61 No.521
http://www.cmje.org/religious-texts/hadith/bukhari/061-sbt.php
Nabi berkata, ‘Belajarlah Qur’an dari empat orang ini: ‘Abdullah bin Masud, Salim, Mu’adh dan Ubai bin Ka’b.”
kenapa tidak minta satu pun dari keempat orang ini untuk memeriksa hasil penyusunan Quran revisi Utsman?
6. Dari kasus diatas, masih dapatkah AL-QURAN dikatakan terjaga KEASLIANNYA? Dimanakah Quran yang asli itu?
QS. Al Hijr 15:9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
Stain Remover
Oktober 29th, 2011 pukul 08:26
buktikan dulu tantangan saya yang kemarin, yang kamu tanyakan sudah ada jawabanya diblog XucinGaronx.
Transformasi Indonesia
Oktober 29th, 2011 pukul 08:32
Anak Manusia dsni bukan kah berarti Seluruh Umat Manusia, anak adam, sedang semua bangsa adalah sgala hewan dan tumbuhan yang sedang meratap ..
_________
AMRI BELAJAR ALKITAB YANG BENER DALAM BANYAK HAL ISA MENGATAKAN DIRINYA ANAK MANUSIA….
CONTOH =>
>> TUHAN YESUS BERKUASA MENGHAPUS/MENGAMPUNI DOSA…
MATIUS 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
MARKUS 2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
LUKAS 5:24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
BUKTI =>
LUK 7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.”
MARKUS 2:7 =>…. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”
JIKA IA BUKAN TUHAN SEHARUSNYA TIDAK DAPAT MENGAMPUNI DOSA BUKAN???TETAPI ISA BERKUASA MENGAMPUNI DOSA…JELAS SEKALI AYATNYA DI ATAS…ADAKAH MUSA/MUHAMMAD BERANI MENGAMPUNI DOSA SPT DIATAS??JIKA TIDAK MENGAPA ANDA SAMAKAN ISA DENGAN MUSA/MUHAMMAD???
Stain Remover
Oktober 29th, 2011 pukul 08:39
@TI
>>> PERTANYAAN ESSAY:
1. Siapakah yang salah hingga banyak terdapat macam-macam bible ?
2. Apa alasan yesus menyatakan bahwa manusia kristen yang mempunyai iman sebesar biji sawi dapat berbicara dengan pohon ara, dan dapat memindahkan gunung ?
3. Mana yang benar? yesus adalah anak atau yesus adalah bapak ?LOGIKANYA: Kalo anak, masa jadi bapak juga ?
4. Saat proses penyusunan Quran, Apa alasan paulus hingga ia berani menyebarkan injil kepada kaum yang bukan yahudi, dimana hal itu jelas-jelas melanggar perintah yesus ?
5. kenapa tidak satu pun dari bible yang sama ?
6. Dari kasus diatas, Apakah bible yang yang beredar sekarang benar-benar perkataan yesus ?
Stain Remover
Oktober 29th, 2011 pukul 08:42
> TUHAN YESUS BERKUASA MENGHAPUS/MENGAMPUNI DOSA…
MATIUS 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
MARKUS 2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
LUKAS 5:24 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”
BUKTI =>
LUK 7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.”
MARKUS 2:7 =>…. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?
Jawab :
lho bukanlah kamu pernah bilang yesus 100 % anak tuhan, karena menurut kamu maria tidak mempunyai andil sama sekali kecuali hanya wadah.
sorry…tidak ada yesusnya…tuh
Stain Remover
Oktober 29th, 2011 pukul 08:47
hehehe…ada ralat dikit nih :
4. Saat proses penyusunan Quran, Apa alasan paulus hingga ia berani menyebarkan injil kepada kaum yang bukan yahudi, dimana hal itu jelas-jelas melanggar perintah yesus ?
jadi :
4. Apa alasan paulus hingga ia berani menyebarkan injil kepada kaum yang bukan yahudi, dimana hal itu jelas-jelas melanggar perintah yesus ?
Jack
Oktober 30th, 2011 pukul 12:34
>> TUHAN YESUS BERKUASA MENGHAPUS/MENGAMPUNI DOSA…
===============>>>>
nah DOSA sendiri menurut anda apa sdr trans?
jangan2 anda juga kebingungan mendefinisikan dosa
___________________________________________________________________
JIKA IA BUKAN TUHAN SEHARUSNYA TIDAK DAPAT MENGAMPUNI DOSA BUKAN???TETAPI ISA BERKUASA MENGAMPUNI DOSA…JELAS SEKALI AYATNYA DI ATAS…ADAKAH MUSA/MUHAMMAD BERANI MENGAMPUNI DOSA SPT DIATAS??JIKA TIDAK MENGAPA ANDA SAMAKAN ISA DENGAN MUSA/MUHAMMAD???
=======================>>>>
Mengampuni atau menebus Dosa sdr trans?
seharusnya Isa dengan Tuhannya Musa/Muhammad sdr trans? bagaimana, berani membuat perbandingan???
Bumel Lapendos
November 3rd, 2011 pukul 13:53
To Sohib Bung Mandra, Jack, Stain Remover & all muslimers
Assalamu’alaikum Wr Wb
Sekedar urun rembug saja,
Kalau debat SELALU menggunakan DALIL / PATOKAN / DASAR PEMBENARAN-nya itu ADALAH dari suatu KITAB yang Nota Bene adalah hanya Kitab KARANGAN P, Q, R, S dst menurut hemat saya BUANG-2 WAKTU SAJA, insya Allah, Allah SWT sudah memberikan Credit Point untuk kita, setidaknya kita sudah BERUSAHA MELURUSKAN PEMAHAMAN YANG BENGKOK, soal mereka TETAP KEUKEUH dengan PEMAHAMAN ITU ya udah kita HANYA melambaikan tangan saja, bye bye sambil MENDOAKAN semoga mereka KUAT MENJALANI SEMUA nantinya.
Wassalam
Transformasi Indonesia
November 10th, 2011 pukul 03:37
http://www.facebook.com/notes/bayan-aang-al-mubayyin/perbedaan-tuhan-islam-dan-tuhan-kristen/240343162687210
Bayan Aang wrote: “lu mau debat masalah Al Quran dan Bible yaa..??!!
oke deehh.. di mana lu tantang gw..??!!
eh, Ustadz Sarwat bukan mengatakan yg lu tulis, bahwa Al Quran yg asli sudah tidak ada.. lu ternyata licik juga nehh..
kalo lu mau jawabannya dari sang ustadz, neh gw kasih alamatnya yaa..http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1135570524
kalo dibaca lengkap, ternyata sang ustadz mengatakan bahwa, yg asli ada di Lauhul Mahfudz, yakni di langit, kalo pake bahasa Bible lu di sorga..
dan yg ada sekarang adalah tulisan tangan dan hapalan apa yg turun dari Lauhul Mahfudz tersebut.. alias copas-an dari Lauhul Mahfudz..
naahh.. keliatan lu curang khan..??!! jangan suka motong2 kalimat doonk.. curang tuh namanya.. qee qee qee…”
________________
bung bayan didoktrin islam bahwa yang ada sekarang asli….
ABU DARDA MENOLAK BACAAN ALQURAN YANG ADA SEKARANG….
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَدِمَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ فَطَلَبَهُمْ فَوَجَدَهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُلُّنَا قَالَ فَأَيُّكُمْ أَحْفَظُ فَأَشَارُوا إِلَى عَلْقَمَةَ قَالَ كَيْفَ سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى } قَالَ عَلْقَمَةُ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ هَكَذَا وَهَؤُلَاءِ يُرِيدُونِي عَلَى أَنْ أَقْرَأَ { وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى } وَاللَّهِ لَا أُتَابِعُهُمْ
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim yang berkata sahabat-sahabat ‘Abdullah datang menemui Abu Darda’. Maka ia [Abu Darda’] mencari mereka dan menemui mereka. Ia berkata kepada mereka “siapakah diantara kalian yang membaca dengan bacaan ‘Abdullah?”. [salah seorang ] berkata “kami semua”. Ia berkata “lalau siapa diantara kalian yang paling baik bacaannya?” maka mereka pun menunjuk Alqamah. Abu Darda’ bertanya “bagaimana kamu mendengarnya membaca ayat Wallaili idzaa yaghsyaa”. Alqamah berkata “wadzdzakari wal untsaa”. Abu Darda’ berkata “demi Allah aku telah mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] membacanya seperti ini, akan tetapi mereka menginginkan agar aku membacanya “wama khalaqa dzakara wal untsaa”. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka [Shahih Bukhari 6/170 no 4944]
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ دَخَلْتُ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ عَبْدِ اللَّهِ الشَّأْمَ فَسَمِعَ بِنَا أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَتَانَا فَقَالَ أَفِيكُمْ مَنْ يَقْرَأُ فَقُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَأَيُّكُمْ أَقْرَأُ فَأَشَارُوا إِلَيَّ فَقَالَ اقْرَأْ فَقَرَأْتُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى } وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَنْتَ سَمِعْتَهَا مِنْ فِي صَاحِبِكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا سَمِعْتُهَا مِنْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ يَأْبَوْنَ عَلَيْنَا
Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqamah yang berkata aku termasuk dalam kelompok sahabat Abdullah yang pergi ke Syam. Abu Darda’ mendengar kami dan mendatangi kami, ia berkata “adakah diantara kalian yang bisa membaca”. Kami berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “siapa diantara kalian yang paling bagus bacaannya?”. Maka mereka menunjuk kepadaku. Ia berkata “bacalah” maka aku membaca “wallaili idzaa yaghsyaa wannahaari idzaa tajallaa wadzdzakari wal untsaa”. Ia berkata “apakah engkau mendengarnya langsung dari bibir sahabatmu [Abdullah]”. Aku berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “dan aku mendengarnya langsung dari bibir Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi orang-orang itu mengingkarinya” [Shahih Bukhari 6/170 no 4943]
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika Abu Darda mengkritik teks surat 92 Lail milik Mas’ud yang dibacakan Alqama.
Ia bahkan bersumpah demi Allah untuk tidak akan mengikutinya; Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Narrated Ibrahim: The companions of ‘Abdullah (bin Mas’ud) came to Abi Darda’, (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: “Who among you can recite (Qur’an) as ‘Abdullah recites it?” They replied, “All of us.” He asked, “Who among you knows it by heart?” They pointed at ‘Alqama. Then he asked Alqama. “How did you hear ‘Abdullah bin Mas’ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?” Alqama recited: ‘By the male and the female.’ Abu Ad-Darda said,“I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it: –‘And by Him Who created male and female.’ But by Allah, I will not follow them.”..
Ayat Al Qur’an yang dipermasalahkan oleh Abu Darda’ di atas adalah surah Al Lail ayat 1-3. Abu Darda’ membaca ayat tersebut
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى
Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]
Sedangkan didalam Al Qur’an [yang dapat anda lihat], bacaan Al Lail ayat 1 sampai 3 adalah sebagai berikut
والليل إذا يغشى والنهار إذا تجلى وما خلق الذكر والأنثى
Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan penciptaan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]
MENURUT BUNG BAYAN/umat islam MANA YANG BENAR???bacaan yang atas atau bawah???
Transformasi Indonesia
November 10th, 2011 pukul 05:18
http://www.facebook.com/notes/bayan-aang-al-mubayyin/perbedaan-tuhan-islam-dan-tuhan-kristen/240343162687210
Bayan Aang wrote:
….quran yg ada sekarang adalah tulisan tangan dan hapalan apa yg turun dari Lauhul Mahfudz tersebut.. alias copas-an dari Lauhul Mahfudz..
_____________
bung bayan didoktrin islam bahwa yang ada sekarang asli….
ABU DARDA MENOLAK BACAAN ALQURAN YANG ADA SEKARANG….
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَدِمَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ فَطَلَبَهُمْ فَوَجَدَهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُلُّنَا قَالَ فَأَيُّكُمْ أَحْفَظُ فَأَشَارُوا إِلَى عَلْقَمَةَ قَالَ كَيْفَ سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى } قَالَ عَلْقَمَةُ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ هَكَذَا وَهَؤُلَاءِ يُرِيدُونِي عَلَى أَنْ أَقْرَأَ { وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى } وَاللَّهِ لَا أُتَابِعُهُمْ
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim yang berkata sahabat-sahabat ‘Abdullah datang menemui Abu Darda’. Maka ia [Abu Darda’] mencari mereka dan menemui mereka. Ia berkata kepada mereka “siapakah diantara kalian yang membaca dengan bacaan ‘Abdullah?”. [salah seorang ] berkata “kami semua”. Ia berkata “lalau siapa diantara kalian yang paling baik bacaannya?” maka mereka pun menunjuk Alqamah. Abu Darda’ bertanya “bagaimana kamu mendengarnya membaca ayat Wallaili idzaa yaghsyaa”. Alqamah berkata “wadzdzakari wal untsaa”. Abu Darda’ berkata “demi Allah aku telah mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] membacanya seperti ini, akan tetapi mereka menginginkan agar aku membacanya “wama khalaqa dzakara wal untsaa”. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka [Shahih Bukhari 6/170 no 4944]
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ دَخَلْتُ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ عَبْدِ اللَّهِ الشَّأْمَ فَسَمِعَ بِنَا أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَتَانَا فَقَالَ أَفِيكُمْ مَنْ يَقْرَأُ فَقُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَأَيُّكُمْ أَقْرَأُ فَأَشَارُوا إِلَيَّ فَقَالَ اقْرَأْ فَقَرَأْتُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى } وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَنْتَ سَمِعْتَهَا مِنْ فِي صَاحِبِكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا سَمِعْتُهَا مِنْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ يَأْبَوْنَ عَلَيْنَا
Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqamah yang berkata aku termasuk dalam kelompok sahabat Abdullah yang pergi ke Syam. Abu Darda’ mendengar kami dan mendatangi kami, ia berkata “adakah diantara kalian yang bisa membaca”. Kami berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “siapa diantara kalian yang paling bagus bacaannya?”. Maka mereka menunjuk kepadaku. Ia berkata “bacalah” maka aku membaca “wallaili idzaa yaghsyaa wannahaari idzaa tajallaa wadzdzakari wal untsaa”. Ia berkata “apakah engkau mendengarnya langsung dari bibir sahabatmu [Abdullah]”. Aku berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “dan aku mendengarnya langsung dari bibir Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi orang-orang itu mengingkarinya” [Shahih Bukhari 6/170 no 4943]
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika Abu Darda mengkritik teks surat 92 Lail milik Mas’ud yang dibacakan Alqama.
Ia bahkan bersumpah demi Allah untuk tidak akan mengikutinya; Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Narrated Ibrahim: The companions of ‘Abdullah (bin Mas’ud) came to Abi Darda’, (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: “Who among you can recite (Qur’an) as ‘Abdullah recites it?” They replied, “All of us.” He asked, “Who among you knows it by heart?” They pointed at ‘Alqama. Then he asked Alqama. “How did you hear ‘Abdullah bin Mas’ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?” Alqama recited: ‘By the male and the female.’ Abu Ad-Darda said,“I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it: –‘And by Him Who created male and female.’ But by Allah, I will not follow them.”..
Ayat Al Qur’an yang dipermasalahkan oleh Abu Darda’ di atas adalah surah Al Lail ayat 1-3. Abu Darda’ membaca ayat tersebut
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى
Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]
Sedangkan didalam Al Qur’an [yang dapat anda lihat], bacaan Al Lail ayat 1 sampai 3 adalah sebagai berikut
والليل إذا يغشى والنهار إذا تجلى وما خلق الذكر والأنثى
Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan penciptaan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]
MENURUT BUNG BAYAN/umat islam MANA YANG BENAR???bacaan yang atas atau bawah???
Stain Remover
November 10th, 2011 pukul 13:24
@TI
bung trasi kitab anda bejibun banyaknya, bagaimana anda menjelaskan hal itu…Mending sama tapi berbeda dan saling bertentangan…kitabmu sendiri tak kau urus trasi, bagaimana anda ini…
—
Perbedaan bacaan telah terjadi di jaman nabi masih hidup. ( bukankah semua suku bangsa dipastikan mempunyai dialek yang khusus dalam berbicara ) dan Nabi Muhammad adalah rahmat begi semesta alam.
Suatu ketika Umar bin Khathtab mendengar perbedaan dalam membaca ayat Al-Qur’an.
Kemudian peristiwa perbedaan membaca ini mereka laporkan ke Rasulullah Saw.
Maka beliau menjawab dengan sabdanya, yang artinya :
“Memang begitulah Al-Qur’an diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang kalian anggap mudah dari tujuh huruf itu,”
Menurut catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in, yaitu pada awal abad II H, tatkala para qari’ tersebar di berbagai pelosok, telah tersebar di berbagai pelosok. Mereka lebih suka mngemukakan qira’at gurunya daripada mengikuti qira’at imam-imam lainnya.
Qira’at-qira’at tersebut diajarkan secara turun-menurun dari guru ke murid, sehingga sampai kepada imam qira’at baik yang tujuh, sepuluh atau yang empat belas.
Sebab-sebab munculnya beberapa qiraat yang berbeda adalah :
1. Perbedaan qiraat nabi, artinya dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya, nabi memakai beberapa versi qiraat.
2. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu, hal ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam al-Qur’an. Contohnya ketika seorang Hudzail membaca di hadapan Rasul “atta hin”. Padahal ia menghendaki “hatta hin”. Ada riwayat dari para sahabat nabi menyangkut berbagai versi qiraat yang ada atau perbedaan riwayat dari para sahabat nabi menyangkut ayat-ayat tertentu.
3. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya al-Qur’an.
4. Perbedaan syakh, harakah atau huruf. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 222.
Kata yang digaris bawahi bisa dibaca “yathurna” dan bisa dibaca “yatthoh-har-na”. jika dibaca qiraat pertama, maka berarti : “dan jangalah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka suci (berhenti dari haidh tanpa mandi terlebih dahulu). Sedangkan qiraat kedua berarti: “dan janganlah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka bersuci (berhenti dari haidh dan telah mandi wajib terlebih dahulu).”
Anda mengerti tentang qiraat, nggak ?
—
Semua kejadian yang dulu dan yang akan datang telah tersimpan dalam Lauh Mahfudz termasuk semua kitab yang pernah diturunkan termasuk didalamnya adalah Al Qur’an :
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
(Az-Zukhruf : 4)
Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. (Thaahaa : 52)
Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.
(Al-Anbiyaa : 105)
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al-Hajj : 70)
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Faathir : 11)
Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, (Thaahaa : 100)
Hendry
November 13th, 2011 pukul 14:53
Huuh, jwban dri bpk tambuenan berbelit2..
ridhohafiz90@yahoo.com
November 23rd, 2011 pukul 12:20
maaf iya, kalo saya ngomong nya ngak sopan, bukannya dalam al-qur’an waktu nabi isa akan di hukum mati, nabi isa di angkat ke surga dan sedangkan orang yang mengfitnah nabi isa itu, mukanya di tukar sama Allah SWT dengan muka yg sama kaya nabi isa as, namun kitab yang Allah turunkan kepada nabi isa di ambil sama orang kafir.
maaf iya kalo saya ngomong ngak sopan, tapi kalo bisa tolong komentar saya di balas
terima kasih
Silkroad
November 25th, 2011 pukul 13:15
Boleh numpang komentar mas
memang benar ketika nabi Isa akan dicelakakan ALLAH menyelamatkannya. namun banyak pemahaman muslim yg bercampur baur dg pemahaman Kristiani. Al Quran sama sekali tdk pernah menyebutkan nabi Isa AS diangkat ke surga. kisah kenaikan ke surga itu dogma Kristiani yg tertulis dlm kisah Rasul.
Umumnya umat islam mempercayai sosok Yudas- si penghianat- lah yg di serupakan dg nabi Isa. tapi sebenarnya informasi itu tdk bersumber dari Quran melainkan dari Hadits yg bila di runut sanadnya akan mempertemukan kita kpd narasumber Ka’ab Al Akhar dan Wahab Bin Munabih. keduanya semula dari kelompok Kristiani non trinity-beleiver yg kemudian menjadi muallaf. Quran sendiri hanya mengatakan wa maa Qotaluhu wa maa Sholabuhu (tdk dibunuh dan tdk disalibkan). lebih jelasnya bisa disimak pd QS An Nisaa:157-159
dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[378]“, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS An Nisaa:157-159)
sedangkan mengenai kitab nabi Isa yg anda katakan diambil orang kafir itu, tdk ada sumber yg bisa dipertanggung jawabkan. memang nabi Isa di berikan pengetahuan akan Taurat, hikmat, dan kenabian. kepadanya juga diturunkan injil. namun injil yg di berikan kpd beliau caranya sama seperti Al Quran yg diturunkan kepada Rasulullah. bukan berbentuk tulisan. melainkan wahyu yg di ilhamkan. jika kita merujuk kpd keterangan2 AlQuran, satu2 nya kitab yg ALLAH turunkan dl bentuk tertulis hanyalah Taurat nabi Musa yg ditulis pada loh batu.
Nabi Isa sendiri tdk pernah meninggalkan injil dlm bentuk buku. injil yg ada saat ini adalah salinan2 pengikut Kristiani yg baru muncul ratusan tahun kemudian. awalnya injil2 ini banyak versi. masing2 meng-klaim injilnya lah yg benar dan ajarannya lah yg benar. perbedaan ini memunculkan pertikaian antar kelompok yg berpotensi merusak stabilitas keamanan negara. akhirnya Kaisar Konstantin berinisiatif mempertemukan kelompok2 yg bertikai ini. inilah yg dikenal dg konsili Nikea pd tahun 250M. dari konsili ini dogma2 Kristiani di godok dan di putuskan dg cara voting. injil2 yg beraneka ragam versi di kumpulkan utk dipilih injil mana yg akan dijadikan patokan. dari sinilah lahir kanon pertama yg kita kenal dg injil matius, markus dan Lukas. injil Yohanes ditetapkan sbg kanon di kemudian hari.
Mohon maaf jika ada kesalahan informasi. mohon dikoreksi.
Robertus Taianus
Desember 10th, 2011 pukul 12:15
Hallo firman kafir,
dimana kamu? sudah pusing ya ngadepin debater muslimin yang pintar-pintar dan sopan-sopan berdasarkan kasih Alloh S W T ?
siti
Februari 6th, 2012 pukul 11:52
sudahkah anda merasa sempurna sehingga anda sebegitu sombongnya? kristiani memang bukan yang paling benar, agama lain pun begitu, bahkan agama anda. tapi Tuhan sama-sama menyapa kita, entah apa pun itu agama kita. anda tidak mau menerima keberagaman, sombong sekali. bahkan saya pun senang didoakan dengan cara Muslim. Kita semua bersaudara
siti
Februari 6th, 2012 pukul 11:53
sudahkah anda merasa sempurna sehingga anda sebegitu sombongnya? kristiani memang bukan yang paling benar, agama lain pun begitu, bahkan agama anda. tapi Tuhan sama-sama menyapa kita, entah apa pun itu agama kita. Tidakkah anda mau menerima keberagaman, sombong sekali. bahkan saya pun juga senang ketika didoakan dengan cara Muslim, dan agama/kepercayaan lain.
fajar subuh
Februari 7th, 2012 pukul 02:22
siti
Februari 6th, 2012 pukul 11:52
sudahkah anda merasa sempurna sehingga anda sebegitu sombongnya? agama lain pun begitu, bahkan agama anda. tapi Tuhan sama-sama menyapa kita, entah apa pun itu agama kita. anda tidak mau menerima keberagaman, sombong sekali. bahkan saya pun senang didoakan dengan cara Muslim. Kita semua bersaudara
………………………………………………………………………………………………………………………. siti ……..diskusi disini memperlihatkan siapa yg benar benar benar dan siapa yg benar benar salah, kristiani memang bukan yang paling benar,tapi terbukti tidak benar,
iin paramitha
Februari 9th, 2012 pukul 16:01
ALLAH SWT berfirman:
tidakah manusia (orang kafir) itu melihat bahwa ALLAH SWT telah menciptakannya dengan setetes air mani lalu mengapa ia menjadi penantang yang nyata untukku (surat yasin)
dengan membaca debat di sisni saya semakin yakin bahwa ALLAH SWT adalah tuhan yang haq yang duanya dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan
insya ALLAH agama islam adalah agama yang sampai meninggal yang saya peluk
kebenaranakan terungkap dengan sendirinya …